#Menjadidirisendiri

RUMAHKU

Saya selalu ingin pergi dari lingkungan tempat saya tinggal. Saya selalu ingin pergi keluar, asalkan tidak di Indonesia, atau paling tidak keluar dari Bali.

saya ingin bebas. karena saya merasa hidup di luar membuat diri saya berkembang lebih baik, karena lingkungan tidak menuntut banyak hal.

saya benci lingkungan saya. saya benci dengan sempitnya cara berpikir orang-orangnya, sibuknya mereka untuk mencari justifikasi dari orang lain, agar mendapatkan status sosial “baik” padahal kenyataanya, kami saling membunuh karakter satu sama lain, tenggelam dalam pergulatan untuk terlihat baik di mata masyarakat dan melupakan kebahagiaan sendiri.

atau, saya saja yang terlalu melebih lebihkannya.

Sebenarnya, yang saya benci bukan mereka, bukan negaranya, tapi diri saya sendiri.

saya benci ketika saya sangat susah payah harus beradaptasi untuk dapat merasa di terima oleh lingkungan saya, sejak saya kecil.

saya lelah untuk terus berpura-pura menyukai band yang sama dengan teman sepermainan saya, atau mengidolakan penyanyi yang sama agar saya bisa diajak makan siang dan berada di dalam grup saat istirahat sekolah.

saya seringkali pusing meladeni teman teman yang selalu drama dan overakting bahwa hidupnya lah yang selalu menderita.

saya sangat sedih ketika teman teman saya meremehkan apa yang saya pikirkan, argumen mereka yang lemah, mengernyitkan dahi mereka ketika saya berbicara mengenai global warming atau mulai mempertanyakan eksistensi manusia di muka bumi.

saya bingung kenapa apa yang saya anggap penting dalam hidup saya, menurut mereka itu membosankan, dan saya juga tidak habis pikir apa yang mereka pikir penting bagi mereka, menurut saya itu hanya kegiatan yang buang buang waktu.

saya lelah ketika orangtua saya tidak mengerti apa yang saya alami di sekolah, bahwa sosialisasi sebegitu lelahnya bagi saya. saya selalu berpikir, bagaimana cara agar diterima baik oleh lingkungan saya, di sukai oleh teman sepermainan dan melampaui standard sosial untuk menjadi seorang murid dan anak yang baik. karena saya terobsesi untuk menjalani hidup saya dengan baik.

dan akhirnya pada satu titik, saya mengalami pergulatan batin, bahwa tidak ada yang salah dalam diri saya untuk terlahir sebagai seorang empath, tidak ada yang salah bagi saya jika saya berbicara hal hal abstrak dan mempertanyakan banyak hal, tidak ada yang salah bagi saya untuk tetap percaya pada kemanusiaan dan kebaikan pada manusia. tidak ada yang salah akan itu. yang salah adalah, saya hidup di lingkungan yang toxic.

saya rasa Bali bukan rumah saya, saya hanya lahir disini, saya tidak dilabeli dengan identitas apa agama saya, dimana saya lahir, apa ras saya, etc.

saya adalah manusia. (sebegitu idealis dan naif nya saya)

singkat cerita, saya merencanakan hidup saya untuk tidak tinggal di bali, karena bali tidak memberikan akses saya untuk berkembang layaknya anak muda lain di ibu kota. mereka dapat menjadi sangat keren, dengan kebebasan yang tinggi dan subkultur yang banyak.

dan saya pergi, untuk beberapa waktu. saya mencoba simulasi, apakah benar hidup diluar bali lebih baik bagi saya, baik bagi keadaan emosional dan pikiran saya.

manusia selalu menginginkan apa yang tidak ada dalam hidupnya.

saya pergi, saya ingin membuktikan apakah tempat tersebut sesuai dengan imajinasi saya selama ini.

hati yang mengkonfimasikan, bahwa Bali adalah rumah saya.

im belong here. in Bali.

ada sesuatu yang saya rasakan jauh di dalam hati saya, yang memanggil saya untuk pulang, ke rumah. it said, there is a reason why you were born here.

saat itu, hari hari terakhir saya ditempat yang saya pikir sesuai dengan imajinasi saya. walaupun memang saya tidak ada pengalaman buruk dengan tempat tersebut, tapi ada hal yang kurang yang tidak saya rasakan.

kehangatan yang saya dapatkan di bali.

komunal, orang orangnya, adatnya, ritualnya,

begitu dulunya saya membenci, karena saya tidak mengerti elemen elemen ini, dan tidak ada yang dapat menjelaskannya dengan baik.

tetapi sekarang, saya merasa, memang ini rumah saya.

kebebasan mungkin saja sebuah ilusi, mungkin memang kebebasan itu tidak ada, atau kebebasan itu sebenarnya bukan dari rangsangan luar, tetapi kebebasan ada di dalam diri. saya bisa merasa bebas, tidak merasa terkungkung dalam tuntutan masyarakat, karena saya membiarkan diri saya untuk belajar memahami manusia lebih dalam lagi, menerima segala hal yang menyebalkan dalam hidup ini, dan fokus terhadap sisi baiknya, maka saya tidak akan merasa terpenjara. saya akan tetap merasa bebas, hati saya bebas dari kedengkian dan kebencian akan suatu hal yang tidak berjalan sesuai dengan standar saya, pikiran saya bisa bebas dengan melihat perspektif lain dan mendapatkan kebijaksanaan dari hal tersebut.

saya akhirnya bebas, bebas dari dalam diri saya sendiri.

dan percayalah, sejelek jeleknya lingkungan tempat kamu tinggal, ketika kamu sudah berada di frekuensi mu sesungguhnya, dan kamu selalu memiliki harapan dan berpikiran positif, orang orang itu, akan datang dengan sendirinya. menemuimu, dan kamu akan mendapatkan tempat di sebuah lingkungan yang menerima segala autentisitas dirimu dan keunikan dirimu.

jadi, temuilah dirimu sendiri dahulu, jangan menurunkan standard dan frekuensimu demi orang lain, karena mereka bisa secara sengaja maupun tidak sengaja memanipulasi energimu, dan kamu akan makin menderita dan bingung.

Dont lower your standard, perjalanan masih panjang, but hang in there, we can do it.

one thing, love is the cure for every dis — ease in this world.

Like what you read? Give Ayudiah Natalia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.