Cinta Memang Tidak Butuh Logika

Tepat saat aku dan Luqman sampai di salah satu angkringan kopi joss di kota jogja, hujan deras pun mengguyur kota ini. Hujan deras ini berhasil melunturkan keramaian disekitar stasiun Tugu, tetapi tidak dengan keromantisan kota ini. Romantisme kota Yogyakarta tak pernah pudar apalagi luntur, sama dengan perasaan sekarang yang timbul di hati ini. Perasaan senang yang memberikan rasa gundah, perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, perasaan yang membuat hati berdebar-debar walau hanya menatapnya, perasaan yang membuat banyak orang kehilangan akal sehatnya. Konon perasaan inilah yang disebut banyak orang dengan nama CINTA.

Aku bukannya orang yang sulit jatuh cinta. Hanya saja terlalu banyak hal-hal yang tak masuk akal apabila berbicara tentang cinta. Tentang bagaimana perasaan itu muncul. Tentang bagaimana perasaan itu bisa hilang secepat rasa itu tumbuh. Tentang bagaimana bisa seorang yang sedang dimabuk cinta mengorbankan banyak hal hanya demi cinta. Yah, begitulah tentang cinta, alasan ini yang membuatku tidak mudah untuk mecintai seseorang. Bukannya kelainan, hanya saja ini semua tidak masuk akal.

Berawal dari pertemuanku dengan wanita dengan wajah cantik nan mempesona, dipadu dengan bibir tipis yang menawan, dibingkai dengan warna coklat kemerah-merahan sehingga menghasilkan senyuman manis nan menawan. Tak ketinggalan, hidung yang memiliki bidang sempurna digabungkan dengan mata yang indah mampu membuat hatiku luluh lantak hanya dalam sekali tatap.

Semua berawal saat kami bertemu dalam sebuah acara pelatihan di Bandung. Bukan cinta pandangan pertama yang membuatku menaruh hati padanya, hanya saja kekagumanku pada sosok itu yang membuat rasa ini muncul. Waktu itu hari jum’at saat pemateri sedang menyampaikan materi tentang pentingnya toleransi antar umat beragama. Saat itu pun aku sedang berjalan dari arah toilet untuk kembali mendengarkan materi di gedung utama. Saat perjalanan kembali aku pun berpapasan dengannya.

“eh mau kemana Sa, emang udah coffee break ya?”

“belum kok, mau ke masjid dulu”.

“oh, oke”

Penasaran terhadap yang akan dilakukannya, aku pun mengikuti dia. Disana lah aku melihatnya sedang menunaikan shalat dhuha. Tak berhenti disitu, setelah selesai shalatpun dia melanjutkan aktifitas interaksinya dengan Tuhan, dengan membaca Al-Qur’an tepatnya surat al-Kahfi. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakannya mengalir dengan nada mendayu-dayu, suaranya yang merdu menambah keindahan atas bacaanya. Saking indahnya bahkan hingga menggugah hati untuk terus berdzikir kepada Allah dan mengucap rasa syukur atas nikmat-Nya yang tiada henti. Ya, dialah yang berhasil mencuri hati ini. Tak hanya kecantikan yang muncul dari wajahnya, tetapi juga kekuatan iman dan ketaqwaannya yang membuatku terpesona akan makhluk Tuhan yang satu ini. Tak kusangka ada makhluk ciptaan Tuhan semempesona dirinya.

Mulai saat itulah aku mencintai dalam diam. Memendam rasa, menahan guncangan demi guncangan perasaan yang terus bergejolak di dada. Menolak untuk membeberkan kejujuran. Memerangi nafsu untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ah, ini sulit sekali.

“woi, ngelamun aja lu Sal, mikirin apaan sih serius amat lu, dipanggil dari tadi kagak nyaut-nyaut” ujar Luqman sembari membawakan 2 gelas berisikan kopi hitam dengan arang panas yang mengapung di atasnya.

“enggak, sibuk aja lagi mikirin kerjaan, gak kelar-kelar nih”.

“yaelah lu tong, liburan kayak gini masih mikirin kerjaan, enjoy dong, have fun aja. Kita juga kesini kan juga dibayarin sama pak bos buat acara seminar di UGM ngapain lu kepikiran kerja?”

“yah gimana lagi, kerjaan di Jakarta banyak yang gua tinggalin. Gimana gua gak kepikiran?”

“iya iya orang penting sih emang beda”.

“biasa aja kali”.

Tak kuat aku membendung rasa ini sendirian. Akhirnya kuceritakan masalah dan perasaan ini kepada Luqman. Karena aku sendiri pun jarang menghadapi situasi seperti ini.

“kalo menurut gua Sal, yang salah sih lu juga, cinta adalah hal yang sakral, ia diberikan oleh Allah kepada seluruh makhluk-Nya untuk memberikan kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Tanpa adanya cinta kita tidak lahir, tanpa adanya cinta hewan tidak akan berkembangbiak, bahkan tanpa adanya cinta maka makhluk hidup akan punah”.

“lah berarti cinta hanya sebatas tentang nafsu? Hanya sebatas hubungan lelaki-wanita, jantan dan betina?”

“cinta tidak semata-mata hanya Karena nafsu. Apakah cinta yang diberikan orangtua kepada anaknya maupun sebaliknya dilandaskan oleh nafsu? Apakah cinta guru terhadap anak didiknya timbul Karena nafsu? Bahkan cinta Allah kepada hamba-Nya maupun sebaliknya didasari nafsu?”

“yah, enggak sih, tapi kenapa coba banyak orang juga saling membenci karena percintaan?”

“nah, kalo itu kembali ke orangnya. Cinta tak bisa disalahkan Karena cinta memang tidak salah. Yang salah adalah mereka yang tidak berhasil menyikapi perasaan cinta secara tepat. Tapi apabila cinta itu diperlakukan dengan benar maka itu akan membawa rahmat bagi seluruh alam”.

“ya juga sih”

“udah gak usah dipikirin, nih, minum dulu”

“tapi Man…”

“udah gak ada tapi-tapi, diam, nikmatin kopinya, sambal nikmatin suasana Jogja, masalah gini mah nanti aja dipikirinnya”

“tapi gua gak bawa dompet man, ketinggalan di Hotel, hehehe pinjem dulu ya?”

“ah lu tong, untung gua bawa dompet, kalo enggak nyuci piring lu hahahaha”

“heheh ya maaf Man”

Mulai dari percakapan kecil inilah aku tersadar cinta memang tidak bisa dilogikakan, bahwa cinta adalah hal yang irasional. Tak perlu berpikir untuk mencintai, cukup rasakan dan biarkan rasa itu mengalir dalam dada.