Ambigu Adso

Sebuah cerpen refleksi perjuangan sosialisme saat ini.

Asrul Azwar
Aug 27, 2017 · 8 min read

Adso Melek adalah namanya, punya banyak pengalaman setelah menginjak usianya yang hampir kepala dua. Pribadi yang kurang telaten, sedikit ceroboh, sembrono, bahkan sampai mencederai persaudaraannya sendiri dengan Sahavi Falak semenjak dua hari yang lalu. Entah apalagi dipikiran Adso sejak itu. Sejak dimana dirinya menjadi terpuruk karena kemalasannya. Sejak pencapaiannya disirnakan oleh pikirannya sendiri.


Dua hari yang lalu…

Pagi yang begitu surau, begitu juga dengan semangat Adso. Semangat yang tak kunjung panas. Sana sini dia mencari semangat tapi tak kunjung datang. Alih-alih menuggu datang, dirinya saja tak beranjak dari kamarnya -beranjak untuk keluar mencari pengetahuan di sana sini. Wajar saja dia tidak mampu menebar diri sana sini. Dia masih terbawa dengan romantisme kampung Ambo Rella, kampung yang memberikannya kenikmatan semata yang singkat. Sesingkat mengerjakan sesuatu entah berat atau mudah, yang kemudian setelah mengerjakannya, hanya membiarkannya saja. Itu saja. Mungkin sesingkat terima-jadi.

Lama bergulat di ranjang empuk dalam kamarnya, akhirnya Adso beranjak dari pembaringan tempat melamunnya. Yah, ranjang itu merupakan tempat dimana dia bisa bersenda gurau setelah melakukan pekerjaannya. Di sini juga tempat dimana dia bisa beristirahat panjang semalaman dan bangun kesiangan, tak lupa juga ia sering terlambat melakukan salat fajar. Sungguh disayangkan.

Teringatlah di pikirannya bahwa suatu amanah datang didekapnya untuk diselesaikan. Tapi masalah merunut di pikiran Adso. “Banyak urusan, jangan kerja dulu proyek ini!” “Mana bisa banyak amanah diselesaikan sesingkat-singkatnya” “apa bisa?”. Banyak kesesatan yang tak berujung bergelantung di pikirannnya, sehingga Adso lupa apa saja yang sudah diamanahkan oleh sahabat karibnya, Sahavi Falak.

Sahabat Adso, Sahavi pernah dijanjikan oleh Adso untuk sesegera mungkin dapat menyelesaikan “urusan bersama mereka -mencuci otak orang, dan mempropagandakan manifest miring -yang dikata oleh banyak oligarkis”. Ikatan kedua orang ini telah tersemat penuh di tiga tahun sebelumnya. Wajar saja mereka telah saling mempercayai, walaupun Adso masih berada di Ambo Rella saat itu. Mereka tetap menjaga keshahihan ikatannya sebagai sahabat.

Tatkala Adso telah beranjak dari ranjangnya, dan lama berkecimpung dengan ide khayal yang menghasutnya, akhirnya Adso lebih memilih untuk menetap di kamarnya, walaupun usaha besar yang dilakukan -yaitu beranjak dari ranjangnya- berpengaruh bagi dirinya bahwa ini sudah cukup mendatangkan semangat bangun dari mati suri. Heran saja di dalam benak terdalam Adso, bahwa sebenarnya banyak yang harus dikerjakan, tapi alam tidak sadarnya menceduk untuk tidak memunculkan pikiran idealnya tadi -membatu Sahavi bekerja keras demi mencapai cita-cita mereka bersama menjadi Manusia ideal, katanya.

Tiba-tiba, telepati Adso pun bergeming. Gemingannya membuat Adso pusing sendiri, entah berantah dia sangat frustasi dengan gemingan tersebut.

“Woi, Kerja bang!!” Telepati tersebut ternyata berasal dari telepati Sahavi.

“Lemas diriku memikirkan proyek kita, lagian proyek ini nggak ada apa-apanya. Nggak ada ngaruhnya sama sekali.” Balas Adso bergaya menggerutu.

