Look at Me!

Aulia Ramadhanti
Jul 20, 2017 · 14 min read

“Jadi gak pa berangkat pagi?”

“Jadilah jam 8, ayo cepet siap siap!”

Berkas-berkas yang harus Navya bawa tertata sudah didalam tas yang akan digendong Bapanya. Botol minum yang terisi penuh pun tak lupa untuk bekal selama perjalanan. Semua itu Navya siapkan dari semalam sebelum tidur.

Dress panjang coklat tua bermotif bunga Navya padukan dengan khimar panjang coklat susu persis dengan warna bunga pada dress,menutupi hampir seluruh tubuhnya. Navya juga memakai black ring handsock (manset cincin) favoritnya karena akan menutupi kedua tangannya hingga ke jari. Kaos kaki berwarna kulit juga siap menutupi aurat kakinya.

“Masih jam setengah delapan toh..”

Navya melirik jam dinding lalu kembali memandang wajahnya dicermin sambil mengikat rambut dan memakai black inner (ciput hitam). Lalu, Navya memoles wajahnya dengan sedikit pelembab, pondation, menebalkan garis mata dengan eyeliner hitam, dan bulu matanya yang panjang ia jepit hingga lentik lalu ia sisirkan sedikit mascara. Tanpa berdosa alisnya ia sisir dengan mascara juga. Serta pink Lipmate tipis juga ia warnai di bibir mungilnya. Untuk ABG 19 tahun sepertinya, makeup-nya terlihat sangat natural dan fresh. Setelah selesai, Navya memakai khimarnya.

Navya berharap penampilannya sesederhana mungkin dan lekuk tubuh mungilnya tertutup seperti muslimah sebagaimana mestinya.

Jam menunjukkan pukul 8:00.

“Pa, Ayo!”

Teriak Navya sambil memakai sling bag coklat dan sepatu sendal berwarna krem.

Motor bebek milik Bapa Navya siap mengantar mereka ke stasiun.

“Teteh yang beli ya tiket keretanya. Gak ngerti Bapa. Hehe..”

Kereta Commuter Line mengantarkan Bapa dan Navya hingga stasiun Pondok Ranji dekat kampus baru Navya.

Sudah biasa, kereta Commuter Line dari stasiun Bekasi selalu penuh saat jam kerja. Alhasil, Navya dan Bapanya tidak dapat tempat duduk. Sambil berdiri Navya menyempatkan membaca Al-Ma’surat yang ia bawa di dalam sling bag coklatnya. Potongan ayat-ayat Al-Qur’an yang setiap pagi dan petang ia baca khusyuk yang dipercayainya untuk menenangkan hati dan menjaga dirinya dari bahaya. Mengikuti sunnah Rosulullah katanya. Kebiasaan Navya ini diturunkan dari ibunya yang tak luput dalam hal ibadah.


“Alhamdulillah ya pa. klarifikasi UKT nya ternyata di accept Bu Dekan, ganyangka lancar..”

“Iya, Alhamdulillah Teh Bu Dekan-nya ngertiin kondisi kita, tapi gatau deh nih kita masih harus nunggu keputusan kampus pusat katanya. Soalnya yang berhak ngasih keputusan akhir, ya… kampus pusat”

“Yaudah pa, Bismillah semoga kampus pusat nge-acc juga”

“Dah yuk Teh, langsung pulang. Udah jam satu. Nanti sore jam empat Bapa kerja”


Dari Stasiun Pondok Ranji Navya dan Bapanya dapat merasakan duduk di dalam kereta hingga Stasiun Tanah Abang, mereka transit untuk sampai ke Stasiun Jatinegara.

“Huhh, Ko lama sih yang Jatinegara…”

“Tau yak Teh, masa dari tadi Angke terus Teh. Aneh.”

“Tuh dia keretanya, Pa!”

Sluup! Akhirnya Navya dan Bapanya dapat tempat duduk namun terpisah oleh seorang Bapak gendut sebesar Ade Namnung dan berjenggot.

Melihat Navya berlari ketika masuk kereta, membuat Bapak gendut tersebut meledek Navya.

