VISUALISATION: Chapter 2

On Night 23.30

Frustasi. Sudahi. Pergi. Mendapatkan memori yang abstrak sudah buat pusing, tapi memori terstruktur ini lebih rumit dibanding yang kukira. Bukan hanya memori yang kudapat. Emosi, situasi, kondisi fisik, dan jiwa juga ku rasa. Memori paling emosional dalam hhidup. Dingin, sesak, sunyi, sepi, penyesalan, terasa menusuk. kenapa hanya aku yang bisa melihat semua ini? Perasaan ini? Apa bagusnya untukku? Sudah berjam-jam aku merenungkan kejadian kemarin dan renungan ini menghasilkan tangis akut dengan kesimpulan yang nihil.

Hospital 08.30

“Ibu…” panggilku pelan sambil membuka pintu ruang inap

“Adek, tumben datangnya pagi betul” sahut ibuku halus.

Setiap hari pasti aku sempatkan datang kesini untuk menemani ibu. Ibuku sudah cukup tua dan kakinya diamputasi 1 tahun yang lalu karena kecelakaan saat naik bus. Sekarang ibuku harus dirawat inap karena kondisi fisiknya sudah menurun

Tapi setiap libur kupastikan aku menginap dan biasanya selalu membuat makanan untuk ibuku. Namun hari ini tak sempat. Bouquet bunga menjadi penggantinya pada hari ini.

bu, maaf aku lupa masak” kataku sambil memberikan bouquet bunga pada ibuku.

“dek, kamu kenapa? Abis nangis semalam suntuk?” tanpa basa-basi ibuku langsung tau sembab dimataku.

Ini salah satu faktor yang membuatku sayang ibu. Dengan kondisi fisik yang lemah begini, kepekaan dan pemikirannya masih terus ada. Ditambah lagi senyum ledeknya yang membuat ia tetap cantik tanpa menghilangkan image pintarnya.

“Kini memoriku nambah lagi bu, sekarang jadi semakin terstruktur” kataku dengan nada pelan.

“Aku bisa merasakan emosi, kondisi fisiknya…” lanjutku dengan suara yang semakin bergetar.

Akupun menceritakan semuanya. Sambil mendengar ceritaku, ibu hanya tersenyum dan diakhiri dengan dekapan hangat darinya.

Ibu adalah orang pertama yang menerima keanehanku. bahkan saat kecelakaan satu tahun yang lalu aku sudah memperingatkan ibuku dan saat itu ibuku bilang ‘ibu percaya kamu dek, tapi ibu harus pergi. Terimakasih sudah memberi tau ibu” dan saat kecelakaan itu ibuku mengorbankan kakinya untuk seorang balita yang akan tertimpa runtuhan tiang.

“ibu, untuk apa aku bisa melihat memori seseorang jika aku tak bisa menyelamatkan mereka?”

“Bukan tidak. Belum…” Sahut ibuku.

“Tapi waktu kejadian kaki ibu..”

“Waktu itu ibu tidak menuruti perkataanmu. Walau ibu sedikit menyesal tapi lihat, ibu bisa menyelamatkan seorang anak yang mungkin terenggut nyawanya bila ibu tidak menolongnya” Katanya. Sambil mengelus kepalaku

“Dek, Ibu bangga sama kamu. Kamu itu kuat. Kamu ga pernah malu dengan apa yang kamu miliki. Kamu masih bisa dan bahkan punya banyak teman dengan menjadi diri sendiri. Kamu selalu ceria, aktif, kamu juga bukan orang yang pendiam dan suka menyendiri. Padahal dengan keadaan seperti ini mungkin orang lain akan lebih suka menutup diri. Tapi kamu tidak. Kamu bisa keluar dari itu semua. Ingat ya dek, selama kamu merasa apa yang kamu lakukan itu benar, jika kamu ingin bantu laki-laki itu, ibu pasti dukung kamu. Asal hati-hati dan pertimbangan matang-matang. Oke?”

Perkataan ibuku membuatku tercengang. ‘ibu, gimana coba aku mau benci sama ibu? gabakal bisa’ pikirku dalam hati.

Iya bu, Terimakasih 😊” balasku dengan senyum terbaik.