Kita Semua Keracunan Vitriol


Beberapa waktu lalu saya selesai membaca novel karangan Paulo Coelho, yaitu Veronika Memutuskan Mati. Novel kedua Paulo Coelho yang saya baca setelah The Alchemist yang begitu mengagumkan. Namun, berbeda dengan The Alchemist yang banyak menyuguhkan tentang optimisme, novel ini cenderung banyak menyuguhkan pesimisme tokoh utamanya.

Veronika, si gadis muda Slovenia bosan dengan kehidupannya lalu memutuskan untuk bunuh diri dengan menenggak obat tidur dosis tinggi di dalam kamarnya pada 11 November 1997. Veronika punya dua alasan sederhana untuk mengakhiri hidupnya. Pertama, dia merasa hidup ini akan sama saja. Dirinya akan menua, dijangkiti penyakit, ditinggal mati teman-temannya. Dia tidak akan memperoleh apa-apa jika tetap hidup kecuali penderitaan. Alasan kedua adalah dunia semakin kacau dan Veronika tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.

Namun sial bagi Veronika (atau lebih tepatnya beruntung) upaya bunuh dirinya gagal dan dia malah berakhir di rumah sakit jiwa Villete. Veronika lalu bertemu dan berkawan dengan penghuni rumah sakit jiwa. Mereka adalah penderita depresi, skizofrenia, dan berbagai penderita penyakit psikis lainnya. Di sinilah saya mengenal kata vitriol.

Dalam novel fiksi tersebut, vitriol dikatakan sebagai suatu zat yang menyebabkan hilangnya perasaan dan kemauan untuk hidup pada orang yang takut menghadapi kenyataan. Sederhananya, vitriol adalah kegetiran.

Senada dengan hal itu, dalam kamus Oxford dijelaskan bahwa vitriol berarti extreme bitterness or malice yang berarti kebencian atau kegetiran yang mendalam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga dijelaskan bahwa vitriol berarti kata-kata yang tajam atau sarkasme.

Vitriol sendiri sebenarnya adalah istilah kimia untuk asam sulfat. Sebagaimana asam sulfat bisa menimbulkan efek korosif pada logam dan destruktif pada jaringan, kata vitriol pun menjelma metafora dengan efek destruktif pula. Perkataan sarkasme, kegetiran, kebencian, adalah sumber masalah yang seringkali menimbulkan kerusakan.

Kembali ke novel fiksi Paulo Coelho. Jika melihat cerita di dalamnya, keracunan vitriol dapat menyebabkan kehilangan perasaan dan kemauan untuk hidup hingga akhirnya muncul keinginan untuk bunuh diri ataupun berujung pada kegilaan. Ya, kegilaan, seperti yang berkali-kali didefinisikan dalam novel ini. Meskipun ini hanya fiksi, saya mencoba berpikir sejenak dengan otak kecil saya. Jika vitriol di sini hanya sebatas metafora, toh tidak ada salahnya dianalogikan dalam kehidupan nyata. Dan memang saya rasa itulah tujuan metafora.

Saya sendiri merasakannya. Barangkali saya memang keracunan vitriol. Kegelisahan yang datang tidak jelas asalnya cukup membuat semangat hidup saya meredup. Beruntung masih dalam tahap ringan dan dapat teratasi sehingga tidak ada niatan untuk mengakhiri hidup seperti yang dilakukan Veronika atau Ernest Hemingway di dunia nyata. Tapi, bagaimanapun, betapa vitriol sangat tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental.

Kita semua keracunan vitriol, saya rasa. Jika melihat lebih luas, yakni pada suasana negeri kita tercinta yang tidak kondusif belakangan ini, saya kira juga karena kebencian yang melanda orang-orangnya. Orang-orang belakangan menjadi lebih mudah dipengaruhi dan digiring oleh hate speech dan kabar-kabar tidak jelas yang bersifat provokatif.

Mulai dari yang berbau politik, agama, dan isu-isu sensitif lainnya, orang-orang jadi nggak woles, mudah kebakaran jenggot. Apalagi kalau bukan karena kebencian kepada yang berbeda? Perbedaan apa? Ya, dalam hal apa pun. Kita cenderung membenci apa yang berbeda dengan kita. Misalkan, suasana jadi gaduh hanya karena masalah pengeras suara masjid, pembangunan gereja, calon presiden, pemilihan gubernur, atau sekadar artis yang pindah agama. Ya, benar. Kita semua keracunan vitriol. Jika begini terus, kita bisa gila!

Menyikapi hal ini, yang paling bijak dilakukan adalah mengurangi kadar vitriol dalam darah. Tidak ada yang lebih destruktif daripada kebencian itu sendiri. Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi lingkungan. Mungkin kita hanya kekurangan senyawa-senyawa kimia lain dalam darah untuk hidup lebih bahagia dan harmonis, seperti serotonin dan dopamin.

Like what you read? Give Asief Abdi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.