demilked.com

Monster

Apakah hanya manusia yang berhak berbuat baik?

Ia yang bertarung dengan monster, harus berhati-hati agar ia sendiri tidak menjadi monster. Dan bila kau terlalu lama menatap ke dalam kegelapan, sesungguhnya kegelapan itu pun sedang membalas tatapanmu.

Friedrich Wilhelm Nietzsche


Mungkin dulu aku tidak berhati-hati saat menghadapi para monster, hingga kini aku pun menjadi semacam monster.

Jenis yang berbeda dari yang dulu kulawan, tapi monster tetaplah monster.

Selama ini aku terbiasa menatap kegelapan sambil memikirkan cara-cara untuk meneranginya.

Kini sebaliknya, aku menghindari cahaya. Cahaya begitu menyilaukan, begitu membutakan. Aku lebih suka berdiam dalam kegelapan, membiarkannya menyelimutiku dengan ketenangan.

Pernah, dengan sombongnya aku mendefinisikan benar dan salah. Berpegang pada agama, hukum, serta ketetapan lainnya yang berwenang mendefinisikan moralitas; aku mengagungkan segala yang dinyatakan benar, sekaligus menistakan segala yang dinyatakan salah.

Berhati-hatilah, rupanya benci tidak kalah kuat dengan cinta. Kau tak hanya terbentuk dari hal-hal yang kau cintai. Apapun yang kau himpun dalam hidup hingga menggunung, itulah kamu. Baik itu benci atau cinta. Dan dulu aku terlampau membenci hal-hal yang dinyatakan salah.

Aku tidak menjadi monster atas kehendakku sendiri. Tapi aku sadar seperti apa sosokku terlihat dari pandangan manusia. Mau tak mau, aku akan menerima jika mereka menganggapku sebagai entitas yang berada di pihak keburukan. Padahal di mataku, merekalah yang mengerikan.

Andaikan benar dan salah tidak sebias ini, pasti tidak akan sulit menentukan siapa yang manusia dan siapa yang monster.

Sayangnya, ketentuan semesta tidak sesederhana itu.

Aku sudah tidak mengerti lagi cara untuk berbuat baik. Karena aku sudah putus asa dengan mereka yang membutuhkan kebaikan. Aku sudah tidak percaya bahwa kebaikanku akan mereka teruskan dengan kebaikan lain.

Lebih baik aku biarkan mereka menderita, agar cukup mereka saja yang menderita. Tak perlu mereka menerima kebaikanku jika penderitaan yang tadinya mereka bawa hanya akan berpindah ke wadah lain.

Lagipula jika mereka lelah menderita, kenapa tidak berbuat baik kepada diri mereka sendiri? Kenapa tidak mengakhiri saja penderitaan mereka dengan tangan mereka sendiri? Aku tak percaya jika mereka bilang tak bisa. Aku tahu itu dusta.

Untuk apa minta tolong kepadaku yang bukan siapa-siapa, jika Dia yang Maha Memberi Pertolongan saja mengabaikan mereka?

Apakah aku monster karena tidak lapang dada dalam berbuat kebaikan? Mungkin iya.

Setidaknya aku mengakui keadaanku.

Aku tidak berdoa untuk dapat menjadi manusia yang baik. Aku berdoa agar menemukan manusia yang pantas diberi kebaikan. Karena bagiku kebaikan tak hanya butuh pemberi yang sukarela, tapi juga penerima yang layak.

Kuharap masih ada manusia yang bisa kusebut manusia. Yang bisa kuberi kebaikan tanpa aku harus menyesal setelahnya. Yang takkan mengutukku kalaupun aku tidak memberinya apa-apa.

Aku tak ingin lagi berbuat baik dengan ikhlas, karena aku muak melihat kebaikanku diterima dengan pamrih.

Aku tak ingin lagi berbuat baik terlampau sering, pada akhirnya aku hanya dimanfaatkan hingga kebaikanku kadaluarsa.

Aku tak ingin lagi berbuat baik secara manusiawi. Jika aku ini monster, aku akan berbuat baik selayaknya monster.

Itupun jika ada yang mau menerima kebaikan dari monster.


Penjara Batin
Hari Máni, pekan keempat bulan Februus
A.D. 2016

Ditulis dalam keadaan kesal dan menyesal. Aku teringat akan sebuah kebaikan, yang kuberikan pada orang yang salah. Seharusnya kebaikan itu kuberikan padamu.