Menyoal Perempuan yang Tidak Mengempu; Ambiguitas, Stereotip dan Hal Membingungkan Lainnya
“Dasar, cowok kok mulutnya kayak perempuan!” ucap seorang perempuan kepada rekan lelakinya yang terlalu cerewet, yang disiarkan di stasiun televisi nasional.
“Si mbak mah, udah tau hamil ngapain naik kereta?” ujar ibu-ibu yang menolak memberi tempat duduk kepada ibu hamil di gerbong kereta khusus perempuan.

Source: girlboss
Hidup menjadi perempuan adalah seputar kesetaraan yang ambigu, dan hal-hal membingungkan lainnya
Sebagian dari kami meneriakkan kesetaraan, namun sebagian besar dari kami masih dengan sadar merendahkan diri kami sendiri, membenarkan stereotip yang salah kaprah. Seakan tidak mengapa kalau mulut perempuan cerewet, rajin bergunjing dan mengubah objektif membeli sawi putih di pasar menjadi bercerita panjang lebar mengenai tetangga baru. Laki-laki? tidak boleh demikian, nanti dicap punya mulut seperti perempuan.
Ada sebagian aktivis di luar sana yang menyadarkan tentang banyaknya catcalling dari mamang-mamang pinggir jalan, namun sebagian dari kami justru tidak memprioritaskan sesama perempuan yang sedang hamil. Kepekaan di gerbong kereta campur justru lebih tinggi. Sedangkan kami justru menyalahkan kehamilannya, dan menyuruhnya memakai alternatif transportasi lainnya. Seakan yang kami ucapkan itu adalah sebuah solusi.
Dan di saat seperti ini, perempuan justru tidak dapat mengempu apa yang membuatnya berdaulat.
Apakah kesetaraan sudah pasti adil?
Saya tidak sepenuhnya percaya pada kesetaraan semu. Siklusnya hanya seputar yang kalah ingin menang, yang sudah menang merasa terusik, dan seterusnya. Bahwa ini bukan persoalan siapa yang berhak lebih dominan dibanding yang lainnya. Memang benar ada ketimpangan, ada hak-hak yang dibelenggu dan seksisme membuat semua itu menjadi wajar. Namun menurut saya ini tidak lagi mengenai feminitas versus maskulinitas. Swedia justru berhadapan dengan kondisi berkebalikan, di mana yang maskulin-lah yang meminta disetarakan, karena sudah mengakomodasi tuntutan feminis dengan baik.
Beberapa waktu lalu, teman baik saya memperlihatkan cuitan temannya (Misal: Mbak X) di Twitter. Mbak X berkata bahwa ia menolak ditawari jas hujan oleh teman laki-lakinya, karena menolak dilabeli sebagai perempuan lemah yang kemungkinan akan sakit kalau kena hujan. Padahal bisa jadi semua orang memang berniat baik, tanpa tendensi seksis sedikitpun. Sedari dahulu kita juga diajarkan untuk mendahulukan orang lain, tanpa menganggap yang kita bantu lebih lemah, bukan?.
Saya jadi berpikir lagi, apa yang sebenarnya kami cari? Kehormatan? Gengsi? Kekuatan?. Lalu kalau tidak pakai jas hujan, dan esok harinya masuk angin, akan tetap berpura-pura kuat? Apakah kebanggaan sebagai perempuan hanya sebatas itu, dan sepalsu itu?.
Celakanya, apabila selama ini ternyata yang kita bela bukanlah entitas perempuan yang memang benar-benar termarjinalkan. Kita justru masih membela ego kita masing-masing, mengatasnamakan seluruh perempuan. Layaknya oknum yang melakukan sweeping terhadap warung yang tetap buka saat bulan puasa, seakan-akan mewakili semua entitas muslim di dunia, seakan-akan kami merasa perlu untuk dihormati oleh seluruh penjual makanan pinggir jalan yang pendapatannya tak seberapa, saat melakukan ibadah puasa.
Saya lebih percaya pada nilai moralitas sebagai manusia dengan keunikan masing-masing. Sebagaimana agama saya mengajarkan perbedaan dan sangat menghormati keunikan antara laki-laki dan perempuan. Cukup disayangkan kalau banyak orang menyalahkan ajaran agama sebagai pembelenggu hak, padahal hanya berdasarkan penafsiran yang tidak menyeluruh. Jika banyak yang memperalat agama untuk menyetir kepentingan pribadinya, itu permasalahan yang berbeda lagi.
Saya juga amat percaya pada kekuatan perempuan sebagai pemberdaya perempuan lainnya. Saya sangat cinta dengan komitmen Ibu Robin yang dengan tulus membantu menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Ubud dengan konsep gentle birth-nya. Saya sangat bangga aspirasi saya diwakili dalam Women’s March di Jakarta, Maret 2018 lalu. Saya justru belum bisa melakukan hal lebih. Saling memberdayakan, adalah perilaku paling terpuji dan nyata untuk melawan ketidakadilan.
Maka apakah kesetaraan berarti keadilan?
Pramoedya A. Toer pernah berkata melalui buku Bumi Manusianya, bahwa yang paling utama adalah bersikap adil sejak dalam pikiran. Jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya.
Jika ingin kesetaraan, keadilan dan diperlakukan adil, mulailah dengan berpikir adil terhadap diri sendiri, adil kepada orang lain, dan adil dalam memilah mana perkara ego pribadi dan mana yang benar-benar berguna untuk memberdayakan sesama.
Menjadi perempuan adalah menyoal kebingungan, yang tidak pernah usai
Bingung mengapa beberapa ibu-ibu menyalakan lampu sein kiri, tapi dia belok kanan?
Bingung mengapa beberapa perempuan merasa tidak punya pakaian saat lemarinya sudah sangat penuh?
Bingung mengapa beberapa perempuan sedari SD sudah diajarkan tradisi kalau ke kamar mandi harus beramai-ramai?
Semua kebingungan itu tak mengapa. Kami pun bingung, kami tak punya alasan atau pembenaran mengapa hal itu terjadi. Lagipula itu semua adalah stereotip yang terlalu digeneralisasi, bahkan oleh perempuan sendiri.
Tapi kami, perempuan, selalu tahu bahwa kami punya modal yang sangat kuat; Kalau kami sudah serentak melakukan kemarahan, tak ada yang dapat mengalahkan. Kemarahan satu perempuan mungkin bisa saja subjektif. Namun, kemarahan perempuan-perempuan secara serentak untuk menyuarakan kebenaran adalah pengingat keras untuk tidak macam-macam dengan kami. The power of emak-emak ngamuk akan selalu menyertai kami. Apa kau liat-liat? :)

Source: girlboss