Everyone Has Their Own Struggle

Aulia Rahman
Sep 6, 2018 · 2 min read

The story about finding purpose.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang kesibukan akhir-akhir ini. Tentang kerjaan di sebuah mission-driven company supporting other social enterprise to grow their businesses and boost their impacts. Kerjaan dimana kesempatan untuk bertemu dan mendengar langsung cerita perjuangan jatuh bangun para founder SE (Social Enterprises) memulai usahanya dari bawah adalah sebuah privilege yang tak ternilai harganya.

Dengan stage, business model, dan problem yang berbeda-beda, membuat support yang diberikan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Namun satu hal atau benang merah yang saya temukan dari mereka adalah: purpose (why) dalam diri mereka yang menjadi bahan bakar untuk terus maju meskipun banyak menemukan drawbacks selama perjalanan. Support system dari keluarga dan kerabat pun menjadi tambahan energi bagi mereka untuk terus mempercayai visinya. Cerita-cerita mereka cukup beragam, ada yang rela membagi waktu dengan keluar dari pekerjaan utamanya yang sudah nyaman, dan bersama pasangan membangun usaha sosialnya dari nol. Ada yang curhat soal kesulitan mencari co-founder yang pas, drama dengan tim, sulitnya mencari angel investor yang berbaik hati menyuntikkan dana untuk operasional mereka, ada yang sudah pivot berkali-kali dan belum juga menemukan business model yang tepat, dan ada pula yang harus rela menunda lulus kuliah demi keberlangsungan usaha sosialnya. Bermacam-macam dan unik cerita nya, rasanya ikut duduk ngopi berdua sampai pagi tidak akan terasa.

Saya jadi percaya, bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Paling tidak dari cerita-cerita mereka saya belajar bahwa disetiap hal yang besar butuh pengorbanan yang besar pula. Setiap bertemu Rise Inc. Stars 5 (SE yang tergabung di batch 5 — Program Rise Inc. by Instellar and UnLtd Indonesia), saya selalu mendapatkan either itu energi positif ataupun suntikkan semangat dari antusiasme ataupun cerita progress mereka, baik saat saya menemani mereka bertemu mentornya atau pada saat workshop di Jakarta.

“mas Ayi, kenapa ga bikin social enterprise sendiri”

Tiba-tiba saya teringat pertanyaan salah satu SE disalah satu coffee shop di Jakarta beberapa saat setelah sesi mentoring selesai. Setelah panjang lebar ngobrol soal perjuangannya membangun sebuah usaha responsible travelling, ia bertanya pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Jawaban saya: Ya, mbak, my long term vision is to build my own social enterprise to solve the education/technology gap in eastern part of Indonesia (Sulawesi) , tentunya setelah belajar banyak dari pengalaman teman-teman semua, dari tim di Instellar, mentors, dan partners. To build a co-operative movement whether for youth.

Hopefully, I have a time to tell those stories more detail. Bisa ceritain lebih personal tentang cerita-cerita dari social enterprise yang saya temui, sehingga kita bisa saling menguatkan dan percaya bahwa menjalankan bisnis yang memiliki impact sosial (yang positif) itu nyata.

Finding a support system is crucial for social entrepreneurs.

*My first writing here on Medium, and hopefully can write regularly about social enterprise or social impact topic.

Aulia Rahman
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade