Aurawlia
Aurawlia
Aug 24, 2017 · 3 min read

K A T A R S I S (I)

"Jika rumah ialah tempat berteduh, maka harus kemana aku berlindung saat hujan jatuh dari atap sendiri?"

Aku terdiam.

"Tak ada selimut di rumah, kain-kain terlanjur basah. Akhirnya aku pergi mengetuk pintu-pintu lain."

Kulihat bahunya bergetar.

"Kususuri lorong-lorong gelap yang dingin, memegang apa saja yang dapat kugapai. Berdiri di keramaian asing penuh asap rokok, juga kayu melintang yang harus sendiri kusingkirkan."

Kini bahuku mulai terasa berat.

"Aku hanya ingin segelas coklat hangat, tapi beberapa rumahyang kuketuk memberi lebih dari itu. Kamar tamu dengan wangi vanilla, selimut tebal persis iklan TV, dan jangan tanya soal makanannya."

Aku mengerjap dua kali, perutku tiba-tiba bunyi.

"Namun tak ada perasaan lebih sunyi daripada berdiri di tengah deru tawa orang-orang; menghirup aroma kebahagiaan yang tersebar di seluruh ruang; dan merasa sebagai orang asing di saat bersamaan."

"Kukira, aku menginginkan orang-orang. Tapi malah membencinya kemudian, "

"Pada beberapa pintu lain, aku diperlakukan amat buruk. Takkan kulupa mata sinis mereka menelanjangi tiap jengkal masalalu yang kupunya, menceramahiku lewat sabda-sabda yang membuat nafasku sesak. Tak jua mereka berhenti meski sadar aku sudah terisak. Berharap peluk saat terpuruk, aku malah dihujani batu ramai-ramai."

Kulihat kepalan tangannya melemah.

"Sejak itu, tak pernah lagi aku mengetuk pintu-pintu."

Kami sama-sama diam.
Aku tak ingin dia melanjutkan. Sebab lewat pakaiannya yang urakkan dan celananya yang masih lembab, bisa kuduga seperti apa cerita ini akhirnya.

"Akhirnya, aku membuat rumah."

Hatiku mencelos, ini tak seperti yang terbayang barusan.

"Kubangun sendiri dari sisa-sisa semangat dan masalalu yang kerap dicibir orang-orang."

Setelah lama berdiam, akhirnya aku membuka satu pertanyaan, "lalu, di rumahmu itu, adakah yang bertamu?"

Dia tersenyum sekilas sebelum melanjutkan,
"Menjadi rumah adalah hal paling berharga yang pernah kutemukan dari seluruh perjalanan. Memeluk mereka yang terpuruk, menyeduh coklat hangat bagi mereka yang hatinya tengah sekarat, atau sekedar menjadi teman bagi mereka yang kesepian."

"Siapa mereka?" tanyaku lekas.

"Beberapa terusir dari rumah sendiri, yang lain melarikan diri. "

"Aku tidak pernah menjanjikan apapun; soal kebahagiaan yang pasti datang, soal pelangi setelah hujan. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Aku hanya tidak ingin membiarkan aku-aku yang lain kedinginan di bahu jalan, dipeluk hujan dan angin malam."

"Tapi manusia, susah sekali diterka."

Aku mengerenyit, apa maksudnya?

"Waktu itu, aku yakin sekali dia bukan orang-orang sepertiku. Tapi karena bersikeras mengetuk pintu, aku yang tengah membereskan beberapa pecahan gelas membukanya dengan bergegas."

"Orang itu terlalu asing karena terlalu biasa. Aku tak merasa dia butuh tempat berteduh."

"Lalu untuk apa dia ke sana?" Tanyaku, tak sabar.

"Mengajakku pindah, karena katanya, aku tak layak tinggal di sana."
Kudengar hela nafas panjangnya sebelum bibirnya kembali terbuka,
"jujur saja aku sebenarnya lelah mengerjakan semua sendiri. Tapi bukan berarti aku mau diajak pergi. Seluruh hidupku, ada di rumah itu. Tapi dia menjanjikanku kebahagiaan yang lebih dari ini."

Pupil matanya membesar. Barangkali dia sedang membayangkan kebahagiaan yang lebih dari sekarang.

"Apa yang kaukatakan padanya?" tanyaku.

"Aku ingin dia berada di rumahku dulu. Tapi semua tidak semudah yang aku kira. Dia mulai menata barang-barangku di tempat yang tidak aku suka. Beberapa yang sudah buruk, dia ganti sekenanya. Ada yang aku suka, banyak yang tidak. Tapi dia selalu meyakinkanku bahwa apa yang dia lakukan adalah apa yang terbaik menurut Tuhan. Jika aku menurut, rumahku akan semakin bagus."

Aku menggigit bibir. "Lalu apa masalahnya?"

"Semua yang dia lakukan terlalu normal, terlalu biasa. Sedang aku tidak biasa dengan hal-hal biasa yang rapi dan tertata. Aku mencoba. Tapi pertentangan-pertentangan yang terjadi sepanjang hari membuatku gerah."

Sesekali kulihat matanya berkaca, ada bimbang yang jelas tergamblang.

"Menurutku," aku membuka suara pelan, dia menoleh.
"...tidak ada yang salah dengan orang itu."

"Apa yang kaurasakan kali ini begitu naif. Tiap ceritanya darimu kudengar, kulihat pupil matamu melebar. Akuilah bahwa bayangan dirinya saja membuat jantungmu duakali lebih cepat berdebar."

"Orang itu, entah bagaimana caranya, telah membuat dirimu merasa apa-apa yang kauingin rasa sejak lama; yang kaupikir harap atasnya terlalu muluk untuk terus kaupupuk."

Desau angin menepis pundak kami masing-masing. Aku merapatkan parka, dia tampak diam saja.

"Tidakkah kaupikir dia terlalu...biasa?" tanyanya terbata.

"Dan bukankah kenormalan semacam itu yang kaurindu-rindu?"

----

)

    Aurawlia

    Written by

    Aurawlia

    A mess of unfinished thoughts, a browser with too many tabs open.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade