Jalan-jalan dengan Riski

Suaranya tegas

Mungil nan ganteng

Pemberani dan bebas

Lalu…

Kami berjalan

Tersenyum kecut menyeberang lintasan

Para orang baris-berbaris dan kompetisi drum band

Kala panas menyengat dan sama sekali tak takut

Apalagi dengan polisi

Betul ada polisi

Hanya angin lalu

“Jangan takut pada polisi!”

Lagi dan lagi

Pun adiknya

Yang suka sua “pepe tempe”

Berisik!!!

Bentakan yang akan terus terngiang

Hingga pulang

Berdendang pada anak-istri pekerja proyek itu

Anak-anak yang terampas ruang hidupnya itu, Bu

Para anak yang tergusur di sana itu, Nak

Seumuranmu, tapi berbeda nasib denganmu

Bolehkah aku berhenti bekerja?

Lalu tumbuh perempuan-perempuan sederhana

Kemudian lahir anak-anak yang mulia

Walau utopia

Tapi mimpi Riski sebagai seniman

Penyuka musik dan puisi

Ialah do’a-do’a yang tak pernah lekang

Oleh detik-detik

Di mana para manusia dapat makan

Dengan tenteram dalam keadilan

Bukankah begitu Tuhan?

Puisi jua perantara

Bagaimana dapati kau bersantai

Berkeluh kesah pada Ia

Lantas Ia membuat prosa

Dari puisi-puisimu menjadi realita

Betulan, Yah, berhentilah bekerja!

Anak dan istri pekerja proyek itu

Semoga demikian

Bolehkah, Tuhan?

— Menyelamatkan orang lain bukan dengan menghukum yang lain, sama seperti pembangunan untuk banyak manusia tiada boleh mengorbankan meski hanya ‘satu manusia’. Tuhan ciptakan nurani untuk satu dengan yang lainnya mengerti. Semoga Tuhan kabulkan do’a-do’a utopis sang manusia. Bukankah hanya dengan “kunfayakun, Tuhan?”

Like what you read? Give Asri Widayati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.