“Apa katamu?” Geram Sahavi. “Lihat usaha kita sejauh ini! Apa kau tidak menghargainya? Lihat usaha kita sejauh ini! Sedikit lagi, cita-cita kita akan tercapai! Kau tahu sendiri kan?”

“Aku tak terima dengan kerja yang selama ini kita lakukan, walaupun proyek kita dapat menyadarkan kesadaran orang-orang sana yang ingin bersama kita; yang sepaham dengan kita -menghancurkan sistem ‘lingkaran setan’ yang membuat orang-orang disana semakin melarat, semakin menderita, padahal merekalah yang mesti makmur dan tidak menderita dan melarat (lagi) sebab usaha mereka. Justru parahnya, ada yang seenaknya saja mengutak-atik sistem tersebut, malah mendapat untung besar; merekalah yang memarajalelakan sistem ini.” Lanjut Adso “ Aku muak dengan ini semua, Sahavi! Tidak mampu kulanjutkan perjuangan ini. Mana mungkin kita bisa menyelesaikan ini semua dengan berdua saja, merebahnya ke semua orang agar mereka sadar kalau mereka ada di dalam sistem itu, dan membuat mereka menyikapinya secara mandiri karena mereka ada dalam sistem itu, Sahavi! Mustahil!”

“Sabar” Sahavi meredam “tunggu dul…” sebelum memberi titik, Adso memotong.

“Kau tahu? Bisa jadi orang-orang di sana telah terbiasa dengan sistem ini, makanya mereka tetap menjalankan sistem ini, walaupun (menurut kita) tereksplotasi tenaganya demi menumpukkan keuntungan para tuan ‘wang-wang’. Orang-orang disana tidak merasa dimurkahi amat kok, walau sistem ini terus berjalan. Malahan mereka justru termotivasi juga untuk mengikuti para tuannya. Lihat saja disana, para tetua kita terus menasihati kita ‘bekerjalah nak, kau harus mandiri, buat orang tuamu bangga dengan bisa berpenghasilan sendiri, dengan menjadi tuan wang-wang malah akan lebih baik lagi, kau akan bisa menghidupi dirimu, sanak keluargamu, dan orang terdekatmu kelak nanti’”.

“Apa katamu!” Naiklah pitam si Sahavi “sudah kukatakan dari dulu, di zaman tetua memang hal ini yang dibanggakan karena mereka belum sadar kalau ternyata mereka sedang diperas, mereka hanya memikirkan sisi yang dianggapnya positif tanpa mempertimbangkan sisi lainnya yang malah akan memunculkan ‘lingkaran setan’ yang nyata dan terbukti mudah kita lihat sekarang ini -kemiskinan semakin marak di kalangan orang-orang di sana dengan tuan wang-wang semakin kaya; jelas ada ketimpangan kau lihat, Adso!” Lanjut Sahavi “Iya Adso. Wajar saja kau berpikir seperti itu sekarang, kau baru saja keluar dari kampung Ambo Rella-mu yang kau tinggali dulu. Kampung dimana tuan wang-wang melakukan monopoli dan semaunya saja mengeksploitasi sumber daya alam di sana. Parahnya, kau pun tidak sadar kalau kau juga sedang dieksploitasi Adso; percuma saja sejak dari dulu kau bekerja sama denganku kalau dirimu saja ‘terhalusinasi’ dengan giuran tuan wang-wang yang hanya berupa beberapa carik kertas aneh yang wujudnya tidak dapat membalas usaha kerasmu; mana bisa uang yang wujudnya hanya kertas membalas keringat bercucuran, mestinya ‘bekerja’ dibalas dengan ‘bekerja’, bukan ‘bekerja’ dibalas dengan ‘uang’ ” Sahavi kembali meredakan amarahnya, demi merendahkan tensi konflik diantara sahabatnya ini. “Walaupun kau dapat membahagiakan orang yang ada disekitar mu tapi belum tentu kau membahagiakan orang yang sepenuhnya perlu dibahagiakan -mungkin saja ada disekitarmu- sebab kebahagiaan mereka sendiri ‘direnggut’ melalui banyak cara. tanah mereka diambil dengan legitimasi yang buntung lah, tenaga mereka dieksplotasi habis-habisan lah; dan bisa jadi kau adalah tuan wang-wang itu kelak sebab nasihat tetuamu tadi.”

