Cemani

“Kamu terlempar ke dalam sebuah boks yang gelap pekat beberapa saat yang lalu. Tanpa ventilasi, tanpa cahaya. Setelah beberapa waktu, kamu terbangun dan mencoba memahami posisimu saat ini. Di dalam kegelapan sangat sulit untuk benar-benar yakin bahwa matamu terbuka, sehingga satu-satunya alat indera yang bisa kamu andalkan adalah telinga. Kamu diam dan berkonsentrasi, mencoba menajamkan pendengaran. Begitu senyapnya tempat ini. Semakin lama kamu berusaha keras semakin kamu merasa tuli. Gerak-gerikmu sendiri tidak menggaungkan bunyi. Napasmu sendiri tidak menghasilkan suara. Jangankan bahana, mengharapkan dengungan kupingmu sendiri saja tidak mungkin. Pada saat itulah kamu dihantam kemungkinan: bahwa kamu tidak bernapas dan tidak bergerak.

Lalu, kemungkinan lain. Bahwa kamu tidak ada.

Di antara segala hal yang eksis di dunia ini — manusia, hewan, tumbuhan, benda mati, planet, galaksi, partikel, bahkan elektron — kamu tidak. Di antara segala hal yang mengambil bentuk di semesta ini, kamu tidak. Kamu… begitu… sendiri.

Kesendirian yang tidak berbentuk, yang hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang tidak berwujud. Itupun kalau yang kausebut “mereka” benar-benar ada.

Tentu saja “mereka” ada. Jika “mereka” tidak ada, maka kamu tidak mungkin bisa memikirkan kemungkinan “mereka” tidak ada.

Keber-ada-an adalah sebuah topik pemikiran yang begitu rumit, yang tak berujung dan berpangkal. Tidak seperti cinta ibu, meski tak berujung, ia berpangkal. Kamu tersentak dan mengernyit. Pikiran tentang ibu? Aku akan melakukan hal yang sama jika menjadi kamu. Ambu, aku memanggilnya.

Aliran nalar ini mulai diwarnai emosi. Kamu menghentikannya dengan segera. Tidak bijak bagi seorang filsuf untuk mencampurkan rasio dan perasaan. Tetapi, dari segala sungai di dunia ini, yang kata Herman ada di mana-mana, sungai emosilah yang alirannya paling liar dan deras. Oleh karena itu, kamu menyegelnya kuat-kuat. Aliran yang hanya akan membanjir dan tak terkendali. Kamu tidak membutuhkan itu. Kamu tidak butuh sentimen.

Segera setelah kamu mencoba mengakhiri aliran alar itu, kamu mencatat betapa sulitnya hal itu untuk dilakukan. Semakin kamu membatin “jangan”, semakin kencang arusnya. Tetapi, kamu terus mencoba sekuat tenaga menggunakan seluruh energi minda yang tersisa untuk menutup keran itu. Sampai keringatmu menggelitik ketiakmu dan merosot di pelipismu. Jika ada udara, maka inilar saatnya kamu mengembuskan napas keras-keras mencoba melawan perasaan ingin menangis karena putus asa.

Tetapi, Abah bilang menangis adalah perbuatan sia-sia. Terserah kalau ingin menangis, tapi aku tidak akan mengubah apa-apa. Jadi, kamu tidak menangis, karena menangis hanya membuatmu merasa semakin sengsara. Untuk apa mengasihani diri yang tidak pantas dikasihani? Jadi, kamu hanya diam. Di situ, duduk di kegelapan. Di ruang — boks — yang entah berbatas atau tidak. Kamu mencoba menggerakan tanganmu yang tidak berbentuk itu. Dalam ketiadaanmu, kamu menyadari bahwa boks tempatmu berada pun tidak memiliki rupa. Mungkin ada batasnya, tetapi entah di mana. Jadi, kamu hanya diam. Di situ, duduk di kegelapan tinah tau sampan kapan.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.