Tentang sebuah pertanyaan dan apakah saya harus melupakannya?

tetapi dimalam hari aku justru berselimutkan hal-hal yang selalu berarti 'lupakan' dan dipagi hari selalu dibangunkan dengan benda-benda yang berarti 'apakah' atau 'bagaimanakah'

Manusia memang banyak mau-nya, hidup berkelidan dengan keinginan. Mau ini, ingin itu ataupun mau tahu soal ini, itu. Ingin jadi seperti ini ataupun jadi seperti itu.

Selama tidak ada 'pelarangan' maka mau adalah suatu hal yang wajar, boleh-boleh saja. Terlebih, pemiliknya adalah manusia yang 'perasa' pemilik nafsu tak terhingga dan satu lagi pemilik akal sebagai bekal membela diri, sebagai alat membenarkan. Hingga suatu masa tanpa dirasa telah menjadi sosok yang mempertuhankan Dirinya sendiri, kecerdasannya, intelektualnya. Naudzubillah.

Aku adalah bagian dari manusia maha ingin itu, diam-diam 'perasaan' dan 'keinginan' untuk tahu banyak hal terselip masuk dibawa angin, berjalin dengan paru-paru dan dihantar menjadi satu dengan darah. Akan berakhir 'menyatu'. Menjadi satu dengan subtansi dan benda yang kerap disebut dengan 'jiwa'

Aku hanya mau tahu, cukup sederhana ketika kita menemukan jawabannya dan selesai. Berakhir disuatu masa dengan jawaban dan kesudahan lantas melanjutkan kehidupan dengan baik, dengan semestinya

Tetapi sistem dari pemikiran adalah sistem yang tidak terduga, manusia imajiner yang kurang ajar. Dan setiap waktu pertanyaan itu menyulut terciptanya kabel baru berkelok menggulung kian rumit tanpa tahu dimana letak ujungnya

Setenang dan sehalus seperti datangnya rindu, yang bermula ingin, getaran berkumpul menjadi angin, semilir, bersatu hingga kemudian menjadi badai, mematikan

Pun pertanyaan itu, semula aku mengira hanya pertanyaan yang bisa aku lupakan dengan mencipta kesibukan. Ataupun membaca banyak hal, tetapi dimalam hari aku justru berselimutkan hal-hal yang selalu berarti 'lupakan' dan dipagi hari selalu dibangunkan dengan benda-benda yang berarti 'apakah' atau 'bagaimanakah'

Disuatu masa aku pernah merasa gila, aku selalu membunuh hari dengan aktivitas dan istirahat dengan perwnungan-perenungan yang hampir tanpa makna. Selalu menemukan batas yang tak pernah bisa aku tembus

Suatu ketika, seperti halnya rindu, pertanyaan itu membadai, lantas timbul pertanyaan lain yang berarti 'kepada siapa'. Kepada siapa aku harus bertanya. Dan siapa yang kira-kira akan memberikan jawaban

Namun kemudian ketemukan bahwa aku tak akan mampu bertanya. Ataupun kata apa yang harus kususun demi pertanyaan ini. Dan benar aku tidak bisa mengatakannya. Lantas, suatu pagi benda-benda yang membangunkanku turut berkata 'lupakan' dan aktivitasku sehari-hari berubah menjadi perjuangan 'melupakan'. Melupakan pertanyaan -ku sendiri.

Like what you read? Give Atika Anifarka a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.