I’m back!! Akhirnya nulis lagi. Masih nerusin series #UXWriter101, kali ini aku pengen bahas ilmunya anak komunikasi. Prinsip-prinsip komunikasi efektif, yang menurutku sangat applicable dalam UX Writing.

Kenapa kok prinsip komunikasi efektif masih nyambung sama UX Writing?

Pertama, UX Writing merupakan proses komunikasi yang terjadi antara produk dengan penggunanya.

Proses Komunikasi — dalam UX Writing, UX Writer berperan sebagai sender dan user berperan sebagai receiver

Kedua, untuk menjalin engagement dengan user, pesan yang disampaikan harus bersifat conversational (masih inget part 1 kan?). Ada pertukaran informasi dari sebuah produk ke penggunanya, dan sebaliknya. Ketika user melakukan action seperti yang diharapkan, maka terjadilah pertukaran informasi tersebut.


Photo by freestocks on Unsplash

Agak susah cari tema yang pas buat part 3 ini. Sebenernya pengen mulai bahas soal data dan testing. Kenapa data yang pengen diangkat duluan? Karena ini modal buat kamu sebagai UX Writer untuk menjelaskan bahwa kerjaanmu itu ada impact-nya dan bisa diukur.

Pas tadi cuci muka, tiba-tiba kepikiran soal eksperimen yang aku lakukan setahun lalu, minim effort tapi hasilnya maksimal! A/B testing dalam UX Writing! Oiya, dalam post kali ini, akan ada case study yang real ya, yang datanya memang didapat dari real user juga. Tapi aku nggak bisa jembrengin datanya detail, rahasia dapur hehe.


Ada 2 cara yang bisa ditempuh untuk berhasil banting setir ke field kerjaan lain. Cara di ideal dan cara ala ninja. Kalau ada jalan ninja, kenapa harus susah-susah sih pake cara yang ideal?

Eits, jalan ninja bukan tanpa resiko dan pengorbanan. Jelas ada. Sama kayak jalan yang ideal, jalan ninja gak selalu lurus. Ninja aja pernah ketangkep ya kan. Cuma dengan cara ini, kamu bisa lebih tau steps apa saja yang harus dilewati dan apa saja yang harus disiapin. Ibarat jalan-jalan, lebih enak jika ada tour guide-nya. Belajar juga akan lebih mudah jika ada mentornya.

Nah, ini berlaku juga buat…


Bisa! Rasanya sekarang nggak ada kata mustahil buat kita alih profesi alias banting setir. Liat aja Deddy Corbuzier, dari pesulap kondang bisa jadi host sukses. Sama-sama berguna buat banyak orang namun dengan tujuan yang berbeda. Atau kalau fokusnya nyari duit, bisa jadi kalau kita banting setir malah kesempatan dan peruntungan akan terbuka. Who knows.

Tulisan ini sebenernya adalah follow up dari thread di twitter tentang role UX Writer yang antusiasmenya cukup tinggi dalam semalam. Jadi biar terus bisa sharing, akan dibuat series #UXWriter101.

ux writer twitter thread
ux writer twitter thread
Klik di sini untuk baca thread-nya

Emang sekitar setaunan ini, tepatnya antara 2019–2020, role UX Writer mulai naik daun. Tech company mulai gencar…


Buat yang belum tau, Adobe XD adalah tool design keluaran Adobe yang dikhususkan untuk UI dan UX Design. Adobe XD menawarkan kemudahan untuk membuat prototype web dan mobile app. Sama seperti yang ditawarkan Sketch, Invision Studio, ataupun Figma.

Sebenernya 2 tahun lalu sih pindah ke XD karena… terpaksa. hehe. Pindah kantor yang ternyata nggak pake Sketch. Sebenernya saat itu udah pernah denger tentang Adobe XD dan first impressionnya agak kesel karena ngopy Sketch banget. I was like, “Apaan sih perusahaan gede main copy aja gini!”. Dan sebel-sebel selanjutnya terus ada tuh sampe setahunan. Masa nih ya, bikin dotted line aja…


Term UX Writing sekarang semakin sering terdengar ya. Tapi kok dalam beberapa kasus, aku merasa term ini masih mirip sama yang dilakukan copywriter ya? Hmm, padahal jelas berbeda (at least dari pengalamanku ya). Tapi UX Writer yang punya skill copywriting jelas oke banget sih.

Lalu bedanya apa? Kalau simplenya sih, aku sendiri beranggapan kalau copywriting berkaitan dengan commercial. Sementara content yang dibuat oleh di UX writing adalah data driven content.

Jadi penting banget buat seorang UX Writer untuk bisa membaca data, paham dengan flow productnya dan tahu persona untuk product yang dia bangun. Kalau aspek-aspek itu belum bisa dimengerti, rasanya…


Sebenernya data driven design ini nggak jauh-jauh dari proses Emphatize di design thinking dan Problem-Solution Fit di product thinking. Syarat utama data driven design apa dong? Jelas, adanya data sebelum kita mulai melakukan problem — solution fit hingga akhirnya tercipta design sebagai solusi yang meaningful untuk user, meaningful untuk stakeholder, dan tentu saja meaningful untuk designer-nya.

Design udah inovatif banget nih, tapi kok conversion jelek? Kok user gak retain?

Aulia Rahmani Soendoro

Explore new things, discover good things. Meet me at www.aulley.com for more articles.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store