VISUALISASION: Chapter 9

pict: CSS animation

Cafe: 08.00 PM

Jarum pendek pada jam tanganku sudah menunjukan angka delapan dan aku masih harus menetap di kafe untuk mengurusi data pemasukan dan pengeluaran serta mengecek bahan-bahan makanan untuk esok hari. Karena karyawan yang bertugas melakukan ini semua harus cuti karena sakit. Setelah aku mengantarkan Keira kerumahnya tadi sore, aku masih merasa tidak enak padanya. Ia yang begitu berusaha untuk membantuku. Walau disatu sisi aku tidak mau membebaninya, tapi aku juga ingin tau kejadian yang sebenarnya.

Aku mengecek ponselku. Layar ponselku menyala, terlihat sesosok foto Siena yang masih kusimpan dan aku jadikan wallpaper. “Sebenarnnya apa mau kamu, Siena?” Ujarku. Setiap aku melihatnya, itulah pertanyaan yang selalu aku tanyakan, selama dua tahun, dan aku masih belum menemukannya.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Sarah menelponku.“Halo”. Sapaku. “Ada apa Sar?”

“Kan, lo lagi bareng adik gue? Dia belum pulang daritadi nih” Tanya Sarah padaku dengan nada panik.

“Eh belum pulang? Masa sih? Tadi siang gue emang ngajak dia pergi tapi udah gue anter pulang kok tadi sore. Beneran gaada Sar?” Ujarku bingung.

“Kalo ada gue gamungkin nanya lo Kan. Aduh dia kemana lagi..” Jawab Sarah khawatir.

“Udah coba lo hubungi?” Tanyaku lagi.

“Udah. Tapi gak diangkat”

“Oke-oke. Nanti gue cari tuh anak. Lo tunggu dirumah aja siapa tau dia pulang” Ujarku sambil menenangkan Sarah.

“Oke. Tolong kabari gue secepatnya ya. Sorry banget gue ngerepotin. Biasanya dia gak begini”

“Iya pasti gue kabari” Ujarku. Sebagai penutup pembicaraan telepon kami.

Tak lama setelah aku menutup telpon dari Sarah, Layar ponselku menyala kembali. Sebuah notifikasi chat masuk dari Keira

Keira: Maaf kan, aku rasa badan aku mulai gerak sendiri. sekarang aku ada di pub ayah siena. aku beneran minta maaf. aku beneran pengen kesana. aku ngerasa bakal dapat sesuatu. aku bakal hati-hati. jangan khawatir.

Melihat chat itu membuatku panik. “Jangan khawatir? Keira, gimana aku ga khawatir?” gumamku kesal. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku langsung membalas chat Keira. Mengatakan agar Keira harus cepat-cepat pergi dari situ. Tapi aku benar-benar tidak bisa tenang. Tanpa pikir panjang dan persiapan apapun aku langsung menyusul Keira ke pub dan berharap, Keira membaca chatku.

Pub 21.00

Sesampainya aku di pub, yang kulihat hanya sekumpulan orang yang berkumpul di satu titik. Aku mencoba masuk kekerumunan itu dan terlihat seorang wanita yang tergeletak di lantai. Orang-orang disekitarnya hanya melihat tanpa berani melakukan apapun.


White Screen (Time: ??)

“Keira… Hey bangun” Ujar suara halus mencoba membangunkanku.

Aku mencoba membuka kedua kelopak mataku. Namun agak sulit karena cahaya didepan mataku sangat terang. Aku mencoba membuka perlahan-lahan.

“Huff… akhirnya kamu bangun juga” Ujar Wanita itu lagi.

“Ini dimana?” Tanyaku

“Padahal aku sudah susah-susah buat kamu nyangkut kesini”. Dumelnya. Seakan ia tidak mendengarkan ucapanku.

Aku mencoba merubah posisiku untuk duduk lalu memperhatikan wanita itu sekali lagi. Wajah yang paras, berkulit putih, tubuhnya semampai, dan rambutnya yang terurai berwarna silver seperti jaring laba-laba.

“Ini dimana ya?” Tanyaku sekali lagi.

“Layar putih. Em… setidaknya itu adalah nama yang kuberikan untuk tempat ini” Ujarnya.

“Layar putih?”. Memang sejauh mata memandang tempat ini seperti tidak mempunyai batas. Semua yang kulihat putih. Tidak ada barang apapun. Hanya aku dan wanita itu.

“Kenapa kamu bawa aku kesini?” Tanyaku lagi. Begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan namun mungkin hanya ini yang bisa kutangkap jawabannya.

