Sadarlah, Kalian Bukan Tuhan

DULU. Dulu banget (saat saya masih belum mampu beli hape), saya sempat berfikir, orang yang sering memberikan komentar dalam sosial media adalah manusia yang cerdas dan kritis.

Namun, seiring dengan maraknya jomblo yang tak kunjung dapat pasangan. Dan, meningkatnya angka kemiskinan di tanah kelahiran saya, Kabupaten Tuban. Kini, saya kembali berfikir ulang tentang pendapat saya di atas.

Dan, sekarang saya sependapat dengan dawuhnya Bung Arman Dhani; bahwa menahan diri untuk tidak mengomentari segala hal adalah kemewahan tersendiri. Lebih lengkapnya saya tambahi, menahan berkomentar itu bisa menyelamatkan mereka-mereka yang jomblo dari tuduhan mendukung LGBT. Hahaha
 
 Bagaimana tidak, diera sosial media yang sudah kepalang brengsek ini semua orang bebas berkomentar. Bebas menjadi pakar dan ahli dadakan. Tak heran, pepatah yang dulu “sedikit-sedikit menjadi bukit”, kini pun sudah tidak berlaku. Sudah diganti, sedikit-sedikit dikatain kafir, sedikit-sedikit dikatain sebagai penis-ta agama. Dan yang paling parah, dan kasihan adalah mereka yang hingga saat ini masih jomblo. Tidak komentar saja dibilang mendukung LGBT. Gak komentar salah, komentar tambah salah. (Tidak usah mewek. Jodoh sampean masih di tangan Tuhan. Tapi mbokyao Tuhan iku kolo-kolo “didemo” dengan doa. Minta segera ditemukan jodoh sampean). Wkwkwk
 
 Teranyar, gara-gara film pemenang Police Movie Festival 2017 yang berjudul: Kau Adalah Aku Yang Lain, jagad dunia siber jadi latah dalam memberikan komentar. Mulai dari menyudutkan kelompok ini, kelompok itu, dan kelompok anu, ini, dan itu. (sekuel filmnya gimana toh, saya belum lihat). Hahaha

Dan, asal kalian tahu. Film kontroversial ini hanya sebagian contoh kasus, yang memang lagi ngeh-hits. Sudah banyak contoh kasus lain yang bikin orang dikafir-kafirkan. Seakan sudah menjadi Tuhan kedua yang memiliki hak prerogatif dalam memberikan lebel orang kapir. (Subhanallah… istighfar, kita ini hanya manusia yang urusan jodoh saja masih apa kata Tuhan. Dan, sadarlah, kalian bukan Tuhan).
 
 Jangankan film yang jelas-jelas ada sekuelnya, salah mebuat status saja bisa membuat sesorang menyesal seumur hidupnya. Dibuli hingga masuk jeruji.
 
 Bercermin dari sejumlah kasus yang ada. Saya sebagai hamba yang selalu berusaha mendoakan para jomblo agar segera menemukan tulang rusuknya yang “hilang”, akan sedikit memberikan tips untuk memanfaatkan sosial media secara bijak.
 
 Pertama, jangan suka mengunggah sesuatu yang belum jelas kabarnya (kalau Brimob ya jangan dibilang Gegana ((kasus dugaan bom di Kecamatan Plumpang, Tuban, yang sudah kadung update status Gegana, tapi ternyata BKO Brimob)).

Kedua, jangan suka menulis satatus yang berbau SARA (kalau Saras 008 tidak masalah). Ketiga, jangan suka komentar jika belum tahu duduk perkaranya (bahasa Tubannya, jangan asal jeplak atau nyongor). Keempat, jangan suka menyinggung perasaan orang lain (apalagi perasaan para Jomblo).
 
 Kelima, dan yang terakhir, semua yang saya sebutkan diatas itu bisa kalian hindari apabila hape kalian selalu bersih dan suci dari kuota. Wkwkwk…
 
 Hidup ini tidak usah kalian buat ribet dan saling jengah. Apalagi merasa paling benar dan suka mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak sependapat dengan kalian. Saling menghormati dan menghargai antar sesama itu lebih baik. Dan, itulah sejatinya makhluk sosial yang hidup di dunia (dunia yang bulat, bukan dunia yang kotak). (*)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated atok_baiq’s story.