Membenci

Membenci sesuatu atau seseorang adalah wajar-wajar saja. Bahkan, membenci sesuatu atau seseorang tanpa alasan pun juga wajar-wajar saja, sebab perasaan benci adalah hal yang lumrah dialami oleh semua manusia yang berperasaan.

Membenci dalam batas kewajaran itu normal. Yang nggak sehat justru membenci tanpa mau berhenti membenci. Kebencian terhadap sesuatu atau seseorang pada umumnya akan surut seiring berjalannya waktu, kecuali jika kita terus memupuk dan menyuburkan kebencian itu setiap hari.

Jika saya membenci sesuatu, maka saya akan membencinya dengan sepenuh hati hingga batas waktu tertentu dan saya merasa bosan atau tersiksa karena perasaan benci saya tersebut. Kemudian saya akan bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya membenci hal tersebut?”

Kalau saya belum mengetahui alasan kenapa membenci, maka saya akan merasionalisasi perasaan benci tersebut dan mencari tahu asal usulnya. Singkatnya, saya menghakimi diri sendiri secara objektif. Pada kebanyakan kasus, setelah mengetahui penyebab dari rasa benci — maka perasaan benci tersebut akan berangsur-angsur hilang dengan sendirinya, sebab manusia secara natural memang nggak menyukai yang namanya membenci sesuatu atau seseorang.

Nggak ada gunanya menganggap perbuatan membenci sebagai sesuatu yang jahat dan ‘berasal dari luar’ atau sebenarnya benci tapi berpura-pura tidak benci, karena biasanya penyangkalan seperti itu malah memperlama proses berhenti membenci. Kita seharusnya memahami bahwa manusia memiliki kemampuan untuk merasakan benci dan bahwa sesekali kita pasti akan membenci sesuatu atau seseorang. Kebencian adalah perasaan dan seperti semua jenis perasaan lainnya, kita harus belajar untuk mengendalikannya.

Jadi, kalau mau membenci, ya benci saja, sepanjang kebencian itu masih bisa dikendalikan dan tidak terus-terusan dipupuk, sebab kebencian adalah sesuatu yang lebih menghancurkan ke dalam daripada menghancurkan ke luar. Bencilah apapun yang ingin kalian benci, tetapi yah jangan lupa untuk berhenti membenci dan kembali mencintai.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.