Rencana Tuhan Tidak Pantas Diragukan

Rintik hujan menerpa wajah kala aku keluar dari gedung megah di tengah kota, menuju mobil sport berwarna silver yang terpakir tepat di depan gedung. Gaun yang kugunakan pun ikut basah diterpa butiran air hujan. Bukan maksud lancang aku meninggalkan ruangan itu sebelum acara selesai. Tapi rasa sakit yang meremukkan hati ini yang menjadi alasan aku pulang lebih cepat dari yang lainnya. Memang, tidak seharusnya aku penuhi undangan itu, hanya membawa petaka dan nestapa dalam hati ini. Ah sial, ingin segera ku akhiri hidupku ini yang penuh duka dan luka. Lelah sudah aku hidup dalam genangan kesedihan.

Tak memiliki arah dan tujuan, aku hanya berkeliling kota ini untuk menyembuhkan rasa luka yang menyayat hati ini, hingga akhirnya kuputuskan mengarahkan mobilku ke jembatan Ampera. Tak perlu berlama-lama langsung saja kuparkirkan mobilku di dekat jembatan. Aku berjalan menyusuri jembatan yang indah nan megah ini, dari sudut pandang jembatan inilah aku dapat melihat keindahan malam kota ini. Indah memang suasana yang ditampilkan oleh pernak-pernik kota, menggugah selera untuk dilihat, membangkitkan kenangan yang telah lalu. Tapi itu semua tak bisa menghilangkan rasa kecewaku terhadap takdir Tuhan, bahwa aku tak layak bersamanya, bahwa aku tak bisa menjadi orang yang dicintainya, bahwa aku tak pantas berjuang bersama dalam menghadapi asam garam kehidupan. Sampai akhirnya aku berhenti berjalan dan menyandarkan tubuhku di pagar jembatan.

Tanpa berpikir panjang kukeluarkan smartphone dari kantong, langsung saja ku ketikkan nomor yang sudah kuhafal benar diluar kepala.

“Yo, aku lagi di jembatan Ampera, kita bisa ngobrol gak?”

“wah, kebetulan nih, aku lagi nyari makan deket situ, bentar 10 menit lagi paling nyampe”.

Sambil menunggu Riyo, kupandangi keelokan kota ini, kota yang telah memberikanku banyak kenangan, kota yang berhasil membuatku jatuh cinta terhadap kota dan seisinya. Lamunanku membawa ku merenungi kesalahanku yang telah lalu. Kesalahan yang enteng sebenarnya, hanya saja aku merasa ini menimbulkan kegundahan dalam hati. Aku selalu saja mengeluh dan menyalahkan bahwa takdir Tuhan tidak lah adil. Tak pernah menyadari adalah aku yang tak pernah menyikapi takdir Tuhan dengan bijak. Mungkin, inilah balasan Tuhan akibat seluruh kesalahanku. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat datang seseorang bertubuh besar dengan suara yang ramah memanggil namaku.

“hei Na, kenapa kok malam-malam gini minta ketemu?”

“yah, pengen ngobrol aja” jawabku sambil menghapus air mata.

“eh kok nangis sih Na, ada apa to? udah cerita aja, kira aja aku bisa bantu”

“enak aja nangis, enggak kok cuman kemasukan debu”

“udah nggak usah bo’ong aku tuh kenal kamu dari dulu, jelas-jelas kamu tadi ngusap air mata pas aku panggil”.

Tak kuat menahan duka di hati dan tak mampu menampung air mata lebih lama, meledaklah tangisanku di hadapannya. Karena tak kuat aku menahan kesedihan ini terlalu lama spontan saja aku menceritakan kejadian yang baru saja aku lalui.

“kemarin Rendi minta aku dateng ke restoran Ny. Janti malam ini, katanya mau ngenalin aku sama keluarganya. Tapi ternyata tak kusangka aku dikhianati oleh orang yang selama ini aku cintai, saat sampai sana kulihat dia berpegangan tangan dengan wanita lain, tanpa rasa bersalah dia merangkul tangannya kepundak wanita itu dan tertawa serta berbincang ria bersama keluarganya. Ya Tuhan mengapa engkau tega membuatku mengalami hal yang menyakitkan seperti ini”.

