Cinta Itu Luka, Kau Tahu…

“Bagaimana jika nantinya kau juga akan pergi? Pastinya meninggalkan semua kenangan yang begitu manis, namun perih jika kembali diingat. Aku takut.”

Cinta itu luka, Sayang. Maukah kau menjadi penawar bagi luka-lukaku yang lalu? Aku masih belum bisa menganggapmu berbeda dengan lelaki yang dulu sempat aku kenal. Mereka terlihat sama; tampak baik di awal, dan selalu mengatakan hal yang sama. Seolah aku adalah persinggahan terakhirnya. Namun setelahnya, mereka pergi begitu saja. Meninggalkan luka yang tak bakal tanggal. Dan itu tentu saja membuatku trauma hingga sekarang.

Kau tau? Beberapa tahun belakangan, aku hanya mencari kesenangan dengan beberapa lelaki. Hanya untuk teman chat misalnya. Ya, mereka masih tetap sama; mengatakan cinta, dan bla, bla, bla lainnya. Aku hanya mengiyakan saja — agar masih memiliki seseorang yang istimewa. Meskipun mereka tak pernah menyentuh, bahkan hati terluarku.

Jangan kaget, aku adalah perempuan yang sebenarnya masih polos perihal begitu. Kau tau? Kau adalah orang pertama yang menggenggam tanganku — itupun karena aku benar-benar kedinginan. Juga orang pertama yang bahunya kusinggahi — entah naluri apa yang membuatku berani melakukan itu. Yang jelas, aku merasa begitu nyaman berada di dekatmu. Ah ya, kau pun orang pertama yang menemaniku melihat senja di pantai. Dan sialnya, bukankah hal-hal pertama tak akan bisa tanggal dari ingatan?

Kali ini, aku benar-benar terjebak dengan ketakutan-ketakutanku sendiri — takut kehilangan, takut tak bisa melupakan, takut tahun-tahun terakhirku tanpa dirimu adalah kesunyian yang tak berujung. Bahkan sampai sekarang, aku sering menekankan pada diriku sendiri bahwa aku hanyalah adik tingkatmu, dan kau kakak tingkatku. Tak lebih dari itu — ya, meskipun kenyataannya memang begitu. Jadi, aku tak memiliki hak apapun atasmu. Termasuk hak untuk cemburu atau merindukanmu.

Ah, biarlah semua berjalan dengan semestinya. Toh, aku sudah mempersiapkan diriku untuk sakit hati — itu hal biasa yang juga biasa aku tangani sendiri. Semoga kau bahagia. Sekian!

Salam rindu, Arkadia

Boyolali, 21 Agustus 2018

Like what you read? Give Arkadia Lawalon a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.