Hujan Pertama di Bulan November

Kau menyebut dirimu Pluviophile dan aku menyukai aroma Petrichor. Kita sama-sama suka hujan dan hujan menjadi saksi pertemuan pertama kita. Di bulan November di tengah gerimis hujan yang malu-malu, seolah-olah hadir hanya untuk memberikan efek sentimental atas pertemuan kita.
Ai
Kita bersisian menunggu hujan reda di beranda cafe Hippies di Ubud senja itu. Sembari sayup-sayup aku mendengar I’ll take you home nya Gardika Gigih dari earphone mu. Saat itu waktu tiba-tiba berhenti, Semua Inderaku menjadi tajam. Musik orkestra yang sayup-sayup beresonansi dengan hawa dingin menyelimuti gerimis hujan yang bercampur dengan tanah, polusi, pepohonan dan senyum tipismu, mata yang memancarkan ketenangan batin dalam kekosongan. waktu tiba-tiba berhenti di momen itu. saat itu. hanya aku, kau, musik, dan hujan. Saat itu aku tahu bahwa, semesta telah berkonspirasi atas pertemuan kita, bahwa kau adalah awal bagi ketidakpastian yang pasti, ketidakteraturan yang harmonis, dan paradoks lainnya. Aku takut menghadapi kejutan ini, takut tenggelam terlalu dalam dan aku tahu, kali ini aku akan jatuh ke dasar jurang yang terdalam.
***
Kai
Aku melihatnya duduk di seberang ku, sosok itu seperti magnet yang menarik diriku untuk tak melepas pandanganku padanya. Ia memakai dress putih dengan mata yang penuh konsentrasi membaca buku di hadapannya. Bhagavad Gita. Gadis ini menarik. Aku adalah pelanggan reguler di cafe ini, dan melihat banyak orang menenteng buku ini dengan pembicaraan spiritual intelektual yang penuh egoisme dan narsisme, tapi berbeda dengan gadis ini, ia seperti tabula rasa. Jiwanya seperti kertas putih yang bersih tanpa noda, keingintahuannya terpancar dari matanya yang seperti api membara tapi penuh dengan ketenangan. Menarik, ia benar-benar menarik energiku untuk beresonansi dengannya, Siapa dia? Perjalanan apa yang akan kita lewati bersama?.
***
Ai
Jika dalam filsafat Yunani kuno definisi Cinta ada beragam jenisnya, maka selama ini aku adalah Mania. Cinta yang obsesif. Obsesif terhadap ide atas cinta itu sendiri dan melihat objek cinta sebagai objek untuk memenuhi ekspektasi dan ambisiku atas mencintai dan dicintai itu sendiri. Obsesi itu selalu berawal saat hujan pertama di bulan November. Seperti sihir dari semesta dan konstelasi bintang juga planetku yang bersinggungan di derajat yang sempurna seolah-olah memberiku kesempatan untuk berpetulang tentang cinta di bulan ini.
Aku mencari-cari banyak referensi tentang cinta, dari bentuk cinta paling kasar hingga halus. Dari cinta yang mengikat hingga cinta yang membebaskan. Dari cinta yang diselimuti kedengkian hingga cinta yang murni. Dari cinta yang menyembuhkan hingga cinta yang manipulatif. Aku membaca pikiran para novelis tentang romantisisme mereka tentang cinta, para pujangga yang mendramatisir dan self destructive, Ilmuwan yang merasionalkan cinta hanya sekedar chemical dalam otak dan hormon, hingga spiritualist yang menemukan cinta dari penemuan eksistensi diri dan membangun hubungan personal dengan tuhan, yaitu Bhakti.
Disinilah aku berada, di sebuah cafe tempat para Yogi dan Yogini, Spiritualis berkumpul. Aku menelusuri apa yang mereka bilang tentang Bhakti, yaitu Bhagavad Gita. Paragraf demi paragraf aku resapi, sabda Krisna dan cerita tentang panca pandawa terpatri dalam imajinasiku, dan tak sadar aku larut dalam dimensi yang berbeda, aku merasa lupa diri dan kehilangan kontrol atas pikiranku. Aku terus menyelami semakin dalam, dan dalam hingga suatu saat aku terbangun dari kondisi trance dan berpaling, melihatnya. Seseorang menatapku. Terasa familiar. Mata kita bertaut. Ada yang mengunci dan terkunci. Entah apa, aku takut. Energi itu begitu kuatnya, lalu aku berpaling dan melanjutkan bacaanku tapi aku masih bisa melihat dari ekor mataku ia sedang mengawasiku. Sial, mau apa lagi semesta? Aku belum siap.
