Malam ini terasa begitu pekat, langit yang gelap menakuti rasa di balik atap rumah. Tidak seperti biasa, rindu itu seakan menggerogoti tubuhku. Rindu yang dulu pernah ku rasakan. Rindu yang seakan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kini mulai pudar. Sang pengobat rindu telah berlalu bersama sang pencuri waktu.
Malam ini, seperti biasa. Aku duduk sambil mengotak-atik handphoneku. Aku berniat akan mencurahkan kegundahan hati ini pada sebuah media yang disebut “medium”. Namun, aku tak tahu harus memulainya dari mana. Ada banyak kegelisahan hati ini yang ingin ku curahkan tentangmu. Ah. Mungkin aku harus memulainya dengan menyapa saja.
“hai kak ikra, apa kabarmu?” apa kau bahagia sekarang disisi tuhan?
Aku yakin. Siapapun yang dekat dengan-Nya pasti bahagia.
Tapi aku disini tak bisa sebahagia kamu kak. Aku tak bisa.
Kau tau? Aku disini sering tertawa. Kulakukan segala hal dengan mencoba bahagia. Kata teman-temanku, “aku sangat beruntung. Hidupku selalu dipenuhi canda tawa. Katanya, mereka ingin menjalani kehidupan sepertiku”
Dalam hati kecilku, aku ingin berkata kepada mereka “jangan menjadi sepertiku” tapi seakan leher ini tercekat. Tak bisa semua itu ku katakan pada mereka. Sebab aku harus menjadi sempurna dihadapan mereka.
Suara jangkrik memecah kesunyian, bagai orkestra malam yang coba menyeretku larut dalam buaian kenangan masa lalu. Menyadarkan aku tentang kesepian hati ini.
Banyak yang datang mencoba menawarkan masuk mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi semua hanya mampu singgah di halaman hatiku saja. Tak ada yang benar-benar bisa menduduki singgasana yang pernah kau tempati dulu.
Hey kak. Kau ingat ? Ini bulan september. Bulan kelahiranku, bulan pertemuan kita dan juga bulan dimana kau meninggalkanku. Aku suka sekaligus membenci bulan ini.
Aku yakin, saat ini tuhan sedang berkata padamu bahwa aku menulis ini sambil meneteskan air mata. Ya. Sejak 2 tahun lalu aku mulai mempercayai Tuhan lagi setelah dia merenggutmu dariku. Jangan khawatir kak. Aku sudah tidak semarah dulu pada-Nya.
Sampai disini saja dulu ya, jemariku tak sanggup lagi menulis. Mataku tak jelas lagi memandang layar karena sudah dipenuhi air mata.
Selamat malam jiwa berbeda dimensi yang ku rindukan.