Satu Alasan

Betapa banyak hal-hal kecil yang menyebabkan dadamu sesak; siulan burung di pagi hari namun kaubangun sendiri, peristiwa lucu yang kautemu di jalan namun entah pada siapa ingin kauceritakan, tempat makan favorit berdua yang kaudatangi sendirian.

Bertahun kaumampu menyembunyikan sayang, namun rindu dan cemburu sehari saja sulit ditahan-tahan.

Kau ingin sekali menangis, namun tak ada air mata mengalir di pipi. Kaukira, itu tanda kau mulai kuat. Namun mimpi burukmu, tanya teman-temanmu, dan resah malammu; tetap di sana. Tak ada yang berubah.

Harusnya, kau menangis saja. Agar rindumu luluh dalam satu kedipan mata. Seperti yang sudah-sudah.
Harusnya, kau menangis saja. Agar sedu-sedanmu memekik telinga. Hingga menutup raungan hati yang tak ingin kaudengar.

Mengapa kini hatimu bergeming padahal dahulu mudah saja ia berpindah?
Sebab meski terlihat berusaha pergi, nyatanya kau yang memilih tetap di sini.

Ada berpuluh alasan yang mampu membuatmu lekas angkat kaki, tapi hanya karena satu hal kau putuskan untuk tinggal.

Alasan paling naif yang pernah kaupertahankan.

Alasan paling personal sebab tak sedikitpun kau biarkan orang lain menyentuhnya.

Alasan paling bodoh sebab karenanya kaubiarkan dirimu jatuh dan menepis tangan orang-orang yang sepenuh hati ingin membantu.

; karena kau mencintainya.

Dan, barangkali, dia mencintaimu juga.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.