“Tenang dek, tenang… dapet tempat duduk,kok. haha..”

“Heehee…iya pak...”

“Dek, itu yang bulet di belakang HP buat apaan sih?”

Tiba-tiba Bapak gendut memulai obrolan dengan bertanya pada Navya sambil menunjuk smartphone seseorang yang berada di sebrang tempat duduknya.

Untuk mencoba ramah, Navya menanggapinya dengan senyum.

“Oh… itu buat jari pak. Biar gak licin gitu”

“Udah? buat jari doang dek? Gak ada positifnya? negatifnya?”

“Bisa juga pak dipake buat kalo nonton di HP. Misalnya, nonton Youtube di HP kan pegel tuh dipegang terus. Nah, di taro aja pak HPnya nanti bisa berdiri”

Duh, sotoy bet gue udah kaya SPG ring hp aja.

Gerutu Navya dalam hatinya.

Beberapa detik kemudian tidak ada obrolan lagi antara Navya dan Bapak gendut itu. Ternyata Bapak gendut tertidur. Navya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 14:00

Pemberhentian di stasiun selanjutnya, naiklah seorang pria bertopi biru navy, kurus ideal, tinggi semampai sekitar 170 cm, berbadan tegap, putih bersih, memakai earphone. Di wajahnya Tak ada kumis dan jenggot sedikitpun. Parasnya tampan dan terlihat seperti orang baik. Wajahnya hampir mirip Peter di The Amazing Spiderman. Dari paras dan postur tubuhnya, dapat dilihat usianya mungkin sekitar 29 atau 30 tahun.

Pria itu memakai jaket kulit hitam lengan panjang ditubuhnya dan terlihat memakai baju atasan batik warna campuran hitam, biru, putih, merah didalam jaketnya, serta bawahan jeans hitam. Dan tas gendong hitam di punggungnya. Penampilan pria tersebut membuat Navya menafsirkan bahwa pria itu pulang kerja atau selesai menghadiri kondangan.

Karena Pria bertopi tersebut tidak mendapat tempat duduk, ia berdiri tepat di depan Bapak gendut yang mengobrol dengan Navya tadi. Tubuh Pria bertopi itu menghadap Navya. Jadi, dapat terlihat jelas oleh Navya apa yang sedang Pria itu lakukan.

Usai menyidik Pria bertopi, Navya memejamkan matanya dengan sengaja agar tertidur karena Stasiun Jatinegara masih sangat jauh. Navya juga menutup mulutnya dengan tisu yang sedari tadi di genggamnya.

Sayangnya, suasana di dalam kereta membuat Navya tidak bisa tidur. Navya membuka matanya lagi, namun ia paksa pejamkan matanya lagi. Terus seperti itu sampai akhirnya mata Navya tak sengaja tertuju ke arah Pria bertopi yang berdiri hampir didepannya itu dan menyadari bahwa Pria bertopi itu sedang memperhatikannya. Seketika Navya membenarkan posisi duduknya dan memalingkan matanya dari Pria bertopi tersebut. Dan kembali menutup mulutnya dengan tisu.

Pria bertopi terus memandangi Navya. Navya menyadarinya namun berusaha tidak mempermasalahkannya dan tidak melihatnya.

Navya mengalihkan pandangannya pada bayi yang digendong tepat di sebrang tempat duduknya. Sesekali Navya tersenyum karena melihat bayi itu sering tertawa geli.

Pria bertopi menengok ke arah bayi itu juga. Seperti sedang menelusuri apa yang dilihat Navya. Kemudian pandangan Pria bertopi itu kembali pada mata Navya sambil menahan senyuman.

Navya sempat menyambut tatapannya sekejap namun sengaja ia alihkan lagi ke bayi yang ada di sebrangnya. Lagi lagi Pria bertopi itu menengok ke arah bayi mengikuti pandangan Navya.

Lima menit kemudian, kereta berhenti lagi di stasiun selanjutnya. Bapak gendut turun. Navya langsung mendapati Bapanya sedang tidur di kanan Navya. Diantara tempat duduk Navya dan Bapanya tak ada orang. Kosong. Namun Navya tidak ingin bergeser agar lebih dekat Bapanya. Karena otomatis Navya nantinya akan lebih dekat juga dengan Pria bertopi. Navya takut.

Navya mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Lalu, naik seorang ibu membawa anak-anaknya. Ibunya dapat duduk, namun anaknya tidak. Anak yang terlihat masih berusia 8 tahun itu tampak kebingungan mencari tempat duduk. Sedangkan, ibunya repot menggendong anak yang lainnya. Dengan senyuman manisnya, Pria bertopi langsung menunjuk tempat kosong antara Navya dan Bapa Navya tadi. Anak itupun duduk diantara Navya dan Bapa Navya. Namun, tidak menutupi kekosongan kursi itu. Masih bisa untuk satu orang duduk antara Navya dan anak tersebut.

Pria bertopi itu pun masih dalam berwajah senyum ketika memergoki Navya sedang menatapnya serius. Tanpa sengaja Navya membalas senyuman Pria bertopi itu.

Mati gue! Bisa bisa nih abang-abang duduk di deket gue …

Ternyata dugaan Navya tidak benar, beberapa detik kemudian duduklah seorang Bapak berkaos merah disamping Navya. Terisi sudah kursi antara Navya dan Bapanya tanpa sempat Pria bertopi duduk. Namun, Pria bertopi itu tampak tidak keberatan untuk tetap berdiri.

Sambil mendengar lagu dibalik earphone nya, kepalanya sedikit demi sedikit mulai bergoyang dan tangannya pun ia taruh dekat saku celana dan bergerak-gerak seolah sedang memetik senar gitar. Terlihat menikmati sekali.

Navya tertangkap basah ketika masih memandangi Pria bertopi yang tengah asyik. Pria bertopi yang tadinya melihat keluar jendela membalas pandangan Navya. Navya langsung berpaling.

Ketika Navya meliriknya lagi, Pria bertopi tertangkap basah juga sedang memandangi Navya. Lalu, Pria bertopi langsung berpaling. Mata mereka seperti bermain kucing-kucingan.

Ya Allah .. siapa sih orang ini? apa ada yang salah diwajahku? Apa dia kenal aku? Apa aku pernah ketemu ni cowo? Ya Allah … apa yang dia liat?

Navya tidak melepaskan tisunya yang masih menutupi mulutnya. Navya pikir dengan tisu menutupi wajahnya seperti masker, akan lebih baik. Namun, Pria bertopi semakin sering menatap Navya. Tatapannya seperti penasaran pada wajah Navya. Navya mulai gelisah. Jantungnya mulai berdegup kencang. Namun didalam hatinya ada keyakinan bahwa Pria bertopi adalah orang baik.

Tak lama, anak yang duduk disamping Bapa Navya turun bersama ibunya. Tempat kosong tersebut langsung dimanfaatkan Pria bertopi untuk duduk.

Sekarang jarak antara Navya dengan Pria bertopi hanya Bapak berkaos merah.

Dikirain mau turun nih orang. Eehh… malah duduk. Untung bapak yang samping gue tidur. Hhh..

Namun, keberadaan Bapak berkaos merah disamping Navya tidak menghalangi pandangan Pria bertopi pada Navya. Ia terlihat lebih senang karena lebih dekat dengan wanita yang ia tatap sejak tadi yaitu Navya.

Pria bertopi langsung melepas tasnya dan menaruhnya di bawah lalu menggulung jaketnya hingga ke siku. Navya memperhatikan setiap gerak Pria bertopi dengan heran sambil berwaspada agar pandangannya tidak tertangkap basah lagi.

Orang dingin gini. Ngapain digulung coba tuh jaket!

Navya lalu menggosokkan kedua telapak tangannya beberapa kali karena merasa kedinginan. Tak disangka, Pria bertopi melihat gerakan Navya kemudian menggosokkan kedua telapak tangannya juga persis apa yang Navya lakukan. Namun, Pria bertopi mengakhiri dengan meniup telapak tanganya dan memandang Navya sekilas.

Dugh!! Navya terhentak kaget. Jantung Navya hampir copot. Navya menelan ludahnya dengan cepat.

