#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge; #8 Padahal Saya Tak Begitu…

Tak kenal maka tak sayang. Terlalu kenal malah ilfil. Sekadar kenal maka kadang keliru menilai. Eh gimana sih? Luar biasa memang tema hari kedelapan ini. Saatnya untuk curhat lagi, eh klarifikasi.

1. Galak, Jutek, Ketus, Cuek, Apa Lagi?

Hei, saya tidak gila sehingga masih cukup waras untuk tidak marah-marah dan ngejutekin seseorang kalau bukan dia duluan yang membuat saya kesal setengah mati. Ya kalau hanya melihat dari wajah sih saya maklum. Tampang saya sudah dari sananya ngeselin. Diam aja kadang dikira sedang marah. Ya nasib…

Saya ini juga manusia normal seperti halnya kalian yang bisa ngambek kalau hati sedang dalam kondisi tidak baik dan masih ditambah dengan perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang lain.

2. Tak Bisa Berpikir Dewasa

Saya yakin, orang yang menilai seperti ini pasti belum pernah melihat saya murung sendirian dalam kamar dan tahu bagaimana nyeseknya saya ketika memilih menahan emosi dan berusaha mengalah ketika dilukai oleh orang-orang yang namanya saya masukkan dalam “buku putih”, karena saya tidak ingin berkonflik dengan mereka. Buku putih itu tidak berwujud. Hanya istilah. Siapa saja yang ada dalam buku khayalan tersebut? Mereka adalah keluarga dan sahabat terdekat yang akan selalu saya sayangi seumur hidup. Meski berat, tapi saya pikir mengalah dan berdamai adalah sebaik-baiknya cara agar saya tetap memiliki mereka selamanya.

Pertanyaan saya, apakah aksi diam-diam menahan rasa sakit dan mencoba mengalah kepada kerabat dekat bukan termasuk pola pikir orang dewasa?

3. Selalu Ceria

Pernah mendengar kalimat “biasanya orang yang selalu tampak ceria, sebenarnya lebih banyak memendam duka”? Ya, saya salah satunya. Tapi bukan berarti setiap kali saya hore-horean itu sedang punya masalah. Sebagian memang hura-hura beneran sih. Lagipula selera saya receh sekali, sehingga gampang dibuat bahagia dan ngakak membahana dengan hal-hal sepele. Saya bukan tipe orang yang suka membawa perkara rumit ke mana-mana. Capek! Kecuali jika sudah sangat mengganggu dan tak bisa ditanggung sendirian, maka saya akan membaginya dengan orang-orang tertentu saja. Saya terlalu gengsi untuk terlihat menyedihkan dan meneteskan air mata di depan orang lain, terutama di hadapan Ibu. Pernah beberapa kali saya mati-matian nahan tangis hanya karena tidak mau membebani pikiran Ibu dan dilihat orang dengan tatapan penuh rasa kasihan. Bagaimana pun caranya, selagi saya mampu, saya hanya ingin Ibu dan orang di sekitar melihat saya baik-baik saja. Sok tegar, padahal dalamnya rapuh…

4. Cerewet

Bro, saya juga ingin tampak manis dan keibuan ketika memberi perhatian kepada orang lain, tapi saya hanya kurang pandai untuk mewujudkannya dalam bentuk perbuatan juga ucapan. Misal ketika jam makan di Kampus Fiksi, saya akan teriak-teriak dan memaksa siapa pun di ruangan itu yang saya lihat belum mengambil jatah makan. Cara saya jauh dari kata lembut, namun itulah saya yang tidak ingin mereka telat makan.

5. Gemuk

Sebenarnya saya tidak gemuk, jika kalian melihat saya sedang duduk bersama Tiwi atau sudah mengenal saya sejak enam tahun lalu, sejak berat badan ini belum naik sembilan kilo :(

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Avifah Ve’s story.