“Kenapa ya? Bukannya kamu yang berdoa di tempat peristirahatanku? Ya, sekarang ini jawabannya”

Mendengarnya ucapannya, akupun kaget. “Tempat perisirahatan… Tunggu. Jadi Kamu — Siapa kamu sebenarnya?” Tanyaku lagi. Entah aku merasa semakin aku bertanya aku akan semakin bingung.

“Heeehhhh… Memangnya harus kenalan lagi? Bukannya Arkan sudah memperlihatkan fotoku padamu?” Katanya.

Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna perkataannya. Aku mulai menelaah wanita didepanku ini. Aku bisa dengan mudah menebaknya. Namun tak mungkin aku bisa bertemu dengannya. Jika iya, mungkin aku sudah mati. “ Kamu Siena? SIENA??” Sahutku. Aku benar-benar kaget. “Tapi kan kamu sudah? Atau aku yang sudah..” Lanjutku lagi.

“Hihi… Selamat datang di duniaku. Hmmm kalo itu, biar kamu yang tebak sendiri” Ujarnya sambil tertawa kecil


Butuh tenaga untuk memasuki kerubungan itu. Disamping berdesak-desakan, banyak sekali orang-orang yang menarik-tarikku untuk menjauhi kerubungan. Namun akhirnya aku dapat melihat Keira dengan jelas. Ia terbaring lemas.

“Keira, hey bangun” Ujarku menepuk-nepuk pipinya. Namun ia tetap tidak sadar.

“Dasar pengecut” Ujar seseorang. Walau aku tahu itu siapa. Tapi ingin sekali aku mengabaikannya. Tanpa pikir panjang aku mencoba menggendong Keira.

“Dia tidak akan hidup lagi. Sesalilah. Dia akan pergi seperti Siena” Ujar bartender itu.

Mendengar omongannya membuatku geram. Kepalan tanganku mengeras. Ingin rasanya aku menghajarnya tapi aku tidak boleh gegabah. “Tenang Arkan, yang penting kamu bawa Keira pergi dari sini” gumamku dalam hati.

“Keira, Sebenarnya, apa yang kamu lakukan? Apa yang orang itu lakukan padamu?” Kataku. Tanpa ada jawaban dari wanita yang terbaring lemas ini.


Aku masih tercengang saat melihat Siena secara langsung. Dia begitu anggun. Setiap dia tersenyum terkesan sinis namun sebenarnya itulah karismanya.

“Kok diem aja? masih kaget kah? Tenang aku gabakal ngapa-ngapain kamu kok” Ujar Siena sambil menenangkanku.

“A..aku gatau harus ngapain. Kan kamu yang bawa aku kesini” Aku menjawab.

Ia tersenyum lagi. Kali ini sedikit meledek. Mau dilihat berapa kali wanita ini memang spesial. Pantas saja orang yang ditinggalkan olehnya masih merasa kehilangan sampai sekarang. “Apa hal terakhir yang kamu ingat sebelum kamu kesini?” Tanyanya lagi.

Aku mengkerutkan wajah. Berpikir denan seksama. “Hal terakhir.. AH! a-aku bukannya sekarang ada di pub? aku terlalu banyak minum lalu aku ga sadar. tiba-tiba gelap. Siena, apa aku baik-baik saja? Apa aku sudahh…” Tanyaku panik.

“Tenang. Kamu baik-baik saja. Sudah ada yang menolongmu. Tapi untuk kelanjutan hidupmu, hanya kamu dan Tuhan yang bisa menentukan” Ujarnya.

“Si-siapa? Siapa yang menolongku?” Tanyaku lagi. Disamping itu, mendengarkan jawaban dari Siena membuatku sedikit takut dan membuatku tersadar bahwa aku berada diantara hidup dan mati.

“Kamu akan tau kalo kamu udah sadar nanti. Maaf, bahkan sampai akhir kesadaranmu, kamu diperlakukan dengan tidak baik. Aku turut menyesal. Aku kira tidak akan separah ini” Ujar Siena menyesal.

Siena begitu baik. Aku mulai heran darimana asal sifat baiknya itu. “Em, aku juga yang memaksakan diri kesana. Walaupun sebenarnya aku bingung, kenapa kakiku gerak sendiri dan menuju ke tempat itu”

Siena menggeleng “Bukan kamu yang ingin kesana. Aku yang menyuruhmu kesana. Maaf menyalahgunakan tubuhmu”

“Heh, tunggu. Maksud kamu? jadi suara yang terngiang dikepalaku itu, itu kamu?” Tanyaku. Semakin Siena berbicara semakin banyak pertanyaan yang muncul.