Eh! Astaghfirullah! Apa maksud dia ngikutin aku Ya Allah? Apa dia ngeledek aku? Apa dia juga kedinginan?

Ya Allah siapa cowo ini ??? Kalo masih ABG mah gapapa.. ini udah mas-mas Ya Allah aku takut…

Kalo kaya gini… rasanya pengen cepet punya suami biar ada yang jagain …

Ya Allah lindungi aku… aku tadi udah baca Al-Ma’surat Ya Allah… beneran dah..

Astaghfirullah.. Dia sebentar-sebentar liat aku..

Ya Allah.. Apa yang sebenernya dia mau?

Ya Allah, dari dia berdiri sampe sekarang duduk lumayan deket sama aku, dia ngeliatin aku doang sambil nahan senyuman. Padahal Wajahnya kaya pengen nanya sesuatu ke aku. Tapi sampe sekarang ga ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Ga ada yang dia tanyain. Basa basi juga engga. Bahkan ngomong ke orang lain pun engga.

Ya Allah.. Apa aku nanya duluan aja biar keliatan apa maunya? Ah tapi engga ah.. walaupun sekedar basa basi, aku kan cewe Ya Allah.. gapantes mulai duluan. Ntar dikira cewe apaan.

Pokonya aku gamau nanya duluan walaupun sekarang udah penasaran banget apa maksud tatapannya dari tadi.

Oke! Sekarang gue tantang nih orang! Gue bakal liatin terus ni cowo pake tatapan serius. Ampe dia liat gue juga. Biar dia risih, terancam, terus nanya gue. Dan setelah itu gue bisa baca apa yang dia mau. Terus abis itu gue nanya deh apa maksud dia liatin gue dari tadi. Sipp!

3 menit kemudian …

Ettt Ini orang kenapa santai aja. Kaga nanya-nanya gue. Pengecut dasar.

Suara hati Navya terus bertanya-tanya meski tak terjawab satu pun. Navya mulai memikirkan dimana posisi Bapanya berada. Setelah pandangannya bertemu Bapanya ia tenang, Bapa Navya sudah terbangun dari tidur pendeknya. Kemudian Navya memutuskan pindah ke tempat duduk sebrang karena kosong dan banyak wanita. Selain itu juga Navya sudah mulai risih dengan Pria bertopi.

Astaghfirullah.. salah gue… salah..

O’on banget gue malah pindah di sebrang tu orang persis. Duh… tuh kan dia ngeliatin gue lebih lebih.

Sekarang, Pria bertopi itu menatap Navya dengan intens. Lebih lama. Karena, walau jauh, Navya berada tepat di depannya.

Tanpa Navya sadari, Pria bertopi itu telah membuat Navya memperhatikannya juga sejak tadi walau dalam kegelisahan.

Tatapan Pria bertopi terhadap Navya membuat mata Navya berkaca-kaca dan membuat tubuhnya merinding ketakutan karena Navya berpikir sewaktu-waktu Pria bertopi bisa saja melakukan kejahatan dalam waktu singkat padanya. Sudah banyak berita yang Navya baca di sosial media tentang kejahatan dalam kereta api. Terutama berupa pelecehan seksual.

Astaghfirullahal’adzim…

Bismillahirrahmanirrahiim…

Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wabaarik ‘alaa sayyidinaa Muhammad …

Doa dan sholawat terus membasahi bibir Navya agar selalu dalam lindungan Allah. Sambil terus sholawat, Navya memberanikan diri menatap Pria bertopi yang sekarang tepat di sebrangnya.

Ya Allah… aku sekarang liat matanya… dia sedang tatap aku… aku bisa baca itu adalah tatapan baik Ya Allah… gak ada yang menunjukkan itu tatapan jahat atau tatapan kurang ajar, ga keliatan sama sekali. Lagipula aku udah berusaha tutup auratku Ya Allah. Aku yakin. Semoga perasaanku ini benar Ya Allah…

Ya Allah… seumur hidupku baru kali ini ada orang asing yang natap aku kaya gini. Tatapannya misterius. Tatapannya seolah bicara ,

“Look at me!”

