Lagi. Sebaris kalimat yang awalnya terdengar biasa saja, namun kini menimbulkan kalut. Dulu aku mengira diperlakukan seperti itu adalah hal yang tepat. Namun sekarang aku sadar justru yang membuat kesehatan mentalku fluktuatif adalah karena perlakuan tersebut.

Hal yang paling miris adalah, aku sadar sepenuhnya bahwa keluargaku tidak akan pernah menjadi sistem penopang yang baik. Seberapapun keras mereka berusaha untuk mencoba.

Mereka tidak mengerti aku terus menerus dilanda kecemasan yang menghantui sudut pikir. Kewalahan memerangi energi negatif yang membuatku depresif. Karena aku memang sesensitif itu terhadap energi lingkungan sekitarku.

Aku mengerti bahwa mereka memang tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak bersalah. Aku pun tidak. Ini semua hanya soal perputaran takdir dan perjudian nasib.

Namun aku tidak menyanggah bahwa aku sering berandai-andai, entah kapan dan bagaimana, keluargaku bisa mengerti kondisiku. Dan menerimaku apa adanya. Sebuah imaji yang utopis, memang. Tapi semua orang boleh bermimpi, bukan?

Semoga kalian berdua bisa mengerti, suatu saat nanti. Karena aku yakin, jika Dia masih di sini, hanya ia sendiri yang mengerti kondisiku.

Love, from a (dys)functional daughter and sibling
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.