“Kurang lebih seperti itu”. Ujarnya dengan rasa bersalah “Keira, aku mengajakmu kesini, karena ada yang ingin aku beritahukan padamu. Aku harap kamu mau mendengarkanku”


Selama perjalananku ke rumah sakit, Aku mengemudi penuh dengan penyesalan juga ketakutan. Aku terlalu khawatir akan apa yang akan terjadi pada Keira. Selama perjalananku, aku hanya melihat jalan. Tak sanggup aku melihat kondisi Keira yang terlentang di kursi belakang. Ia kedinginan. Menggigil tak karuan. Aku mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya dan hanya sehelai jaket yang ada untuk menghangatkannya.

Sesampainya di Rumah sakit. Tanpa memikirkan hal yang lain Keira langsung aku bawa ke unit gawat darurat. Setelah ia masuk aku langsung mengabari Sarah. Entah apa yang akan dikatakan Sarah kali ini. Rasanya aku siap dimarahi. Apabila itu dapat membuat keadaan Keira membaik.


“Jadi apa yang harus aku dengarkan, Si-Siena?” Tanyaku. Rasanya masih agak sulit menyebut namanya. Disamping wanita disini adalah seseorang yang berharga bagi Arkan wanita satu ini juga bukan lagi manusia.

“Ra, bagaimana perasaanmu saat bertemu dengannya?” Tanyanya langsung.

“De-dengannya? Maksud kamu?” Tanyaku. Dadaku mulai panas. Wajahku mulai memerah. Kalau Arkan yang ia maksud. Aku bingung harus menjawab apa.

“Maksud aku. Ayahku. Memangnya siapa yang kamu pikirkan?” Ujarnya.

“O-ooohhh. Ayahmu” Ujarku agak lega. Karena mungkin bila orang lain yang ia maksud, ya mungkin sekarang itu yang ada di pikiranku, aku bingung harus menjawab apa. “Aku ganyangka ayah kamu seperti itu. Siena” Ujarku hati-hati.

“Dia memang yang terburuk”. Siena berkata. Wajahnya yang tadi mengekspresikan wajah senang sekarang berubah menjadi geram. “Tapi mau bagaimanapun juga dia ayahku” Ujarnya lagi.

“Siena, aku boleh tanya sesuatu?” Tanyaku. Mungkin inilah keempatanku untuk menanyakan apa yang selama ini membingungkan Arkan. Aku memang tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Siena. Tapi aku yakin, pasti Siena melakukan hal ini berkaitan dengan Arkan.

“Tanyakan apapun. Karena itu yang kuharapkan” Ujarnnya mantap.

“Kenapa kamu tidak memberitahukan Arkan tentang kematianmu? Apa alasan kamu meninggalkannya? Lalu mengapa kamu bawa aku kesini?” Tanyaku. Masih banyak pertanyaan lain yang ingin aku tanyakan. Tapi akupun bingung harus memulainya darimana.

“Karena alasanku untuk bunuh diri dan masalahku tidak penting buat dia” Jawabnya singkat.

Aku kaget dengan jawaban singkatnya itu. Bagaimana tidak, selama aku bersama Arkan aku paham sekali bahwa dia merasa sangat bersalah, setiap harinya aku yakin Arkan selalu memikirkan apa salahnya, mengapa Siena pergi dan sebagainya. Aku mulai sedikit kesal. “Darimananya sih yang gak penting? Kamu itu berarti buat Arkan. Bisa-bisanya kamu pergi waktu Arkan mau melamar kamu. Apa gaada yang lebih buruk lagi? Saat aku dan dia pergi ke suatu tempat pasti ada saat diamana dia selalu melamun. Memandang kepada sesuatu. Dengan tatapan kosong. Aku bahkan ga sanggup melihatnya Siena” Ujarku menjelaskan. Rasanya aku ingin menangis saat mengingat hal-hal itu.

Siena tersenyum tipis dan sedikit menunduk. “Aku ganyangka Arkan memberitahu tentang aku ke kamu sampai sedetail itu” Ujarnya.

Pandanganku lurus kedepan melihat Siena. kami yang duduk berhadap-hadapan di ruangan serba putih ini memantapkanku bahwa ini bukan dunia lagi. disamping aku takut apakah aku bisa kembali lagi atau tidak, tapi yang penting untukku sekarang adalah menanyakan pertanyaan kepada wanita didepanku ini. Suatu kejadian langka. Atau mungkin ia sengaja, yang pastinya nanti aku akan mengetahuinya.

