Move On Setelah Serangan “7 Hari 7 Malam”

Tembok pertahanan yang saya bangun hampir enam tahun ini akhirnya jebol. Serangan rayuan dari sayap kiri, kanan, tengah, dan atas, yang bertubi-tubi dari pihak “lawan” tak lagi mampu kubendung. Sedikit demi sedikit, tembok pertahanan yang saya bangun dari hasil proyek APBD 2011 dengan menggunakan semen campuran antara Semen Gresik (SG) dan Semen Holcim yang awalnya hanya retak-retak, akhirnya runtuh. Luluh lantak.

Jala gawang yang selama ini saya jaga dengan kekolotanku anti dunia sosial media, pun akhirnya bergetar juga. Membuat diriku ini luluh untuk menerima diplomasi (bahasa lainnya, enyekan) dari para kesebelasan lawan.

Maklum, formasi yang digunakan untuk menyerang jantung pertahananku cukup janjuki. Tidak kenal waktu dan lelah. Bahkan, pernah sampai tujuh hari tujuh malam. Dan tentunya dengan tendangan yang cukup keras dan janjuki pula.

Namun begitu, saya tetap konsisten dengen keputusanku untuk tidak lagi memiliki akun facebook. Sebagai solusi atas keberhasilan diplomasi dari sohib-sohib ana yang menggunakan serangan ala komentator Piala Presiden, sekaligus tuntutan profesi, saya putuskan memilih hatinya twitter untuk move on dari facebook. Tapi sayang, gara-gara hape yang kurang suport, kekurangan fiture sosial media yang bergambar burung ini pun harus saya terima dengan iklhas (tapi ngenes). Layaknya ABG baru pacaran dengan kepolosan klisenya yang siap menerima kekurangan dan kelebihan pasangan (pret…).

So, kini saya punya akun jejaring sosial baru. Namanya @atok_baiq (folow ya…). Dan karena baru, saya pun masih ndlumukan untuk memainkannya, sama seperti saat saya main bola (yang ini serius, bukan main bola sama istri). Tendang kanan mleyot ngiri, tendang kiri mlenceng nganan. Bahkan, saat bola yang tinggal masukin ke gawang, pun kadang masih minta bantuan istri. Hahahaha…

Sejalan dengan jalan mulus jamannya Bu Heany, dan jalan lebar jamannya Pak Huda. Kini, saya pun mulai lihai memainkan si burung kecil berwarna biru muda itu. Malahan, kadang-kadang bisa berkicau dan mengomentari cuwitan burung orang lain. Tak hanya laki-laki, tapi juga perempuan yang punya burung. Malah terkadang cuwitan burungnya lebih panjang dan menggemaskan ketimbang yang laki-laki. Wkwkwkwkw…

Mohon dimaklum, saya mahasiswa baru (maba). Masih butuh orientasi untuk menjalankan intruksi pelatih Jack Darsoy. Layaknya pemain sepak bola yang baru belajar, untuk bisa lihai dalam bermain kulit bundar, ya harus rajin berlatih. Utamanya saat ada wifi. Maklum, paketan nggak ada, sebab Pak-Etan lagi di sawah.

Karena saya saat ini sudah punya twitter. Maka saya tidak lagi “ndeso” (awas nasib seampean bisa seperi Mas Kaesang yang dilaporkan ke polisi). Sejurus tak lagi Ndeso, kini saya mulai banyak punya teman di dunia jejaring sosial. Mulai dari teman yang saya tidak kenal, hingga teman yang juga tidak kenal saya. Tapi tidak masalah. Yang penting mereka tak retweet. Dan, kadang-kadang juga tak cenet gambar love. Utamanya buat Dek Maudy Ayunda dan Mbak Dian Sastro yang masih ca’em. Wkwkwkwkwk… Ndeso.

@atok_baiq

Show your support

Clapping shows how much you appreciated atok_baiq’s story.