ON FAILURE

“bagaimana kau memaknai kegagalan?”

“aku tidak memaknai, aku menikmati kegagalan, hingga bosan. sampai sampai aku mati rasa, saat menyikapi kegagalan”

quotes “belajarlah dari pengalaman”, tidak berlaku untukku.

mungkin ini mengapa aku mengalami reinkarnasi beratus ratus kali, karena bodoh untuk tidak cukup belajar dari pengalaman.

aku gagal. dan terus gagal. untuk hal yang sama. bertahun-tahun lamanya.

aku sering berpikir, apakah memang takdirku untuk terus gagal? dan hidup seadanya seperti ini?

sejak kecil aku selalu menyaksikan perjuangan orang orang untuk meraih mimpinya, ketika mereka mengalami kegagalan, mereka bangkit dan berhasil. tetapi aku? aku bahkan tidak yakin pernah berhasil dalam meraih mimpi mimpiku

aku gagal karena kebodohan, kebodohan dan ketidaktasanggupan untuk menahan cobaan. dan aku gagal, walau kurang ajarnya aku selalu menumbuhkan harapan.

harapan jika suatu saat nanti mungkin saja aku berhasil, (sebenarnya harapan itu aku upayakan karena aku takut bunuh diri untuk mengakhiri hidup, ya makanya di jalani saja)

belajarlah dari kegagalan. aku belajar, tapi tidak berhasil mengimplementasikan.

mereka bilang aku yang mimpinya terlalu tinggi. aku bilang, aku saja yang bodoh memang tidak sanggup merealisasikan mimpiku.

aku ambisius, tetapi hanya di tataran ide. jika kau menyuruhku bergerak dan membuatnya menjadi kenyataan, mungkin sekarang aku akan berakhir di kamar dan mengutuk diriku sendiri yang kurang berusaha.

selama ku hidup, orang orang tidak suka orang yang tidak bisa berhasil dan lulus belajar dari kegagalan, aku pasti hanya seorang pecundang bagi mereka

aku tidak sedih, marah, kecewa, kesal. itu semua sudah menguap di udara sejak lama. yang tersisa hanya, keluhan yang tidak berarti.

aku bahkan tidak yakin akan menjadi seseorang yang mengubah dunia.

karena aku selalu gagal, dengan hal yang sama. membuatku melihat kegagalan sebagai teman.

pada akhirnya, aku hanya bisa berharap. berharap esok aku lupa dengan kegagalanku. sebuah mekanisme defensif untuk otak dan tubuhku menolak realita.

menjadi dungu dan terus berharap, mungkin itu bukan suatu hal yang jelek jelek amat. setidaknya aku punya harapan, tidak terlarut larut dalam kesedihan.

berharap untuk bertahan hidup, dan berharap besok ada bir dingin dan ayam panggang menyambut pagiku.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated ayudiah natalia’s story.