Panas hari ini berhasil menembus hingga titik terdalam mataku, menyentuh persembunyian yang selama ini berhasil kusamarkan.
Apa kabarmu, sayang?
Bilangan waktu menuai hari paling rindu setelah kepergianmu.
Apa kabar hatimu, sayang?
Semoga tak lebam, semoga tak perih, agar sesak yang terlanjur menumpuk di dadaku tak bertambah semakin banyak.
Matahari begitu terik, menyilaukan pandangan yang mulai mengembun di sudut mataku.
Ini bukan kesedihan, sayang. Hanya rindu yang lantas tak sanggup kubendung.
Masihkah kau izinkan aku menyapamu dari jauh, menyentuh bayangmu yang masih sempurna dalam ingatanku?
Masihkah kau izinkan aku tertawa ketika mengingat candaan yang masih terngiang jelas di telingaku?
Masihkan kau izinkan aku mencari kehangatan pada pelukmu?
Masihkah kau izinkan mimpiku menemani tidurmu?
Masihkah kau izinkan doaku menjemputmu untuk kembali bersamaku?
Dadaku terasa lapang saat mengingatmu, lantas berubah menjadi sesak ketika melihatmu tak lagi seperti dulu.
Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Pertahananku runtuh seketika, harapanku lenyap.
Sayang, jika aku mau, sudah sejak lama aku menghapus namamu, tapi aku tak pernah bisa. Hatiku tak pernah merelakan semua kisah yang sudah tercatat rapi kembali menjadi kacau.
Kepada kamu,
yang terlanjur memercikkan rasa di dadaku, belajarlah untuk maklum pada rindu.
Tak banyak pintaku, kau semogakan aku untuk bahagia.
Selasa, 04 September 2018