…”There must be no oppression”. he said…

Galesong yang dijodong

Geumuruh gelombang suara berkoar disana-sini, suara marah, suara geram, suara murka, semua suara amarah mengaum di jalanan, mulai dari kalangan kawulah muda, remaja riang, baru besar, sampai tante dan om-om tua yang tak terseok usianya karena semangat apinya. Jalanan di seberang kiri di penuhi sesak orang-orang tadi hingga tak satupun pengendara acuh mengikuti jalurnya; terpaksa saja si pengendara acuh secara serakah mengambil bagian jalanan si pengendara acuh di sebelah kanan.

Orang-orang pun berarak-arakan mengacungkan kepalan tangan kirinya sambil mengeluarkan suara amarahnya. Mereka murka karena sang eksekutor tak berbuat apa-apa, hanya “menerima jadi” apa yang disuap oleh si lintah darat. Si eksekutor dengan gampangnya menyeruak masuk langsung sambar ke “ardhi” orang-orang, membukakan jalan untuk si lintah darat, mengambil harta kebutuhan orang-orang untuk diolah menjadi harta kekayaan si lintah darat dan si eksekutor. Mereka mencuri ardhi orang-orang itu. Semakin mereka mengeraskan kepalan dan suaranya maka semakin marahlah orang-orang itu.

Tak lupa juga beberapa dari mereka menenteng pengeras suara disertai dengan mobil pick-up yang dinaikinya. Sesekali mereka bersuara untuk menjaga amarah orang-orang agar semangat mereka masih berapi untuk melawan sang eksekutor. Sesekali juga mereka menyebar sana-sini agar pergerakan mereka tidak mudah dipatahkan oleh binatang piaraan si eksekutor.

Lama berkoar dan berjalan di sepanjang jalanan, Orang-orang pun berhenti di hunian si eksekutor, hunian itu dipakai oleh si eksekutor untuk memperlancar pengelolaan gelontoran “wang-wang” dari sekian banyak lintah darat; entah sampai kapan si eksekutor ini habis puasnya. Selang berhenti pula, orang-orang pun berkoar didepan hunian itu, membawa panji-panji amukan, dan tentengan amarah bertuliskan “kami menolak penanbangan pasir”.

Orang-orang berteriak di depan hunian itu, agar si eksekutor cepat-cepat keluar menemui dan bertindak untuk turun menyerahkan semua “wang-wang” dan hasil curian ardi diserahkan ke orang-orang yang memilikinya.


Mungkin seperti itulah gambaran yang terjadi saat masyarakat pesisir nelayan galesong dan sekitarnya melakukan aksi di kota kab. Takalar pada hari rabu kemarin (19/7/17).

Masyarakat pesisir pantai galesong sampai saat ini berjuang untuk menghentikan penambangan pasir di lepas pantai galesong, karena hal tersebut menuai banyak keresahan masyarakat pesisir pantai. Baik dari segi ekonomi masyarakat, maupun segi lingkungannya.

Masyarakat pesisir saat ini telah banyak berhenti dari pekerjaan utamanya sebagai nelayan. Diperkirakan sekitar 80% yang berprofesi sebagai nelayan akhirnya berhenti melakukan aktivitas di laut setelah terjadi penambangan pasir tersebut. Hal ini terjadi karena biota-biota laut susah untuk ditemukan lagi akibat ekosistemnya yang terganggu oleh aktivitas tambang laut. Sehingga banyak dari nelayan di pesisir pantai merugi dari aktivitas nelayannya.

“Nelayan mengalami kerugian. Modal melautnya semalam sekitar 300–500 ribu sedangkan penghasilannya hanya sekitar 60 ribu”. Ujar Nurlinda Dg Taco saat konferensi pers di LBH Makassar.

Belum lagi dari segi lingkungannya, pembangan pasir laut di lepas pantai galesong mengakibatkan terjadi abrasi pantai, lumba-lumba ditemukan mati terdampar di pantai galesong, dan sekitar 60 % terumbu karang yang ada di laut sekitaran galesong raya, tanakeke, sanrobone dan sanrobengi terancam akan punah.

“Penghancuran-penghancuran” yang ada diatas tidak terlepas dari aktivitas megaproyek Centre Point of Indonesia (CPI) yang ada di sekitar lepas pantai pantai losari, Makassar. CPI sendiri memang membutuhkan banyak reklamasi, makanya membutuhkan banyak materil uruk untuk direklamasikan demi menopang infrastruktur-infrastruktur yang nantinya dibangun dalam megaproyek CPI. diketahui bahwa wilayah-wilayah yang ditambang oleh CPI berada di sekitaran makassar, salah duanya adalah pulau gusung yang berada di kecamatan Lae-Lae, Makassar dan lepas pantai Galesong.

Dua area tersebut dikeruk sudah lebih dari ribuan ton berat materiilnya. Bisa dibayangkan betapa masifnya pengerukan pasir demi membangun sentrum kota yang hanya diekslusifkan untuk para masyarakat oligarkis-kapitalis. Pulau gusung dan daerah lepas pantai galesong kini sudah mencapai titik degradasi lingkungannya, bukan? Yang sebenarnya merupakan tempat bermukim mereka, yang sebenarnya tempat bermatapencaharian mereka, toh disingkirkan oleh kongkalikong “si eksekutor” dan “si lintah darat” yang disebutkan diatas tadi.

Pergulatan antara si eksukutor dan si lintah darat akan terus bermain hingga perjuangan yang berbau revolusioner tiba. Kebangkitan dari kesadaran semu menuju ke kesadaran kritis akan muncul. Dan semua itu tidak lain pasti melewati beberapa fase pengalaman-pengalaman nyata yang langsung dirasakan sebab oknum yang mengopresi. Maka sediakanlah amunisi semangat untuk menyadarkan mereka yang masih berleha-leha dengan kekayaan materiilnya, yang masih berfoyafoya diatas penderitaan kaum mustadh’afin.

..Sebab bumi sedang digumal, maka pribumi pun harus bergerak…
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Asrul Azwar’s story.