Apa yang cowo itu liat sebenernya? Tatapan dia kaya nyuruh gue natap balik. Apa dia suka sama gue? Suka wajah gue? Duh gak mungkin banget. Mana ada cowo yang suka wajah gue. Gue jelek. Cowo jelek pun kayanya gak akan suka sama wajah gue! Tapi mas-mas ganteng ini liat gue terus tanpa sebab. Apa dia suka penampilan gue? Ah masa sih? Kerudung gue kan panjang! Gue juga pake manset, ciput, plus kaos kaki. Insya Allah ga keliatan aurat. Apa postur gue mengundang gairah tuh cowo? Ih apaan sih… ya enggalah! Ga mungkin! Gue pendek gini. Tinggi cuma 140 cm. Gue juga ga seksi sama sekali! Engga bahenol sama sekali! Badan gue kurus banget kaya tulang doang. Bagian ‘cewe’ punya gue depan belakang rata! Masa iya tuh cowo terpesona. Ga mungkin! Eh! Apa jangan-jangan tuh cowo ngira gue seumuran sama dia? Jadi, mau jadiin gue jodohnya Gara-gara tuh cowo kelamaan nge-jomblo!

Duh… takutnya sih gitu…

Emang tampang gue kaya umur 29 atau 30 an apa??? Enak aja! Enggalah! Malah temen-temen gue bilang gue kayak masih bocah SD.

Ya Allah, udah pake gamis dan khimar panjang gini…. Masih aja aku ngerasa terancam apa aku harus ber Niqab…?

“Tingtong! Anda akan segera tiba di Stasiun Jatinegara”

Navya langsung berhenti berbicara dalam hatinya sendiri. Navya berdiri dan beranjak menuju Bapanya yang sudah didepan pintu kereta. Navya sengaja langsung memegang pundak Bapanya dan memanggil ‘Bapa’ secara kencang untuk menunjukkan pada Pria bertopi bahwa dirinya bersama orang tua. Tidak sendiri. Benar saja. Ketika Navya melirik ke arah Pria bertopi, Pria bertopi memandangi Navya seperti tercengang. Hati Navya sangat puas. Didalam hati, Navya terus mengejek Pria bertopi.

Puas lo! Baru tau kan lo kalo gue sama bokap gue??? Dan ganyangka juga kan kalo gue juga udah mau turun??? Hahahaha…

Zregg! Tiba-tiba Pria bertopi berdiri dan menggendong tasnya. Seperti ingin turun dari kereta juga.

Oemjiiiiiiii!!!!!! Jangan bilang dia mo turun jugaaaaaa!!!!!

Pintu dibuka, langsung kedua tangan Navya memegang lengan Bapanya dengan erat, sudah tidak peduli lagi dengan wajahnya yang tidak ditutupi dengan tisu. Navya mengikuti cara jalan Bapanya yang begitu cepat. Bibir Navya terus dibasahi shalawat dan doa meski hanya terdengar oleh dirinya saja. Mata Navya mencari-cari posisi Pria bertopi itu untuk mengetahui kemana dia pergi, dan kereta tujuan mana yang akan Pria bertopi naiki Navya ingin tahu.

Namun, pandangan Navya berhenti ke satu titik. Lalu, langsung menunduk. Ternyata Navya menemukan posisi Pria bertopi tepat dibelakangnya.

Tepat sekali saat itu penjaga peron memberhentikan orang-orang yang ingin menyebrang rel karena akan ada kereta melintas.

Seketika semua orang berhenti dalam jalannya. Posisi setiap orang tidak dapat berubah karena begitu banyak orang. Berdesakkan. Pria bertopi masih tepat dibelakang Navya. Jantung Navya berdegup kencang seakan-akan orang lain bisa mendengar suara jantungnya. Rasanya Navya ingin berteriak minta tolong tapi itu tidak mungkin. Karena Pria bertopi tidak melakukan tindakan kriminal apapun terhadap Navya. Navya juga merasa tidak ada bukti apa-apa. Tidak ada saksi juga. Jadi, Navya berpikir jika Navya berteriak, Pria bertopi pasti dapat leluasa berbohong dan bilang pernyataan Navya tidak benar. Selain itu, Navya juga takut jika dirinya berteriak, Pria bertopi bisa saja menyandranya atau membunuhnya. Navya meneteskan air mata karena ketakutan. Kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya pada Navya. Navya takut terjadi sesuatu pada dirinya. Namun, Navya alihkan kecemasannya dengan doa perlindungan pada Allah serta shalawat.

