pixabay.com

Nihil Obstat

Mengosongkan pikiran bukanlah hal yang mudah.

Begini:

Sejenak menutup mata, menarik dan menghembuskan napas dalam sedikitnya sepuluh siklus. Satu persatu menyingkirkan citra yang muncul saat terpejam hingga tak tersisa gambaran apapun. Mengabaikan semua suara yang berasal dari dalam ataupun luar hingga suasana sunyi sempurna. Sedikit demi sedikit melepaskan sensasi fisik yang tersisa, melepaskan batin dari lahir. Setelah semua syarat terpenuhi, barulah pikiran akan mengizinkan dirinya untuk menjadi kosong.

Paling tidak begitulah kata mereka yang pernah berhasil mengosongkan pikirannya. Sayangnya aku belum pernah.

Berbahagialah mereka yang tak perlu bersusah payah untuk mengosongkan pikiran. Benak yang penuh sesak mirip dengan perut tamak yang makan terlalu banyak. Jika tidak dikosongkan, lama kelamaan akan menyakitkan.

Bersyukurlah jika beban pikiranmu hanya berupa tumpukan tugas kuliah ataupun kisah asmara anak muda. Aku tak akan bicara mengenai bermacam orang yang punya masalah besarnya masing-masing dan bagaimana kau harus malu karena membesar-besarkan masalah kecilmu. Tidak, tidak. Tulisan ini bukan tentang menyalahkan ataupun menggurui. Lagipula beban pikiran tak selalu berupa masalah.

Katanya, benak manusia itu ibaratnya sebuah rak. Kalaupun benda yang disimpan di rak itu berharga, jika ditumpuk asal-asalan akan tertimbun dan keindahannya takkan terlihat. Kurasa “benda” dalam benakku tak hanya tertumpuk asal-asalan, sepertinya sudah banyak yang pecah dan tak jelas lagi bentuknya. Aku perlu membersihkan dan menggantinya dengan yang baru, menyusunnya dengan rapi agar fungsinya kembali seperti semestinya. Pikiran-pikiran perusak yang memenuhi benak ini harus kusingkirkan.

Sebenarnya untuk apa aku memikirkan masalah orang lain ketika diriku lebih bermasalah? Aku terlalu peduli pada orang lain hingga akhirnya aku tersiksa dengan kepedulianku. Tapi itu dulu. Batinku tak tahan lagi dengan rasa sakitnya dan mulai belajar untuk tidak peduli. Lambat laun aku semakin tak punya empati, semakin larut dalam apati. Kemanusiaanku terkikis perlahan-lahan hingga aku tak lagi manusiawi.

Dan itu hanya demi sedikit mengosongkan benak yang sudah terlewat sesak.

Tapi aku pun seakan tersadarkan. Semesta ini bisa mengurus dirinya sendiri. Manusia seringkali berlaku sombong dengan beranggapan bahwa semesta membutuhkan kepedulian darinya. Untuk menghilangkan kepedulian itu, apa mungkin aku perlu menjadi sesuatu yang bukan manusia?

Setidaknya aku butuh sejenak saja untuk melepaskan kemanusiaan. Beberapa saat singkat untuk meluruskan semua kebingungan, agar sesudahnya kepedulian dapat kembali, dan aku bisa memikirkan semesta kecilku lagi. Sebelum memikirkan sekitar, sebaiknya pikirkan saja dulu diri sendiri.

Aku ingin berbuat baik tanpa harus peduli. Aku ingin berbuat jahat sesuka hati. Aku ingin mengesampingkan nalar dan mengikuti naluri. Aku ingin bertindak selaras dengan nurani.

Aku hanya ingin kosong, aku hanya ingin nihil.


Laboratorium Pemindaian
Hari Frigg, pekan ketiga bulan Februus
A.D. 2016

Tertulis begitu saja. Karena dengan menulis maka pemikiran akan berpindah wadah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.