Hakikat Pemuda

Seperti yang kita ketahui pemuda adalah tumpuan penentu peradaban, tidak hanya sebagai pengguncang dunia, bisa sebagai penerus bangsa, ataupun sebagai pembela agama, bahkan sebagai kader persyarikatan. Pemuda adalah mereka yang memperjuangkan harkat dan martabat bangsa, memberikan keharuman nama bangsa tersebut, merekalah yang menyiarkan agama tak peduli rintangan menghadang, bahkan berjihad untuk membela agama itu saat dilecehkan oleh orang yang berkuasa, merekalah yang mempertahankan idealisme masing-masing.

Tapi layakkah para pelajar atau remaja kebanyakan masa kini disebut sebagai pemuda. Remaja sekarang kebanyakan apatis dalam menyikapi hal ini. Mereka hanya berkoar-koar di social media saat agama atau bangsanya dilecehkan atau diintimidasi. Mereka hanya sharing di grup chat mereka, saat saudara seiman mereka diambil hak asasinya oleh orang berkuasa. Tapi adakah aksi nyata mereka dalam menanggapi situasi tersebut. Bahkan sekedar mendo’akan untuk mereka yang terkena bencana, atau terjajah. Pantaskah yang seperti itu disebut sebagai seorang pemuda?

Tapi tidak cukup kita melihat satu sudut pandang saja untuk melihat masalah ini. Tidak selamanya setiap individu seorang remaja harus disalahkan dalam situasi tersebut. Lingkungan pergaulan mereka juga berpengaruh terhadap kehidupan dan bahkan kebiasaan sang anak. Bagaimana si individu ini dapat menjadi seorang pemuda yang diharapkan bangsa ini jika lingkungan internal dan eksternal tidak mendukung kemajuan pemuda tersebut.

Pemuda haruslah cerdas dalam kecerdasan intelektual maupun kecerdasan spiritual. Sehingga mereka pantas untuk menjadi seorang penerus bangsa, apabila pemuda tidak memilikikecerdasan spiritual maupun kecerdasan intelektual mereka hanya akan menjadi sesosok remaja yang amoral dan tunakualitas. Pembenttukan karakter pemuda tersebut juga harus didasari oleh lingkungan yang mendukung. Lingkungan keluaarga maupun lingkungan pergaulan. Sehingga tidak terjadi problematika sekarang ini, seperti penistaan agama, reklamasi, korupsi, nepotisme, pengelapan pajak yag sudah sering terjadi di negara ini.

Tapi tidak dapat dipungkiri pula bahwa pemuda zaman sekarang juga memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Tidak semata-mata hanya Karena beberapa masalah yang sering muncul belakangan ini mereka dianggap jelek. Ini dikarenakan problematika yang dihadapi juga berbeda. Dulu mereka para pemuda yang rajin sholat 5 waktu tanpa mengerjakan shalat Sunnah sudah dinggap alim. Tapi sekarang tidak cukup seperti itu saja dianggap alim dan sholeh butuh konsistensi tinggi dalam mengerjakan amal sholeh dan mengerjakan Sunnah-sunnah Rasul hingga mereka dianggap sholeh.

Tapi ini juga bukan berarti kita harus menoleransi bentuk-bentuk kemunduran moral pemuda zaman ini. Yang harus kita lakukan adalah merencanakan yang terbaik untuk kemungkinan terburuk..