02.54
I was sitting alone in Monolog, sweeping my sight into the corner of the coffee shop, hoping someone I know sit there.
Dari semua sudut jakarta yang carut marut, Senayan adalah salah satu yang punya kenangan. Begitu berbekas, karena kenangan itu adalah lipatan pertama pada kertas yang tidak dibuka lagi selama bertahun-tahun. Dan tadi malam, adalah mengapa gue datang lagi kesini untuk menerima bahwa lipatan itu ada.
Tadi malam , pukul 1.16 di Kemang, gue sedang memandang seseorang yang sedang bercerita soal cinta lamanya yang kembali menyapa. Dari sekian malam yang kita lewati penuh gairah, baru kali ini gue merasa ini adalah saatnya gue diam dan mendengarkan. baru kali itu, gue lihat matanya berbinar dan nanar di kala bersamaan. baru kali itu, ada kata-kata yang tertahan di mulutnya karena gue yakin dia bingung untuk menggambarkan rasanya seperti apa.
Dia bilang, dia mau kembali bersama jika ada kesempatan. Sebagai seseorang yang sedang berada di sisinya, terbaring sambil mendengarkan detak jantungnya, gue yakin itu adalah keinginan terbesarnya, at least untuk saat ini. Anehnya rasa marah yang seharusnya orang seperti gue punya (karena posisi kita), tergantikan dengan rasa sedih secepat itu. Bukan karena apa yang dia proyeksikan bersama orang lain, tetapi karena gue ingin merasakan hal yang sama.
Yang gue bilang padanya “kalau kesempatan itu datang buat aku, aku bakal melakukan hal yang sama”. Iya, gue bakal kembali lagi. Gue pasti memilih untuk pulang ke tempat yang gue rasa adalah rumah gue. Kenapa gue harus pergi kalau pintu itu terbuka kembali? entah ada huru hara apa di dalamnya, gue akan tetap masuk dan mengunci pintu itu lagi dari dalam dan gue terima semua konsekuensinya.
Percakapan itulah yang membawa gue kesini, ke tempat dimana terlalu sayang untuk gue lupakan. Gue ingin mengenang jalanan senayan dimana waktu itu adalah pertama kali kita jalan-jalan keluar kota dan gue lagi flu berat. Gue ingin mengenang sudut-sudut SCBD dimana sepanjang jalan gue begitu happy menemukan pocky rasa pisang (Plis dulu masih langka di Bandung).
Tetapi, karena panas jakarta sedang minim toleransi, gue memutuskan untuk duduk di Monolog untuk menikmati sayup sayup angin air conditioner. Tapi, gak satu detik pun terlewat buat gue berharap melihat orang yang gue bayangkan sedang duduk di salah satu sudut coffee shop ini. Gue selalu berharap kesempatan itu datang, dan gue siap untuk menerimanya dengan tangan terbuka lalu kemudian memeluknya, erat (elah wkwk). I do really hope universe works that way (maunya).
