Ruang Sendiri Terindah di Banggai

Bila kita ingin tahu seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang . . .
Kita tetap butuh ruang sendiri sendiri
Untuk tetap menghargai oh rasanya sepi . . .

Cukup familiar dengan lirik lagu diatas ? Yippie, lagu keren yang dibawakan oleh salah satu penyanyi favorit saya, Tulus.

Dua minggu lalu. Tepat sebelum tahun ajaran baru di sekolah dimulai, saya merasakan kejenuhan yang amat sangat. Rasanya saya harus cepat me-recharge baterai semangat saya sebelum pulang ke desa kebetulan agenda kunjungan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai waktu itu dilaksanakan hari Jum’at pagi, jadi Jum’at sore saya bisa langsung mencari “Ruang Sendiri” tersebut.

Saya ditemani teman-teman saya di Banggai. Ferdi dan Yudi, berjalan menyusuri bukit indah di sekitar salodik bersama Bukit Country.

Awal perjalanan : Hutan Pinus

Perjalanan kami dimulai dari hutan pinus, saya sebelumnya pernah mengunjungi hutan pinus ini namun tak menyusur kedalam. Ternyata pemandangan yang ditawarkan luar biasa indah. Effort yang dikeluarkan juga tak besar, kita hanya perlu berjalan selama sekitar 1 jam 30 menit untuk sampai tempat kemping lalu ditambah sekitar 30 menitan lagi untuk mencapai puncak bukitnya.

Jalan Kaki :)
Yudi, teman perjalanan yang paling cerewet

Pemandangannya juga luar biasa indah, kita bisa melihat lautan dan kecamatan Bualemo di seberang lautan, pemandangan yang biasanya saya lihat mendatar saja sudah luar biasa indahnya, dari atas bukit ternyata jauh lebih indah lagi.

Pemandangan di tengah pejalanan

Saya benar-benar merasakan mendapat moment “ruang sendiri” ditempat ini. Tidak ada orang lain selain kami bertiga cuaca juga bagus sekali. Tidak hujan dan tidak panas menyengat ditambah kami ditemani bulan purnama sempurna malam itu.

Rasanya seperti semesta mendukung hari itu.

Pulang dari sana, energi saya kembali 80%. Saya sangat siap kembali ke sekolah. Rasanya senang sekali bisa kembali jalan kaki di Banggai.

Kumpulan bunga hutan.
Ferdi dan Yudi, teman perjalanan
Yeay, Asri di Banggai
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.