Allahumma… Ya Allah lindungilah aku dari segala macam kejahatan…aku ga akan bilang ke Bapa soalnya aku gamau buruk sangka dulu. Lagian kalo aku bilang Bapa, cowo itu bisa habis dihakimi Bapa seenaknya. Sedangkan cowo ini engga ngelakuin hal-hal yang kriminal ke aku. aku yakin ni cowo orang baik… kalo bukan, pasti dia udah ngelakuin sesuatu yang jahat atau tidak senonoh ke aku karena dia tepat dibelakangku. Ya Allah… Semoga kehendak-Mu sesuai dengan prasangka hamba-Mu ini.

Setelah berhasil menyebrang, Navya dan Bapanya berhenti sejenak untuk mencari di mana posisi jalur kereta api tujuan Bekasi . Navya sudah menduga bahwa Pria bertopi ini ikut berhenti. Ketika Navya menengok ke arah Pria bertopi, Pria bertopi dengan cepat menundukkan kepalanya berpura-pura memainkan smartphone nya.

Yeh… Pengecut banget sih! Kalo mau kenalan ya nanya kek, basa basi kek. Ini beraninya cuma ngeliatin doang!!! Gak sopan! Payah!!

Dalam hati Navya bersuara lagi.

“Pa, di jalur ini pa keretanya! Yah tapi masi lama keretanya. Ini aja udah jam setengah empat. Gimana Bapa mau kerja”

Navya sengaja mengencangkan suaranya.

Tidak lama, Pria bertopi menyebrang rel menuju jalan keluar Stasiun Jatinegara. Namun, dia tidak keluar stasiun melainkan berdiri memandangi Navya dari sebrang rel. Sekarang, jarak antara Navya dan Pria bertopi adalah rel kereta api.

Iiiih… dia tuh sebenernya mau kemana sih? Apa dia mau ke Bekasi juga? Tapi kan kalo mau ke Bekasi kenapa ga disini aja? gaperlu nyebrang. Apa dia mau beli sesuatu ke swalayan? Tapi dia gamasuk tuh ke swalayan.

Mata Navya berkaca-kaca. Sekarang Air mata mulai membasahi pipinya. Dengan cepat Navya hapus agar tidak membuat Bapanya khawatir. Lalu, Navya berbicara lagi dalam hatinya.

Ya Allah.. dalam jarak jauh pun dia masih jaga pandangannya kesini. Ga berpaling sama sekali. Apa yang dia lihat sebenernya Ya Allah? Apa yang dia tunggu? Dari tadi pas ada dideket aku pun dia ga ngeluarin suaranya buat nanya ke aku sama sekali pedahal seengganya di kereta kita udah interaksi saling senyum. Biasanya orang kan abis senyum langsung basa basi atau nanya. Tapi ini engga. Dia itu mau apa sebenernya? Ya Allah beri aku petunjuk. Aamiin.

Pertanyaan-pertanyaan dalam hati Navya tidak ada yang terjawab satupun.

Karena jaraknya agak jauh, Navya berani balas pandangannya sesekali. Lalu ketika Pria bertopi seperti bersiap ingin senyum, Langsung Navya sembunyikan wajahnya dibalik pundak Bapanya berusaha agar si Pria bertopi jengkel. Setelah sekitar 8 detik Navya memberanikan diri menatapnya lagi. Namun, didapatinya Pria bertopi sudah memakai masker abu-abu di mulutnya. Hanya terlihat matanya saja yang masih tetap tidak melepas tatapannya pada Navya meskipun dari sebrang rel. Tatapannya Seakan-akan berbicara ,

“Please… Look at me! Look at me! Oh… Please, please!”

Navya semakin berani menatap Pria bertopi karena Navya tahu masker menghalangi Pria bertopi untuk senyum. Navya merasa risih jika Pria bertopi melontarkan senyuman.