Adso pun terpaku dengan ucapan Sahavi, sedikit berpikir bahwa dirinya perlu menyesuaikan diri lagi dengan proyeknya bersama Sahavi. entah apalagi yang ingin dikatakan Adso. dia hanya termenung semnetara waktu. Pikiran Adso sedikit terbuka dengan ‘ceramah singkat’ si Sahavi.

Akan tetapi, bersitan pikiran menuju ke sebuah dugaan bahwa akan ada bencana besar bisa terjadi esoknya. Hanya pikiran yang terbersit dari Adso saja.


Satu hari yang lalu…

Pagi menyambut si Adso yang kembali bangun dari pembaringannya lagi. seperti biasa, dimulai dari malasnya bergerak, karena telah asyik masyuk dengan keempukan pembaringannya dan akhirnya bangun bergerak dari pembaringannya untuk membasuh mukanya yang masih sedikit masam sebab pertengkarannya dengan Sahavi Falak.

Sempat diingatan Adso kembali mengulas hakikat perjuangannya, yaitu inti dari perjuangannya, mengapa mereka ingin menempuh jalan perjuangan ini. Dipikiran Adso, meyakini hanya jalan ini satu-satunya yang dapat ditempuh untuk memenuhi revolusi -dimana ketidaksetaraan derajat, entah itu harta maupun strata akan bisa disederajatkan.

Pikiran Adso sedikit mengingat bahwa ternyata dia kembali tertegun dengan nasihat tetuanya. Adso pun bertanya pada dirinya “apakah nasihat tetua memang salah yah?”. “Mungkin saja tidak, dibeberapa hal memang itu tidak sepenuhnya salah -kita memang perlu menghidupi diri kita dengan sesuap nasi seikat buras, atau pun sebaskom bakso, yang intinya kita bekerja untuk menghidupi kebutuhan utama dengan wang yang kita miliki dan sesuai dengan kebutuhan. Tapi yang perlu ‘dikelirukan’ adalah (sekali lagi) sistemnya yang mengakibatkan ketertarikan manusia terhadap kebutuhan semakin serakah, bahkan wang-wang dijadikan sebagai penumpuk kekayaan. Padahal sebenarnya, wang-wang itu mesti ‘disedekahkan’ kepada yang memerlukan.

Itulah sebersit pikiran yang muncul dipikiran Adso. Yang kini kembali mencari jati kebenaran dalam perjuangannya bersama Sahavi. Perlu bagi Adso kembali memikirkan sampai sekuat mana ia bisa berjuang, sampai dimana dia bisa berpihak pada perjuangannya, karena dirinya sendiri perlu menyesuaikan diri kembali dengan apa yang telah ia perjuangkan, sebab dirinya masih belum bersih dari antek-antek kampung Ambo Rella-nya. Dan jangan sampai perjuangan yang ia jalani diperoleh dalam prosesi berpikir yang singkat sesingkat terima-jadi -hanya diberikan sedikit percikan ceramah atau bahasan tiba-tiba langsung diterima saja tanpa memikirkan kembali serta mencari hakikatnya.

Kini Adso pun sedikit demi sedikit bisa mencerna substansi perjuangannya.

Sembari memikirkan substansi perjuangannya, tiba-tiba ketukan pintu depan rumah mengagetkan Adso, sampai-sampai Ia tersentak di pembaringannya. Tak tahu suara apa bisa yang meremuk kekhuyukan berpikir Adso itu. Tapi ketukan itu membuatnya sedikit jengkel karena menganggu meditasinya demi pengayaan perjuangan yang seideal mungkin. Ketukan yang sangat keras bunyinya.

