100 Tahun : Pencapaian dan Kegagalan

100 tahun lalu sebuah tonggak berdiri. Untuk kesekian kali, suatu revolusi merubah total lanskap dari sebuah negara. Tetapi, revolusi ini sendiri merupakan revolusi yang sangat revolusioner, bukan hanya karena menginspirasi para pejuang di abad 20, namun juga dampak yang timbul karena api yang dibawa oleh revolusi kali ini.

Nyatanya, dunia kala itu masih tersedot dengan perhatian pada The Great War. Jerman dan Wangsa Habsbrug Austria-Hongaria sedang terhimpit antara Perancis-Inggris di barat dan Rusia yang mendukung Serbia pada akhirnya bisa menuju titik perang setelah masalah jalur kereta api terselesaikan di timur. Belum lagi pada akhirnya Presiden Wilson mengingkari janji pemilunya dengan menurunkan serdadunya untuk membantu saudara tua-nya.

Tiba-tiba di awal tahun ketiga perang, luapan akumulasi amarah rakyat membawa Tsar ke jurang kekuasaannya. Hal ini menggemparkan dunia. Konstelasi politik dan sosial Rusia tentu saja berubah. Para aristokrat pendukung Tsar Nicholas II pun berhamburan menyelamatkan diri dari St.Petersburg (sempat berganti nama menjadi Leningrad dan Petrograd) menuju Amerika Serikat, Belanda atau Inggris melalui Finlandia dan atau Swedia (seperti yang digambarkan film Dr.Zhivago dan Anastasia, dimana di film terakhir dikisahkan dengan animasi Pixar sang putri Tsar yang berhasil lolos dan bermukim di Paris). Di awal tahun itu, para kadet dan aristokrat yang sedikit liberal menguasai pemerintahan, dengan meninggalkan rekan mereka yang sosialis.

Dimana-mana rakyat yang sudah muak dengan kemiskinan antusias dengan perubahan ini, tentu saja dengan sedikit kesedihan –mengingat ayah, suami, saudara mereka masih bertempur. Tapi, realitanya perubahan tidak berarti selama musim panas. Di tengah situasi yang kacau, pemerintahan provinsial enggan untuk merubah status quo, agar keadaan kacau tidak justru bertambah kacau. Status quo nya adalah kekacauan.

Lalu Lenin kembali dari Inggris, dan Trotsky kembali dari Amerika. Sosok pemimpin bagi kelompok kiri yang semula seperti kosong pun diisi dua tokoh ini. Gerakan dan konsolidasi dimulai dan semakin intens, hingga pada akhirnya bersama Red Army, kaum Mayoritas (Bolshevik dalam bahasa Rusia) menyerbu St.Petersbug pada 25 Oktober 1917 (sistem kalender Julian). Inilah tonggak awal, dimulainya kaum kiri menguasai bekas kekaisaran Rusia yang terbentang dari St.Petersbug hingga Siberia. Mulai di saat itu, komunisme menjadi corak tersendiri pada dunia abad 20.

Tapi bukan berarti, sistem komunis mencengkram kuat dalam jiwa orang Rusia. Bagi orang awam, yang sudah berabad-abad dalam monarki absolut, istilah liberalisme dan komunisme adalah hal yang awam. Feodalisme masih tertanam dalam gambaran suatu negara dengan tuan tanah dan rakyat jelata. Rakyat Rusia yang muak dengan kemiskinan tadi menelan mentah saja ide-ide kiri yang sangat baru ini. Begitu pula para prajurit yang kelaparan. Dan gebrakan yang dilancarkan pada awalnya memang terlihat ingin memakmurkan rakyat. Para komunis yang beranggapan Perang Eropa hanya pertarungan antara para kapitalis saja dan tidak berhubungan dengan buruh, menandatangani perjanjian damai dengan Jerman.

Perlawanan pun muncul dari mereka yang mengaku sebagai kaum putih, sebagai lawan dari kaum merah (hampir sama seperti Serikat Islam yang disusupi kaum Komunis). Kaum putih ini beranggotakan siapapun yang bukan komunis : bekas aristokrat, kaum semi-borjuis, otoritas Gereja Ortodoks, dan kaum tanpa ideologi tapi benci komunis. Selama 4 tahun, Rusia terjerumus dalam perang saudara. Yang menarik, dalam krisis ini, Lenin masih sempat-sempatnya mendorong kaum merah Finlandia untuk berhadapan dengan kaum putih Finlandia tentu saja (terima kasih kepada rentalan dvd dekat rumah yang mengkoleksi film Taistellu Nailinnasta 1918, agak kurang rapi dari segi cerita, namun cukup menggambarkan juga perang saudara di Finlandia).

Baru pada tahun kedua dari the Roaring 20s, kaum Bolshevik mencapai tujuan mereka dan meresmikan nama Uni Soviet (Soviet berarti Dewan Buruh), yang bertahan selama 7 dekade. Awal menuju ide sosialisme sejati Karl Max ini tidak bisa dilihat oleh Karl Max, yang membayangkan awal revolusi ini bermula di negara industri dengan mayoritas buruh seperti Inggris atau Jerman, bukan tempat jin buang anak kaya di Rusia.

Ketika komunis makin dalam menuju perut Rusia, para komunis yang kegirangan dengan keberhasilan mereka berupaya menaikkan gengsi Komintern, dan menyebarkan paham ini ke seluruh dunia. Rusia menjadi kiblat komunis. Namun, sebenarnya sebelum keberhasilan ini, partai komunis sudah bermunculan dimana-mana : Eropa Barat, Inggris, Amerika dan juga di Asia seperti di Cina dan Indonesia. Ide baru, dengan mengusung dan membela rakyat kebanyakan menjadi madu yang menggiurkan di mata para buruh. Situasi sosial pasca malaise lah yang menguntungkan gerakan kiri untuk semakin berkembang di sudut manapun belahan dunia ini selama masih bisa ditinggali.