Tak disangka, tatapan Navya yang sangat lama membuat Pria bertopi membuka maskernya tanpa melepaskan pandangan dari Navya. Seperti ingin mengatakan sesuatu.

Gerakannya seolah terbaca oleh Navya bahwa dari jauh Pria bertopi sedang bicara ,

Eh! akhirnya neng… lu liat gue lama banget. Tadi pas gue ga pake masker mata lu sliweran kaga liatin gue balik. Tunggu! tunggu! Tetep liat gue! Jangan liat yang lain dulu! Ini gue mau buka masker nih. Mau ngomong.

Navya kaget mendapati Pria bertopi malah bergerak membuka maskernya.

Upppss! Ok gue balik badan!

Srekk…!

Gue yakin kalo ada yang mau dia omongin baik-baik dia bakal nyamperin gue. Gue gamau sampe dia ngomong dari sebrang sana. Dan ngebuat gue kaya orang idiot nantinya nebak kata yang dia omongin dari sebrang sono. Ogah. Dia kan udah gede keliatan udah tua malah masa iya gangerti etika.

Meski dalam posisi balik badan, Navya masih bisa melihat Pria bertopi itu melalui kaca jendela ruang petugas kereta api.

Ehh! Kok dia pake lagi maskernya?…. hahaa… masa gaberani nyamperin gue buat ngomong. ewwh. Cowo apaan tuh.!

Loh loh loh.. kok? Kok dia pergi? Jalan kemana tuh? Ko keluar Stasiun Jatinegara sih? Sumpah kirain gue dia mau naik kereta Bekasi!

Ehh..! Demi apaaaaapun ..!

Dengan dia keluar stasiun, udah jelas pokonya sejelas jelasnya! Keluarnya dari stasiun ngejelasin bahwa cowo pake topi itu berdiri di sebrang rel sana cuma mau nyuri kesempatan liat gue lebih lama. Iya kan?

Dari tadi gue berusaha engga GR, tapi emang bukan GR! Dia keluar stasiun berarti udah selesai dong perjalanan dia pake kereta? udah tinggal keluar terus pulang. Lah kenapa ga dari tadi hayo? Ngapain dia berdiri di sebrang sana selama kurang lebih 15 menit?

Duh ini gue didalem hati aja ribut yak.

Astagfirullah…

Ya Allah kalo emang cowo bertopi itu bermaksud baik, dekatkanlah aku dengannya… pertemukan kami lagi di tempat yang Engkau ridhoi.

Tapi, kalo cowo bertopi itu bermaksud jahat… aku mohon Ya Allah… agar Engkau memberinya hidayah. Dan jauhkan aku darinya, jangan pertemukan aku dengannya lagi selama-lamanya. Aamiin.

Serba ketidaktahuan Navya atas semua maksud tingkah laku Pria bertopi sangat mengganggunya. Membuat Navya penasaran bukan main selama dua hari setelahnya. Pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya terus ia putar berulang-ulang saat makan, menyapu, sebelum tidur, meski tak ada gunanya. Navya berharap ada jawaban turun dari langit.

Tak lupa, saat sholat pun Navya terus meminta petunjuk pada Allah, meminta ampun atas segala prasangka, dan mendoakan agar Pria bertopi mendapatkan hidayah dan berharap Pria bertopi memang orang yang baik dan selalu dalam keadaan baik-baik saja.

Setelah itu, Navya bersujud dan tak lama terbersit di pikirannya bahwa Pria bertopi itu adalah orang baik yang tidak dapat berbicara (bisu).

Wallahu a’lam…


Doa Meminta Perlindungan dan Terhindar dari Kegelisahan

Allāhumma innī a’ūdzubika minal hammi wal hazani. Wa a’ūdzubika minal ‘ajzi wal kasali. Wa a’ūdzubika minal jubni wal bukhli. Wa a’ūdzubika min ghalabatid daini wa qohrir rijāl.


Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari lingkup hutang dan dominan manusia.

)

Aulia Ramadhanti

Written by

I’ll tell u about malife.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade