Cahaya-Nya

Mereka yang melihatku dengan jeli dan hati-hati pasti mengetahui aib yang ada di tubuhku. Sakit! Ketika mereka bertanya tentang aib ku. Aku hanya menjawab

“Tak apa”

Lalu senyum. Memalukan.

Well, semua orang tidak ingin memiliki aib sedikit pun.

Ya! Aku mantap merombak hijab ku yang pendek dan penuh jarum dengan menjulurkannya jauh lebih panjang seperti mereka yang di majelis. Itu cara yang ampuh. Oh! Tapi bukan ingin seperti mereka yang taat. Ini untuk menutupi aib ku.


Burung-burung mulai berkicau:

"assalamualaikum bu haji!",
"tenggelem sama hijab!",
"subhanallah umi!",
"sok alim!",
"kepanjangan tuh!".
“udah panjang, tapi masih keliatan rambut. sama aja!”

Ugh berisik!.Tak ada lagi yang bertanya tentang aib ku yang memalukan, melainkan mempermasalahkan hijab syar’i ku. Aku lega. Masa bodoh dengan orang yang mempermasalahkan hijab syar’i yang ku kenakan.

Aku ingin menutupi aib. Bukan ingin jadi seorang yang alim. Bukan.

Namun, wanita-wanita yang ku kenal taat dan salihah,merasa aku adalah bagian dari mereka.

Setiap hari merayuku dengan lembut agar mengikuti rutinitasnya. Sungguh! Aku muslim tapi tidak ingin terlalu dekat dengan Allah. Aku senang bepergian dengan teman wanita ataupun pria untuk bercanda ria. Aku tidak membedakan gender untuk bersenang-senang. Oh! Sedikit bebas lebih asyik.

Bukan seperti mereka yang taat, yang hanya berkumpul dengan se ’jenis’ nya dan tidak ramai. Sangat membosankan.

Nanti saja ikutnya, setelah jadi ibuk-ibuk.

Tapi, tidak dengan hijab syar’i ku sekarang. Mereka (baca: teman wanita dan priaku) anggap aku sudah suci. Tidak mau bepergian lagi bersamaku. Hijabku bermasalah jika kita bermain ke tempat yang asyik, katanya.Mereka menjauhiku secara perlahan.

Huh! Bukan ini yang kuharapkan.

Serba salah!


"Ayo!"

Sampai saat ini,mereka masih mengulurkan tangan padaku dengan tulus. Ya! Mereka yang salihah itu. Ketika aku terpuruk mereka masih saja mengganggu dengan senyuman.

Tapi, aku kesepian. Tak ada salahnya aku mencoba.


Aku diperdengarkan lantunan ayat suci, dibimbing untuk sering membacanya, diperdengarkan ceramah, menjalankan sholat berjamaah, mengikuti sunnah nabi, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk bekal akhirat ku. Hatiku merasa tenang dikelilingi mereka.

“Setiap minggu, kita ketemu di masjid ya..”

Tidak!

Aku Ingin setiap saat.

Kegiatannya sulit untuk ku lakukan, pertama-tama. Namun sikap hangat, manis, dan sikap sabar mereka membimbingku, membuat hatiku tetap ingin tinggal. Aku merasa mereka sangat menyayangiku seperti bayi. Ini nyaman. Diluar ekspektasi.

Bersama mereka, aku tahu tentang adanya batasan non mahrom, pentingnya shalat, adanya kematian, menjaga aurat, akhlaq muslimah, dan hal-hal yang seharusnya diingat oleh seorang muslimah.

Untuk melakukan kebaikan, sebaiknya jangan di tunda-tunda. Jadilah muslimah seutuhnya. Muslimah yang sangat dekat dengan Allah.

Hatiku bergetar! Aku tak ingin melepaskan mereka. Aku butuh mereka. Mereka yang menuntunku dengan perlahan serta penuh kasih sayang agar aku menjadi muslimah yang berusaha melakukan kebaikan semata-mata karena Allah.


Berawal dari niat menutupi aib.
Tidak dengan sekarang!
Mulai hari ini, dan selamanya
aku niatkan hijab syar’i ku hanya karena Allah. Ada aib ataupun tidak, aku tetap akan menjaga hijab sesuai syari’at-Nya. Berusaha menjalankan kewajiban ku sebagai muslimah.

Aku yakin, hijab syar’i adalah awal ku yang ditentukan Allah agar aku menjadi muslimah yang lebih baik lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.