Indonesia dan Industri 4.0

Pabrik yang pintar. Smart factory.
Itulah salah satu frasa yang sering muncul dalam bahasan-bahasan mengenai Industri 4.0. Jadi, pabrik-pabrik sebelum adanya paradigma ini bisa disebut sebagai ‘dumb’ factory, atau paling tidak ngga pinter-pinter amat. Tapi apa sih bedanya pabrik yang smart sama yang ‘dumb’?
Eh iya, lagian apa sih Industri 4.0 itu?
“Are they buzzwords? Yes. Are they just buzzwords? Absolutely not,”
-Joel Martin, dari engineering.com.
Apa sih Industri 4.0?
Industri 4.0 adalah sebuah istilah yang merujuk pada perubahan yang sedang terjadi dibidang manufaktur dan industri. Perubahan yang sedang terjadi ini, disebut-sebut sebagai revolusi industri yang ke empat dalam sejarah dunia.
Tentang revolusi industri yang sebelum-sebelumnya, sudah banyak infonya di internet ya, mudahnya: revolusi pertama karena mesin uap, yang kedua karena listrik, dan yang ketiga karena komputer dan otomatisasi.
Nah, sedangkan revolusi yang keempat ini diakibatkan oleh munculnya berbagai teknologi yang membuat proses manufaktur seakan lebih ‘smart’, seperti:
- Adanya Internet of Things (IoT) yang dapat saling berkomunikasi dengan otomatis, dan memiliki sensor fisikal yang bisa mendapatkan data dari lingkungan sekitar.
- Adanya data analytics yang membuat para pengambil keputusan dapat mengambil keputusan yang lebih baik.
- Adanya AI yang membuat mesin juga bisa belajar.
Indonesia?
Salah satu yang bisa menjadi kekuatan (strength) maupun kelemahan (weakness) Indonesia adalah jumlah penduduknya.
Dengan adanya industri 4.0 ini diperkirakan lapangan perkerjaan akan semakin menipis, walaupun efeknya tidak sebesar saat revolusi industri ketiga yang mulai memunculkan komputer dan otomatisasi.
Akan menjadi strength bagi Indonesia jika para pekerja yang banyak ini memang siap di era industri 4.0, yang artinya mereka punya kemampuan yang memang dibutuhkan di era ini.
Peran negara, tentu saja, melaksanakan pendidikan dan pelatihan. Peran warganya, untuk terus berkembang.