Tanpa ragu Riyo pun langsung mendekap ku, menarik diriku masuk kedalam pelukannya sambil perlahan menghapus air mataku. Pelukan hangat itu sepertinya mampu menghilangkan seluruh kegundahan ini. Pelukan hangat itu sepertinya mampu membuatku tenang dan nyaman berlama-lama dalam dekapan ini.

“kamu gak perlu nangis, apalagi sampai berani menyalahkan Tuhan atas apa yang telah ditetapkan-Nya, kamu gak dapetin dia bukan berarti kamu tidak layak untuk dicintai, kamu gak dapetin dia mungkin karena Tuhan tahu dia bukanlah yang terbaik untuk mu. Tuhan berkehendak seperti ini, karena pasti masih ada lelaki terbaik yang pantas untuk memiliki mu”.

“ah omongan itu lagi, bullshit, aku udah sering denger di sinetron kata-kata gak penting kayak gitu, aku gak butuh kalimat penghibur kayak gitu lagi. Yang aku butuh sekarang adalah bukti. Bukti bahwa Tuhan memang punya rencana terbaik bagi hamba-Nya”

“aku adalah bukti bahwa Tuhan punya rencana terbaik bagi hamba-Nya. Aku adalah bukti bahwa masih ada lelaki lain yang lebih pantas darinya untuk mendapatkan dan menyayangi kamu apa adanya”

“gak usah sok menghibur gitu deh, gak usah bercanda…..”

“Diam dulu, dengerin omonganku. Dari dulu sebenarnya aku suka sama kamu, tapi apa daya kamu terlanjur mencintainya. Sudah lama kamu menjadi orang yang kusebut-sebut dalam do’aku. Sudah lama wajahmu menjadi pelipur laraku. Cemburu sebenernya pas kamu curhat masalah hubunganmu dan dia ke aku, yah apa daya mungkin aku hanya ditakdirkan menjadi pendengar yang baik. Apa sih yang bisa aku lakuin untuk dapetin kamu? Aku gak bisa ngelakuin apa-apa. Siapa sih yang gak tau Rendi? Kaya, tampan, hidup mapan, punya bisnis besar yang diwariskan ayahnya. Lihat aku! Penampilan pas-pasan, penghasilan pun tak sebanyak Rendi, karena aku bukanlah orang yang berorientasi hidup mapan dalam kenyamanan semu, tetapi aku ingin agar dapat membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarku hingga akhir hayatku. Dengan gaya hidup seperti ini masih berhakkah aku tuk mendapatkan mu? Tapi aku yakin, aku bersabar, menunggu dan tak lupa berdo’a. Pasti Tuhan punya rencana terbaik bagi hamba-Nya”.

Dari sini aku tersadar, aku terlalu terfokus atas orientasiku terhadap hidup yang nyaman mendapat suami tampan, kaya raya dan memiliki jabatan tinggi, memiliki rumah besar, menjadi istri dari orang terpandang, dan segala kenikmatan yang masih bersangkutan dengan harta dan tahta. Hingga melupakan salah satu kenikmatan Tuhan yang tak bisa dibeli oleh uang, ya nikmat cinta. Sebuah karunia Tuhan yang hanya bisa timbul oleh ketulusan hati seorang hamba-Nya.

“maafkan aku yang tidak pernah menyadari perasaanmu padaku. Maafkan aku yang menyia-nyiakan cinta yang tulus itu demi harta dan tahta. Sungguh maafkan aku.”

“Bukan kamu yang salah Lena. Aku yang salah karena terlalu takut untuk menyampaikan ini semua. Aku yang salah karena menjadi pengecut dalam menghadapi kenyataan. Tapi aku yakin denganku kamu bisa hidup bahagia. Mungkin kamu tidak akan merasakan hidup bergelimpang kemewahan seperti Rendi. Tapi aku yakin bahwa dengan hidup bersama kita akan saling melengkapi dan saling mencintai. Jadi bersediakah kau untuk menyempurnakan agamamu denganku?”

“ya aku bersedia”.

Tak dapat dipungkiri bahwa malam ini aku sempat merasa dihancurkan oleh duka dan nestapa. Tapi pada malam ini pula terdapat seorang lelaki yang membuatku kembali utuh sepenuhnya. Bahkan membuatku tersadar bahwa rencana Tuhan tidak pantas diragukan. Tak kusangka wajah ini yang ternyata pantas untuk menemaniku berjuang di kala suka maupun duka.