Memperjuangkan Eksistensi Agama

source: watchtheyard.com

Terhitung sejak oktober sampai desember ini, topik hangat tentang Ahok dan kasus penistaan agama belum padam. Di media, kampus, maupun di dalam rumah saya terus menerus membicarakan Ahok. Jujur, saya jenuh menghadapinya. Tetapi saya tidak apatis terhadap masalah tersebut, namun saya juga tidak ingin sok tahu dan menggurui seakan-akan saya seorang pakar. Bukan begitu yha, saya cuma ingin menanggapi masalah tersebut dengan beropini sesuai kapasitas nalar saya. Hahanjay

Beberapa respon netizen terhadap kasus Ahok menyatakan bahwa agama sebagai akar konflik yang terjadi selama dua bulan terakhir. Contohnya salah satu teman saya yang sangat anti agama. Ia merasa persetan masa bodo dengan agama — termasuk dengan agama “ktp” nya. Merasa malu dan muak dengan konflik antar agama yang selalu melibatkan agama “ktp” nya itu, teman saya secara mantap melabeli diri dengan agnostik. Ia merasa pilihannya adalah keputusan yang benar dalam hidup ini. Terkadang, saat bercengkrama dengan saya pun, ia melontarkan opini-opininya tentang baiknya untuk tidak beragama serta meremehkan orang-orang yang beragama. Saya menghargai keputusan dia untuk menjadi agnostik. Jika keputusan ia untuk menjadi agnostik adalah jalan yang “baik dan benar” untuknya, yaudah, saya dukung lah. Toh, dia yang meyakini kepercayaan tersebut.

Yang menjadi inti pokok dari tulisan ini adalah sikap netizen — termasuk teman saya — yang selalu membuat agama menjadi kambing hitam dan keputusan untuk menjadi agnostik adalah pilihan hidup yang benar dibandingkan yang beragama. Mereka mengklaim dengan menjadi agnostik ataupun atheis akan lebih manusiawi dan terlepas dari hal-hal buruk yang disebabkan dogma agama. Mereka tidak sadar bahwa semua orang berpotensi untuk menjadi baik dan buruk terlepas beragama atau tidak beragama. Kualitas nalar empatilah yang menentukan sikap baik buruk.

Mereka sendiri juga sebenarnya tidak tahu jika agnostik termasuk agama. Mereka mengira jika memilih agnostik akan terbebas dengan ikatan agama. Padahal setiap agama mempunyai jalan benar masing-masing dan secara tidak sadar juga dengan memilih agnostik sama-sama memahami bahwa mereka membenarkan logikanya menjadi satu kelompok baru. Anti dogma bagi agnostik sebenarnya sebuah dogma juga bagi mereka. Kalau begitu, semua agama = dogma. Ujung-ujungnya pasti agama lagi, kan? Yah, seperti kata Will Durant: “Agama mempunyai seratus jiwa; jika anda bunuh dia, pasti akan hidup kembali.” Terbukti manusia tidak pernah bisa lepas oleh agama, karena agama adalah bentuk ketidakberdayaan manusia (menurut Freud).

Jika hanya ditanggapi sekilas saja, memang ini terlihat seolah-olah agama biang keladi perpecahan antar kelompok. Namun jika kita memang mau menelusuri sisi lain yang lebih dalam lagi, sebenarnya inti dari masalah Ahok dan kasus penistaan agama adalah ketidakmampuan ‘kita’ dalam memahami perbedaan. Kesalahan ‘kita’ sebagai orang-orang yang mengaku pejuang pluralisme yang bersusah payah mencari kesamaan-kesamaan dalam hal apapun untuk terlihat baik. Kita lupa diri bahwa perbedaan; biar bagaimanapun dan sampai kapanpun tidak bisa dicocok-cocokkan, disama-samakan hanya agar terlihat baik. Atau memusnahkan yang berbeda sehingga berharap menjadi lebih baik.

Berbeda yaudahlah tetaplah berbeda, jangan lupa bahwa Tuhan sendiri yang menciptakan perbedaan-perbedaan, tugas kita mengelola setiap perbedaan, menjaga agar yang berbeda tetaplah berbeda bukan diseragamkan menjadi satu kebenaran tunggal atau dicari-cari kesamaannya; karena dengan begitu maka perbedaan baru bisa jadi berkah bagi sekalian alam bukan berubah jadi bencana.

Jadi, masih mau ribut? Masih mau lomba adu kritis siapa yang benar dan salah? Makanya banyakin leyeh-leyeh biar nggak tegang-tegang amat.

Akhir kata mohon maaf atas tulisan yang tidak jelas dan medioker ini. Yah, namanya curhat. Daripada dipendem melulu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Aini’s story.