Russian Roulette

Dingin bilah pelatuk yang mengarah ke pelipis kontras dengan hangat kulit; degup jantung terasa menjalar dipicu adrenalin; kulit meremang akibat pandangan berbayang.
Rasanya seperti tak bisa terbangun dari mimpi terburukmu.

Setiap hari aku berjudi hanya dengan bermodal keberuntungan, lalu menjadikan kewarasan sebagai taruhannya. Sepersekian detik setelah aku menarik pelatuk adalah masa paling krusial. Entah hari tersebut berjalan seperti biasa atau justru membuatku hampir gila.

Di hari-hari saat pistol hanya mengeluarkan lengkingan angin, segalanya terasa normal. Terlalu normal hingga aku mempertanyakan apakah permainan Russian Roulette yang selalu kubayangkan benar-benar ada atau tidak.

Di hari lainnya, pistol tersebut melontarkan peluru imajiner. Menghantam pikiran sekuat tenaga, tak menyisakan ruang untuk akal sehat. Di hari-hari itu, aku seperti hidup dalam sekat-sekat kaca. Semua suara yang kudengar menggema dan melambat, seakan semuanya terjadi di dalam air. Semua yang kulihat terdistorsi oleh pikiran-pikiran yang menggelayuti benak.

Saat hari berakhir, pilihan yang tersedia hanya ada dua; tidak melakukan apa-apa atau menyiapkan diri untuk berjudi lagi esok hari. Seperti manusia lainnya yang terpikat pada Kotak Pandora, tentu aku memilih opsi yang kedua. Karena selalu ada harapan bahwa aku dapat memenangkan pertaruhan esok hari.