“Arkan tidak bercerita sedetail itu. Aku melihatnya. Lewat kekuatanku. Aku bisa lihat memori dan masa depan orang-orang secara tidak sengaja. Tanpa sengaja aku bisa melihat memori Arkan” Ujarku mantap. Entahlah ia akan percaya atau tidak.

Wajah Siena mengangkat. Kini kami sama-sama memandang satu sama lain. Ia menatapku dengan tampang serius “Aku sudah menyangka bahwa kamu memiliki sesuatu. Tapi tak kusangka kamu bisa sehebat itu. Tanpa mempelajari apapun saja kamu bisa menyusun puzzle-puzzle yang menyulitkan itu” Ujar Siena.

“Puzzle-puzzle? Maksud kamu?”* Aku sedikit tidak yakin pemahamanku tentang puzzle-puzzle ini sama dengannya atau tidak.

“Aku juga sama denganmu. Aku juga memiliki kekuatan itu. Tapi herannya, aku tidak bisa bertahan. Walau baru muncul selama 3 tahun”.

“Kekuatan? Berarti kamu bisa melihat memori-memori itu juga? ” Tanyaku. Kini aku semakin bingung apa maksud Siena membawaku kesini. Bagaimana bisa ia melakukan ini semua.

“Sejak ibuku meninggalkanku saat umurku 10 tahun, aku tinggal bersama ayahku. Tak ada definisi bahagia saat aku bersamanya. Sampai akhirnya, lima tahun yang lalu aku mendapatkan mimpi buruk. Aku kira awalnya hanya mimpi buruk biasa. Ternyata mimpi-mimpiku selalu menjadi kenyataan”

Visualisasi?” Ujarku berkomentar.

Visualisasi? Maksud kamu?” Tanya Siena.

Itu hanya sebutanku tentang keanehan ini”.

“Hmm ya, kurang lebih begitu. Sampai akhirnya aku mendapatkan visualisasi bahwa aku akan mati karena over dosis. Saat mendapat visualisasi itu, setiap malam aku melihat hal yang sama. bukan itu saja, aku juga merasakannya. Rasa sakit di tenggorokan, lambung, rasanya ingin aku muntahkan semuanya. Karena itu aku tidak bisa bertahan lagi”

Mendengar cerita Siena membuatku merinding. Mengingatkanku pada masa lalu bagaimana aku bertahan untuk mengendalikan kekuatanku. Keanehanku. Sungguh sulit dipercaya bahwa bukan hanya aku yang memiliki hal yang sama.

“Jadi, itu alasanmu untuk….. Pergi?” Tanyaku hati-hati.

“Salah satunya. Keira, sejak kapan kamu bisa melihat itu semua?” Tanya Siena.

“Aku sudah merasa aneh sejak umurku 3 tahun, tapi kata ibuku, saat aku masih kecil, aku sering menangis hingga berjam-jam, jika aku seperti itu biasanya ada sesuatu yang terjadi” Ucapku menjelaskan.

“Aku tak menyangka kamu bisa sekuat itu. Aku baru merasakannya selama 3 tahun dan aku sama sekali tidak tahan”

“Awalnya memang aku tidak kuat. Bahkan orang-orang banyak yang tidak suka. Tapi keluargaku selalu mendukungku dimasa-masa sulitku” Ujarku.

Mendengar penjelasanku Siena hanya terdiam. Entah apa yang ada dipikirannya.

“Seandainya aku bisa setangguh kamu..” Ujar Siena pelan, seperti membisik.

“Eh, apa?”

“Haaaaahhh… sesi tanya-tanyanya sudah dulu. Sekarang waktunya aku mengukur kekuatanmu” Ujarnya. Sambil berdiri. “Dengar ya Keira, sekarang aku akan memberitahukanmu, tujuanku yang sebenarnya”. Kini wajah Siena menggeram. kini wajahnya menampakan wajah sinis, aku mulai merasakan perasaan tidak enak.

“Aku harus apa, Sekarang?” Tanyaku. Walau aku tak yakin bisa melakukan yang Siena mau.

Raut wajah Siena berubah, kini lebih wajah manis dan baiknya hilang sudah. ia memejamkan mata. Seperti membaca sesuatu, ruangan tempat kami berdiri kini berubah. Aku mulai merasakan gempa.

“Aku tak punya waktu untuk menjelaskan semua. Lebih baik, kamu melihatnya langsung”. Ujar Siena. Seketika angin berhembus kencang, kini aku melihat Siena dengan raut wajah yang berbeda. Seperti orang lain. Aku mulai merasakan ketakutan yang luar biasa “Bon voyage! Keira-chan” Ucapnya sebagai salam perpisahan.