Rupa-rupanya target awal komunis adalah Eropa Barat. Jerman target besar pertama : gagal. Partai kiri terlalu ribut dengan kanan, hingga partai ekstrem lah yang unggul hanya dengan 35% suara. Spanyol target besar kedua : gagal lagi. Kelompok-kelompok kiri yang begitu banyak, entah yang Stalinis maupun bukan, nyatanya kalah melawan militer tangan besi sang Jenderal Franco. Penyebaran tersendat saat Uni Soviet kewalahan dengan serbuan Jerman. Namun, kegagalan Jerman, menjadi titik balik komunis. Churchill yang curiga sedari awal, gagal untuk meyakinkan rekan Amerika mereka bahwa keberhasilan pengibaran palu-arit di puncak Reichstag akan berdampak serius. Dan, ya memang serius bahwa separuh eropa bagian timur kemudian sesuai dengan permainan Stalin : dalam rengkuhan komunis.

Begitu berhasil di Eropa, Komintern baru serius untuk keluar dari Eropa. Percobaan pertama tentu saja China, yang berhasil dengan gemilang menyingkirkan Kuomintang. Diikuti Kim Il Sung di Korea Utara. Sebelumnya, Mongolia sudah jauh-jauh hari berhasil diambil oleh kaum kiri. Dan ada juga terselip dalam lembar sejarah percobaan Musso yang gagal di Indonesia. Dari Asia Timur bergerak ke Amerika Latin. Kuba yang hanya berjarak 140 kilometer saja dari Amerika berhasil menggulingkan Batista. Iklim politik dan sosial Amerika Latin sangat menerima dengan ide-ide kiri. Guatemala. Venezuela. Argentina dengan peronistas yang sangat berbau sosialis. Kolombia, yang mana kaum komunis pernah bekerja sama dengan Pablo Escobar.

Berbalik ke dunia lama, dalam region Asia-Afrika banyak negara-negara yang akan merdeka, bergejolak untuk menentukan arah dasar sehingga kaum kiri mulai tampak ke panggung. Indonesia, Somalia, Yaman, Kongo, Iran, hingga Vietnam. Dimana-mana suasana Amerika dan Soviet yang saling membelakangi dalam setiap konflik yang terjadi sangat terasa. Salah satunya konflik Israel dan Dunia Arab, dimana pada awalnya Soviet mendukung Israel, lalu berbalik mendukung Arab.

Namun lambat laun, kegagalan komunisme mulai tampak. Setelah akhirnya tertinggal dalam perang luar angkasa, Soviet juga kalah dengan Afganistan, yang sudah berabad-abad tidak pernah dijajah. Semangat jihad mereka berhasil menghalau gelontoran kyat dari Soviet. Secara sistem, sistem kiri pun tidak berubah, dari rezim totaliter yang mengekang kebebasan individu, tidak ada gerak gerik menuju sistem tanpa negara seperti sosialisme sejati. Rakyat hanya bisa terdiam dan gerak gerik mereka dibatasi.

Dan tibalah kehancuran itu. Runtuhnya tembok Berlin diikuti runtuhnya Soviet secara keseluruhan. Terima kasih untuk Gorbachev atas keterbukaannya. Usai sudah masa-masa kejayaan kaum kiri.

Namun kaum kiri masih ada. Hingga saat ini. Beberapa negara komunis seperti Kuba, Vietnam, China dan Korea Utara masih setia dengan warna merah. Kaum kiri sosialis juga masih eksis di Amerika Latin. Bahkan di Palestina pun juga ada partai berhalauan kiri. Di Eropa, partai buruh bertumpang tindih dengan partai konservatif juga masih bersinggungan dalam pemerintahan.

Dan negara kita? Alergi terhadap Partai Komunis sudah mengakar begitu dalam dari urat nadi manusia nusantara. Tak akan ada partai beraliran kiri, walaupun bukan komunis, yang berani untuk menhunjukkan diri di muka umum. Madiun dan gestapu telanjur menyakiti hati rakyat yang digiring untuk membenci oleh kelompok-kelompok yang dahulunya diganggu dan ditindas oleh PKI. Gestapu sendiri masih simpang siur, tapi jika gerakan ini berhasil, dan PKI unjuk diri, maka sudah pasti perayaan ini akan melengkapi perayaan ke-48 Revolusi Oktober kaum Bolshevik. Prestise PKI di mata Komintern akan naik pesat. Mengapa tidak menunggu untuk mempersembahkan saat ulang tahun emas, saya tidak tahu. Mungkin situasi politik yang begitu tak teratur membuat mereka tidak bisa menunggu hingga 2 tahun lagi.

Bagi generasi X,Y dan Z sendiri yang tidak mengalami secara langsung tentu tidak semua menelan mentah kebencian terhadap PKI. Ibarat pornografi, semakin dilarang mereka akan semakin penasaran terhadap ide-ide kiri. Kebijakan represif Orde Baru akan menjaga rasa penasaran itu, yang akan diluapkan pada saatnya ketika Orde Baru tumbang.

.

Abad ke-20 adalah abad percobaan. Jika dimana abad-19 merupakan kebangkitan segala pemikiran isme-isme yang terbentuk secara ide dan logika, maka abad-20 merupakan eksperimen dan implementasi. Dari percobaan ini, hampir dipastikan komunisme gagal dimana-mana, yang membawa pertanyaan, apakah bayangan sosialisme sejati ala Karl Max hanya teori yang terbukti tidak bisa direalisasikan? Yah, jawab saja : bukan urusanku. Gitu aja kok repot kalau kata Gusdur.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.