Dampak FDS Terhadap Santri Nahdliyin

APA yang salah dari “full day school”? Tidak ada yang salah. Kenapa ditentang?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menarik saya untuk mengulas, kenapa sekolah delapan jam dalam sehari ini harus dipaksa untuk dijalankan, dan kenapa harus diperjuangan untuk ditentang?

Sebelumnya, saya sampaikan, apa yang saya katakan dalam tulisan ini tidak perlu sampean imani. Cukup enam rukun iman saja yang harus sampean imani. Tidak perlu ditambah lagi. Namun begitu, apa yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini berdasar sejumlah informasi yang saya dapat dari berbagai sumber.

Saya bukan bagian dari orang yang fanatik menentang sekolah lima hari yang digagas Abah Muhadjir Effendy. Tapi saya juga bukan orang yang mengamini idenya Kemendikbud yang dicintai orang-orang pembaharu ini.

So, saya di tengah-tengah saja. Itu lebih aman. Aman dari segala tuduhan para penyinyir di lini masa. Lebih-lebih dikatain Mas Kaesang “Ndeso”. Hahaha…

Jauh hari sebelum Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah ini disahkan oleh Abah Muhadjir, saya sudah memprediksi permennya pak menteri ini bakal menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Utamanya antara orang Nahdiyin dan orang Pembaharu.

Kenapa saya tahu? Karena sedikit banyak saya dapat selntingan (bahasa Indonesianya sedikit informasi) siapa yang diajak rembukan dalam mengkonsep sistem pendidikan yang katanya bukan full day school, tapi penguatan karakter anak di sekolah ini. Yang jelas bukan Nahdlatul Ulama (NU). Karena yang saya tahu Ketua PBNU yang nama tengahnya saya ambil untuk anak saya itu, dengan tegas menolak konsep “ful day school”.

Bahkan, penolakan yang disampaikan KH. Said Aqil Siroj itu sebelum Permen yang mengatur jumlah hari sekolah dalam seminggu ini disahkan.

Namun begitu, saya tidak perlu menyibak terlalu detail siapa dan sekolah model bagaimana yang diajak rembukan. Yang jelas, mereka yang diajak rembukan untuk memuluskan sistem sekolah dari pagi sampai sore itu adalah sekolah-sekolah yang selama ini sudah menerapkan ful day school. Sekolah-sekolah yang menggunakan sistem asrama, bukan pesantren. (Kalau jamaah garasitulis pasti sudah paham yang saya maksud. Masak gini aja minta dijelasi secara detail). Hahaha…

Bagi saya, yang terpenting dari sistem pendidikan di Indonesia ini adalah, bagaimana mendidik anak agar memiliki akhlaq yang mulia, memiliki rasa tanggungjawab, memiliki sikap sopan dan santu dalam berkehidupan, toleran, memiliki sikap tolong menolong atau gotong royong, mengasihi yang muda dan menghormati yang lebih tua, dan semua kebagusan-kebagusan lain dalam berkepribadian, seperti tidak menjadi anak aliran garis keras. Yang selalu menganggap dirinya paling benar, dan suka mengatakan kaper orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan keyakinannya.

Tentu, tidak kalah penting dari itu semua yakni, pendidikan harus mampu merawat tradisi dan budaya atau tatanan yang sudah ada, dan sudah baik. Langsung saja, misal, yang selama ini pendidikan Madrasah Diniyah (Madin) sudah berjalan dengan baik, ya jangan sampai diotak-atik. Apalagi sampai ditiadakan. Atau bahasa halusnya diintegrasikan di sekolah. Kalau itu terjadi, ya sama saja merubah tatanan kehidupan yang sudah berjalan dengan baik menjadi tidak jelas.

Kenapa saya katakan tidak jelas. Ya, karena sampean mau merubah tatanan yang sudah berjalan dengan baik, kemudian ingin sampean ganti dengan bahasa kerennya menyatu dengan sekolah formal.

Pertanyaan saya simpel. Apa ada jaminan, semua yang sudah berjalan baik ini akan aman dari konsep baru yang anda tawarkan. Apakah ada jaminan untuk para ustad dan ustadzah Madin maupun TPQ tetap bisa mengamalkan ilmunya, seperti sebelum tatanan yang sudah berjalan baik ini sampean ganti dengan konsep anda, yang dengan dalih penguatan karakter anak tersebut. Padahal, selama ini mereka tidak pernah meriwuki sekolah-sekolah formal tatanan pemerintah. Serta, masih banyak lagi jaminan untuk memastikan bahwa semua tatanan yang sudah baik ini tidak rusak gara-gara konsep baru yang anda tawarkan.

Dan, yang tidak kalah penting untuk menjadi sebuah jaminan jika benar konsep “ful day school” ini anda terapkan adalah, apakah para santri yang sebelumnya ngaji di Madin itu akan tetap mendapat pelajaran dari kitab-kitab salaf yang selama ini menjadi pondasi kaum Nahdliyin. Apakah para santri akan tetap menerima ilmu nahwu dan sorof, ilmu yang menjadi dasar untuk mempelajari kitab kuning, jika benar nanti akan sampean integrasikan dengan sekolah. Dengan begitu, para santri akan tetap bisa memaknai kitab gundul, Al Quran dan Hadist dengan benar. Apakah ada jaminan?

Sekali lagi, apakah ada jaminan? Jika tidak. Maka, tidak usah neko-neko ingin mengintegrasikan pendidikan TPQ dan Madin ke sekolah. Jika semua itu anda tidak bisa menjamin. Sekali lagi, saya mohon konsep ini jangan diteruskan. Tolong, jangan paksa anak-anak Nahdliyin melupakan jati dirinya sebagai santri yang tetap memegang teguh tradisi salaf yang menjadi pondasi warga Nahdliyin dalam memahami agama.

Mari kita mengaca dari kasus nama Gajah Mada yang menjadi Gaj Ahmada atau Syaikh Mada. Gara-gara penemuan nama baru yang lebih islami ini, jagat linimasa sempat gempar. Sampai-sampai Universitas Gajah Mada yang disingkat UGM, pun diusulkan disingat UGA (Universitas Gaj Ahmada). Apa nggak repot jika sudah macam seperti ini.

Bisa dibayangkan, ini baru kasus perubahan nama saja sudah bikin jagat gonjang-ganjing. Lalu bagaimana jika yang dirubah itu tatanan kehidupan yang sudah baik? Tidak perlu dijawab. Tapi, pikirlah dengan nyeruput secangkir kopi sambil berfikir untuk merubah nama pak Menteri. Seperti halnya Gaj Ahmada. (*)

#athok_baiq

Show your support

Clapping shows how much you appreciated atok_baiq’s story.