Elegi

pikiranmu kemana-mana, saat baru menyadari ada banyak sekali pekerjaan yang tercecer, belum​ dikerjakan padahal deadline tinggal beberapa hari lagi. begitu banyak pekerjaan yang ingin di sempurnakan, kamu sudah memiliki gambaran akan hasil yang sangat memuaskan dan karya yang epik.

atau, ambisi yang menggebu-gebu, ingin mencoba banyak hal dan menjadi expert di berbagai hal, ingin merambah banyak karir, because life is an adventure, right?

atau, sudah menyusun resolusi akan menurunkan berat badan 10kg dalam sebulan, membaca 30 buku dalam sebulan, membuat essay ilmiah 10 dalam seminggu, sembari membuat bisnis plan, bahkan kuliah di oxford sepertinya tidak sebanyak ini assignment nya?

memiliki sifat perfeksionis itu berkah dan juga bencana bagi saya. perfeksionis saya justru dalam tataran yang kayaknya sudah parah banget sih.

memforsir otak saya untuk merasa cemas dan linglung ketika sesuatu tidak berjalan sesuai planning saya, yang juga karena kesalahan saya sendiri, menunda-nunda. memforsir otak saya yang cenderung overcritical terhadap diri sendiri (kritis terhadap diri sendiri baik, untuk dapat membuat diri saya berkembang) tetapi dalam tahap yang berlebihan, sampai saya membenci diri sendiri dan kehilangan self worth itu yang perlu di kontrol.

ambisi saya lumayan besar dan utopis, tetapi ambisi saya kebanyakan hanya jadi angan-angan semata. saya suka iri melihat orang yang selalu bisa mencapai goals mereka dengan kerja keras mencurahkan tenaga hingga titik darah penghabisan. sedangkan saya, tipikal yang awalnya sprint tetapi di pertengahan jalan seperti siput hingga akhir.

saya selalu merasa diri saya inferior, karena tidak memiliki jiwa kompetisi yang tinggi, bisa berani mengambil resiko dan bekerja hingga titik darah penghabisan.

saya berusaha untuk menjadi seorang yang “bekerja keras”. tetapi selalu gagal. saya heran melihat orang yang terbiasa bekerja hingga sampai colapse, bahwa mereka memiliki niat yang teguh.

***************

kita akui, bahwa manusia memang selalu ingin disukai dan diakui.

saya bukan orang yang terlahir dengan privileged gen, saya tidak cantik menurut standar kecantikan kita, saya juga tidak pintar. saya hanya memiliki keingintahuan yang tinggi.

untuk mendapatkan pengakuan, saya menyadari menjadi pintar is the new beauty. i was tried to impress other by had a deep conversation with them.

walau sebenarnya saya hanya pintar membual saja, padahal saya belum tentu mengerti substansi pembicaraan saya hehehe.

i want to look good, and be an “hero” character in my surrounding. tipikal seorang remaja ngehek yang memiliki idealisme tinggi dan percaya bahwa dirinya adalah seorang change maker yang dibutuhkan di negeri ini.

padahal kenyataannya, saya tidak se spesial itu. selama itu saya berkutat untuk memiliki begitu banyak mimpi dan goals tiap hari yang harus di capai. ended up overwhelmed and doing nothing. and i was dissapointed with myself. why i cannot be a good enough for others. padahal alam bawah sadar saya mungkin berteriak

why you cannot be a good enough for yourself first.

ambisi, goals yang melampaui batas saya, yang memforsir saya jauh dari kemampuan saya, hanya akhirnya membuat saya stuck dan dekstruktif.

saya bukannya malah maju, tetapi diam. memukuli diri sendiri. dan menghukum diri sendiri.

i learnt something from that.

mungkin, saya memang hanya orang yang basic yang tidak sengaja memiliki taste dan mimpi yang selalu tinggi.

mungkin, untuk mencapai tujuan saya nantinya tidak harus di lalui dengan proses yang sangat intense dan keras. bahwa dengan menjalani “pelan-pelan tapi sampai”, tidak berarti lebih buruk.

saya terlalu sering cemas dengan hal hal yang bertujuan untuk terlihat baik bagi orang lain, bukan demi diri saya sendiri.

mungkin saya harus berhenti sejenak, untuk mengamati sekeliling saya, menikmati indahnya alam dan memahami bahasa dan simbol semesta, to unite with universe.

dunia ini dipenuhi dengan kehidupan serba cepat. orang tidak sempat menikmati sarapannya dirumah, karena harus meeting dengan klien. persaingan tidak hanya di pekerjaan tetapi juga di dunia maya. menjatuhkan orang lain dengan gampang dan menyudahkan hubungan dengan orang lain dengan sekejap mata, hingga kehilangan identitas diri karena membiarkan orang lain terlalu jauh mendikte kita.

mungkin saya memang harus ke hutan di bhutan dan bersemadi hingga ditutupi pohon sulir.

atau saya hanya perlu bernafas, dan menikmati alam dengan sebaik baiknya, untuk sejenak mendengarkannya meracau, setelah sekian lama manusia selalu mendominasi kehadirannya di ibu pertiwi ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ayudiah Natalia’s story.