How Do I Change!

Judes, cuek, singkat. Dulu predikat itu selalu menempel di ingatan orang-orang. Namun jika dikupas sifat-sifat tersebut, orang-orang akan lebih ingat. Ceria, ceroboh, pelupa, kadang menggila. Itulah yang dikatakan orang-orang. Sudah berusaha mengubur masa kecilku yang memalukan, tapi tetap saja malu jika teringat. Untung teman-teman tidak ingat, dan aku tidak akan mau mengingatkan mereka mengenai hal-hal itu dulu. Mari aku mundurkan waktu.

Jagoan. Akulah jagoannya di kelas. Siapa yang berani dengan temanku, apalagi aku, akan kuhajar. Ya ampun. Bahkan ketika itu aku masih di bangku TK. Terkadang anak-anak laki itu pengecut sekali. Mereka hanya berani ketika aku sedang lemah. Dulu ketika jam istirahat, aku muntah-muntah dan hanya diam di kelas sendirian. Tiba-tiba mereka berdua masuk dan menguji kesabaranku. Zaman anak-anak, rambut diikat tinggi. Dan kala itu rambutku dimainkan oleh mereka. Aku tetap diam. Tidak melawan. Sampai akhirnya mereka pergi.

Tidak berhenti di zaman itu saja. Sepertinya sifat petarungku ini belum padam sampai memasuki jenjang SD. Kelas 2, entah ingatan samar-samar ini menceritakan aksi heroikku. Aku tidak tahu betul apa penyebab pergulatanku dengan semua murid laki-laki kelasku. Seingatku, aku hanya ingin membela anak-anak perempuan saja dan tiba-tiba mereka tidak terima. Pergulatan itu diakhiri dengan tangisanku. Bagaimana tidak menangis, si pemilik badan besar itu memelukku dari belakang dan menyuruh teman-temannya menghajarku. Untung ketika itu seorang guru melerai kami. Dan aku selamat!

Sesudah itu, aku kira kobaran api dalam hatiku untuk bergulat sudah benar-benar padam. Namun ternyata kembali lagi! Tidak di sekolah, kali ini di tempat les. Itu adalah hal memalukan terakhir sebagai perempuan sejati. Aku menonjok hidung teman laki-lakiku. Aku tak ingat apa yang membuatku menonjok hidungnya! Kemudian dia menjambak rambutku. Pergumulan kami diakhiri dengan leraian temanku. Di waktu terakhir itu aku benar-benar berjanji untuk tidak banyak tingkah lagi dan berubah menjadi gadis kalem.

Masa-masa SMP inilah aku bisa melupakan semua sifat petarungku dulu. Aku tak ingin mengungkit-ungkit lagi semua cerita menyeramkan itu. Aku bertekad ingin berubah menjadi ga-dis. Tapi itu sangat sulit bagiku. Memakai lip gloss atau lip balm seperti teman-temanku saja tak bisa. Ketika mereka membicarakan kosmetik, gosip, atau hal-hal feminin aku hanya bisa menjadi pendengar. Kecuali dalam hal tas dan sepatu, aku langsung berbicara layaknya penceramah. Ketika aku berbicara tentang teknologi, atau video game mereka tidak akan mengerti. Ketika mereka mencoba menggunakan lip gloss baru mereka, aku hanya melihat dan menjadi komentator pertama bagi mereka. Aku masih suka melakukan hal-hal yang tidak dilakukan semua teman perempuanku. Yah, jujur. Aku lebih suka berolahraga, terkadang papa memarahiku karena memanjat pohon sawo terlalu tinggi. Hm, terkadang hacking adalah time killer-ku. Ini sulit.

Aku melampirkan hasil jepretanku sendiri supaya tidak bosan 😹 — Aku ada di kiri!

Kakak berulang tahun dan menerima kado yang bagus dari teman-temannya. Sedihnya, aku jarang sekali bahkan tak pernah menerima kado dari teman-temanku, walaupun aku ini terkenal dengan keahlian menggambar yang superb. Kakak menerima sebuah alat kosmetik seperti yang teman-temanku punya. Sebenarnya ketika itu mataku berbinar-binar dan ingin sekali mencobanya. Namun kakak juga mengenalku sebagai anak tangguh dan banyak tingkah, jadi ia tak mengizinkanku menggunakannya.

Inilah kejahilan dan kenakalanku. Aku tahu yang kulakukan tidak boleh, tapi kakakku sering melakukan ini padaku. Jadi santai saja. Aku suka membuka-buka barang kakakku. Ketika itu aku menemukan hadiah yang diterimanya kemarin. Aku melihat dari atas sampai bawah benda mungil itu, karena benda itu adalah hal baru bagiku! Aku membuka dan mencobanya. Sangat aneh. Melekat manis di bibir tipisku. Ternyata ini rasanya. Aku mencoba foto diriku dengan SLR, karena aku tahu aku lebih cantik dari kedua kakakku. Itu fakta! Papa bilang padaku dan aku memang cocok jika melakukan photo-genic.

Selang beberapa hari, aku ketahuan memakai lip gloss kakakku. Aku bersikeras bahwa aku tak menggunakannya dan ia tetap menuduhku, walau itu benar. Aku sangat malu dan terpaksa berbohong.

Kamu kan nggak endel, ngapain pakai begituan. Ya kan,Li?

Ucapan mama melekat di memoriku. Aku memang tidak feminin. Dan aku berusaha menjadi seperti itu. Sulit! Hal yang selama ini kusembunyikan adalah ketika aku kesal terhadap sesuatu, aku pasti akan menendang atau memukul objek yang ada di dekatku. Bukan menendang atau memukul biasa. Tentu saja ada unsur jurus Taekwondo yang kuikuti dulu. Semua yang kutulis ini adalah betapa menyedihkannya diriku untuk menjadi perempuan yang kalem. Dalam perjalanan yang hampir sempurna ini, aku pernah hampir menghancurkannya. Aku disapa salah seorang teman ketika berjalan pulang. Sialnya, kukira itu orang jahat dan aku hampir menyikut wajahnya dari belakang.

Yah, bisa dibilang ini adalah curahan hati dan itu memang benar. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca kisahku yang sedikit memalukan ini. Berkunjunglah ke web karyaku di bio!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.