EKSISTENSI

Hafidz Fikri Asyari
Sep 9, 2018 · 1 min read

Saya ingin dikenang dengan "apa yang telah dilakukan oleh Hafidz Fikri Asyari" bukan "gimana wajah Hafidz Fikri Asyari"

Semalaman berbicara mengenai eksistensi dan narsis dengan kedua teman saya, Pandu dan Renno membuat saya kembali berpikir tentang eksistensi saya, terutama di fakultas. Pemikiran ini muncul ketika Pandu skeptis tentang eksistensi dan narsis. Dia ingin menjadi orang yang berguna tanpa orang lain tau kalau itu berasal dari dia. Sesimple "aku lupa wajahnya simbahku, tapi aku inget apa yang beliau lakuin".

Jujur, saya mengalami masa-masa ingin dikenal dan eksis di fakultas. Tapi pemikiran tersebut berubah ketika saya gagal dengan ambisi saya pribadi di tahun ketiga. Percuma ingin dikenal dari fisik saja kalau aku ada di FPP tapi tidak punya karya. Tidak punya sesuatu yang ditinggalkan dan bermanfaat. Karena masa hidup di fakultas hanya 4 tahun. Kita akan dikenal dari fisik, hanya oleh 4 generasi saja. Tapi, kalau berbicara tentang karya yang ditinggalkan dan bermanfaat untuk lingkungan, bisa jadi kita dikenang selamanya. Dikenang karena kebermanfaatan dan karya yang kita tinggalkan.

Saya mengakui sendiri, ada sebuah kepuasan batin ketika saya sengaja menghilangkan diri secara fisik, tapi masih ada yang bertanya atau konsultasi kepada saya karena mereka bilang, saya bisa diajak sharing akan hal itu. Dan suatu saat kamu akan dan pasti akan menyadarinya.

Jika ingin dikenal, bikin keonaran, duduki jabatan, menang lomna bergengsi. Jika ingin dikenang, buat sebuah kebermanfaatan untuk Fakultas.

Hafidz Fikri Asyari

Written by

Last year student of Agricultural Departement, Diponegoro University, Semarang