***
Kai
Aku berharap ia mendongak dan berpaling 1 derajat ke arahku agar rasa penasaranku atasnya terbayarkan. Susah sekali mengikuti mata itu yang dengan cepat bergerak membaca paragraf demi paragraf. Penasaran. mungkin itu yang bisa kugambarkan dan akhirnya ia berpaling dan menatapku sekilas, sepersekian detik. Tatapannya seperti kepingan puzzle terakhir yang menjawab teka-teki, seperti paragraf terakhir di halaman penutup sebuah novel yang menjawab semua rasa penasaran pembaca. Garnish yang melengkapi dan menyempurnakan makanan. Ia adalah sentuhan akhir yang dibutuhkan desainer untuk mempercantik busananya. Ia adalah klimaks bagi cerita. Sebuah Kejutan.
Pertemuan itu sangat singkat. Ia lekas pergi dari tempat duduknya, keluar dari cafe ini. Beberapa menit berselang, gerimis hujan turun, Hari ini hujan pertama di bulan November. Saat yang sempurna bagiku pecinta hujan. Ingin rasanya berlari keluar dan bermain dengan hujan sembari memainkan playlist favoritku saat hujan turun. Aku lantas bergegas keluar untuk bersua dengan hujan tapi yang kulihat dirinya, menunggu di beranda dengan dress putihnya yang sedikit basah karena hujan, termenung.
Aku berdiri disampingnya, menikmati hujan dan alunan I’ll take you home nya Gardika Gigih dalam hening. Aku merasa kehangatan yang menjalar tubuhku dalam dinginnya hujan. Aku merasa ada tegangan yang dinamis antara diriku dan dirinya, bertukar, menari-nari, riuh rendah. Organ-organku semarak menyambut tegangan itu, seperti listrik yang menjalari seluruh tubuh dengan kecepatan cahaya. Rasanya asing, tapi familiar. Takut tapi menyenangkan.
Tidak ada sepatah kata yang keluar, Keheningan di luar tapi riuh di dalam. kata-kata kehilangan maknanya, bahasa kehilangan fungsinya, sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengan cara seperti ini. Apakah aku harus mengikuti insting naluriah ku dengan bereaksi atau diam menerima?
***
Ai
Pikiranku riuh, hatiku bergejolak, aliran darahku semakin deras. Aku tidak bisa mengkontrol hal diluar kontrolku. Semua ini sangat intens. Aku belum siap dengan pertemuan ini, dengan segala perjalanan baru dan perubahan drastis yang akan terjadi dalam hidupku. Aku harus pergi, aku ingin pergi.
Entah berapa lama aku berdiri bersamanya saat itu, tapi saking nervousnya, aku memilih untuk berlari menerobos hujan dan berharap kepada semesta untuk memberikanku waktu lebih lama, paling tidak hingga aku selesai membaca buku ini dan menemukan bhakti di dalam diriku sendiri, aku bisa siap bertemu dengannya. Aku meninggalkannya, pria dengan playlist “Kita sama-sama suka hujan” dengan intensitas dalam keheningan pertemuan kami. Apapun yang terjadi, akan terjadi. Energi kita akan saling menemukan pada akhirnya tapi tidak sekarang.
***
Kai
Ia pergi, ketika kata-kata sudah di ujung lidahku, ia tidak mengijinkanku untuk mengeluarkannya. Semoga kita bertemu kembali. Tidak, aku tahu kita pasti akan bertemu kembali. Seolah-olah ia telah berjanji akan menemuiku, mungkin bukan sekarang, tidak juga besok atau sewindu kemudian. Tapi tak mengapa, waktu buatku tidak bersifat linier. Waktu hanya ilusi, waktu hanya persepsi. Aku akan menunggunya, menunggu hingga hatinya siap untuk memulai petualangan kita yang tertunda. Sampai jumpa, Gadis tabula rasa.
Bersambung……