Aku merinding, kepalaku pusing, pandanganku hampir buyar. tiba-tiba ada lubang dibawah kakiku. dan lubang itu semakin besar, aku mencoba menghindar, lalu keluarlah tangan-tangan hitam dari lubang itu, menarikku masuk kesana.

“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH!” Aku teriak sekuat-kuatnya. Aku masuk ke lubang itu dan melihat Siena berbalik arah dariku dengan wajah sinisnya.


“ARKAN! Keira dimana sekarang?” Ujar Sarah lari tergesa-gesa dengan napas yang terengah-tengah.

“Di IGD sar” ujarku dengan nada pelan. Rasanya aku tak sanggup melihat wajahnya. Perasaan bersalah ini tiada henti ini membuat dadaku terasa sangat sesak. Ingin sekali aku menangis sejadi-jadinya. Mataku sudah memanas, namun tetap saja. Tidak ada setetes air mataku yang keluar.

Selama Sarah berbicara dengan dokter, aku hanya menunduk kebawah. hanya suara berbisik yang bisa kudengar antara mereka berdua. Aku tak ingin mendengar kabar buruk apapun tentang Keira. Aku terlalu takut mendengarnya. Hingga akhirnya Sarah berjalan menuju diriku, kemudian duduk disebelahku.

“Arkan, sebenernya bagaimana keadaan terakhir Keira saat kamu bertemu dengannya?” Tanya Sarah dengan lembut. Namun aku tahu ia sedang memendam kemarahan dihatinya.

Aku terdiam. Aku tak sanggup menjawabnya. Begitu banyak kemungkinan pertanyaan yang mungkin akan Sarah tanyakan padaku dan aku mungkin bisa menjawabnya. Tapi wanita yang pintar membaca situasi di depanku ini benar-benar membuatku terdiam. Hingga akhirnya aku mulai menjawab dengan beratnya “Dia gak sadarkan diri Sar. Tolong jangan tanya aku ketemu dia dimana”

Wajah Sarah mulai menegang. Aku tau di ingin sekali memarahiku. “Sar, lo boleh marahin gue sepuas lo. Keira begini semua karna salah gue” Begitu jawabku. Aku tau saranku tidak akan menyelesaikan masalah.

“Gue gamau marahin lo, gue mau Keira balik. Kan, lo tau dokter bilang dia kenapa? Dia keracunan alkohol. Dia hampir overdosis kan. OVERDOSIS! Sebenernya apa yang Keira lakuin buat ngebantu lo? Gue ngerti adik gue ini memang gegabah. Tapi gue gak nyangka dia bisa sampai seperti ini” Ujar Sarah setengah menahan tangisannya.

“O-overdosis?” kataku dalam hati. Aku bahkan tak menyangka bahwa Keira akan mengalami ini. “Ini semua memang salah gue Sar. Gue kurang hati-hati ngejaga dia” Ujarku pada Sarah.

“Kan, gue gamau tau masalah lo dan gue paham itu adalah privasi lo. Gue sangat senang saat gue tau bahwa apa yang membuat Keira takuti dalam dirinya bisa bermanfaat buat orang lain” Sarah menepuk punggungku. mencoba menenangkanku. Seharusnya aku yang melakukan itu pada Sarah. Harusnya aku bisa menjelaskan apa yang terjadi. Harusnya aku yang menenangkan Sarah. Harusnya aku yang mengalami ini semua. Bukan Keira. “Ini semua bukan keseluruhan salah lo, Kan”. Ujarnya lagi.

Mendengar omongan Sarah membuatku lumpuh. Betapa terlalu baiknya wanita disebelahku ini. Bahkan jika aku menjadi Sarah, aku ingin menampar diriku sendiri. “Tolong jangan bilang gitu Sar. Gue harusnya minta maaf sama lo, minta maaf sama keluarga lo, dan harusnya minta maaf sama Keira”. Ujarku. Kini aku mulai mengangkat kepalaku.

Sarah hanya memandangku. Lalu ia mulai berdiri. “Kan, gue cuman minta satu. Tolong jaga Keira sampai dia sadar. Setelah itu, terserah lo mau ngapain. Semua tergantung elu dan Keira” Ujar Sarah. Setelah itu ia pergi meninggalkanku sendirian di ruang tunggu. Sendiri disini dan penuh dengan rasa bersalah.


*baca chapter prologue.