“Tok tok tok”. Ketukan semakin keras, dan Adso semakin mendekat ke pintu depan rumahnya. Adso yakin kalau yang datang adalah Sahavi, yang mengetuk-ngetuk pintunya semakin keras, seiring api semangatnya untuk membungkam antek-antek Ambo Rella yang masih berada di benak Adso.

“Hai Sahav…” selang mengucapkan salam menyambut tamu, tiba-tiba mulut Adso diam membeku, disertai tatapan kaget dan kaku membelalak ke wajah tamunya yang datang.

“Maaf, kami dari reserse aparat keamanan. Maksud kedatangan ini untuk menangkap anda. Anda dituduh tersangka karena berusaha merusak citra pemerintah kerajaan.” Jawab salah seorang dari lima aparat keamanan yang bergerombol di depan rumah Adso.

Jantung Adso pun berdetak, seolah-olah dia sudah ingin dihukum mati. Habislah akal Adso karena tekanan mental yang menghantamnya sebab melihat segerombolan polisi serta mobil angkut untuk para penjahat dibawanya di depan rumah Adso. “Tapi pak…apa bukti bapak menuduh saya seperti itu?” Bela Adso untuk memastikan.

“Ini berdasarkan dari laporan banyak warga disekitar sini. Katanya anda ingin mempropagandakam sistem yang berbahaya bagi kerajaan”. Lanjut si Aparat keamanan tadi “ayo ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lanjut”.

“Tapi pak… ini belum jelas dan…”

“Pokoknya ikut kami dulu” bentak si salah seorang aparat keamanan.

Adso pun ditarik secara paksa oleh reserse aparat ‘penguntit’ tadi. Secara paksa juga ia mengeluarkan jiwa ‘perlawanannya’ -merengek dan berusaha melepas tangannya dari genggan polisi. “Jangan dulu pak, ini pasti ada salh sangka” sembari membentak si aparat itu dengan teriakan yang keras.

Tapi apalah daya Adso yang bertubuh sedikit pendek dan kurang segar sebab ia baru bangun dari tidurnya tadi. Ia akhirnya pasrah dibawa ke kantor aparat untuk diperiksa.


Malam hari ini…

Jeruji besi yang ada di kantor tahanan politik terlihat sudah surau di malam hari. Aparat semuanya telah beristirahat dan ada beberapa menjaga Jeruji besi tetap Aman.

Adso saat ini tertegun selama dua hari di jeruji besi sebab tindakan dan ulahnya. Kini ia berusaha mengulas kenapa dirinya bisa tertangkap sedang Sahavi belum ditemukan saat ini. Pikiran Adso sangat kacau kala malam ini.

Mungkin saja, menurut pikiran Adso, hal ini terjadi karena niat Adso yang masih belum penuh hati untuk menjalankan revolusi ini. Sehingga gerak-geraknya pun masih terbata-bata dan mampu diketahui oleh aparat. Kalau saja pemantapan strategi telah rampung dibenak Adso, maka ini tidak terjadi. Lihat saja si Sahavi, sampai saat ini masih cekatan dalam memainkan perannya. Yah, karena dia bersungguh-sungguh untuk beraksi

Kini (sekali lagi) Adso merana di dalam penjara. Begitu iri juga dengan Sahavi Falak yang berpendirian teguh serta berusaha keras untuk mewujudkan dunianya yang ideal itu. Entah apalagi yang bisa diperbuat oleh Adso jika disekitarnya hanya besi dan tembok, tiada siapa-siapa lagi.

Tiba-tiba sontak terdengar di telinga Adso ada yang datang dari kejauhan. Tapi pandangan Adso belum menjangkau kedatangan tersebut. Semakin mendekat semakin penampakan itu mendekat ke jeruji Adso. Dan Akhirnya Ia mendekat. Sosok yang tampak di penglihatan Adso adalah orang yang tidak asing.

“Hai kawan, masihkah kau ingin kembali bersamaku untuk berjuang lagi?” Sahavi secara tiba-tiba datang untuk menarik Adso berjuang lagi.

)

    Asrul Azwar

    Written by

    Sheila on May

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade