Refleksi Atas Identitas

Ayudiah Natalia
Sep 2, 2018 · 3 min read
google.com

Rasa memiliki suatu identitas tidak hanya menjadi sumber lahirnya kebanggaan dan kebahagiaan, tapi juga kepercayaan diri dan tumbuhnya kekuatan. Tidak heran bahwa gagasan tentang identitas mendapat pengakuan sangat luas.

Menurut data dari Kementrian Kebudayaan, ada 245 aliran kepercayaan/agama lokal di Indonesia, tetapi hanya 6 agama yang diresmikan. Terdapat 1.340 suku tersebar di 17.054 pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah dapat mengkategorikan Indonesia adalah negara yang masyarakatnya multikultur, dimana masyarakat yang terdiri dari berbagai ragam identitas kebudayaan, suku, kebiasaan yang hidup dalam suatu negara.

Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia sebenarnya sangat ideal bagi kondisi Indonesia. Diharapkan dapat menjadi pedoman hidup warga negara Indonesia agar tidak terpecah belah oleh konflik SARA (suku, ras, agama) yang sangat riskan terjadi pada negara multikultur seperti Indonesia.

Saya menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Sekolah Hindu, SMP di Sekolah Katolik, SMA di sekolah Nasional Plus. Selama hidup saya, identitas kodrati saya memang sebagai orang beragama Hindu dan masyarakat Bali yang masih aktif dalam adat istiadat. Tetapi saya tumbuh dan besar di lingkungan yang multikultur, dan menjadikan saya berada di berbagai kelompok, menjadikan saya memiliki identitas yang kaya.

Identitas juga bisa memicu pembunuhan yang membuat orang mati sia-sia. Rasa keterikatan kuat pada suatu kelompok bisa memicu tumbuhnya perselisihan antar kelompok. Akhir-akhir ini sering kita lihat, konflik atas nama keagamaan dan ras semakin besar di berbagai belahan dunia. Manusia menjadi terpolarisasi dengan adanya perbedaan ini. Ekstrimisme dan kaum fundamentalis semakin merajalela, pemahaman benar dan salah suatu hal ditentukan oleh keterikatan antar komunitas mana yang diikuti, dan menganggap perbedaan menjadi hal yang mengancam eksistensi suatu komunitas.

Saya memiliki teman , ia seorang muslim yang religious dan transgender yang menyuarakan hak-haknya. ia adalah bagian dari berbagai kelompok yang berlainan, cenderung bertolak belakang. Bukan berarti transgender tidak bisa aktif dalam kegiatan keagamaan dan sebaliknya. Kita adalah bagian dari berbagai kelompok, dan tiap kelompok memberikan kita potensi identitas yang penting bagi kita.mengkotak-kotakan diri pada salah satu kelompok, tidak cukup bisa memahami manusia itu sendiri.

Konflik akan perbedaan identitas terjadi karena kita yang menyempitkan identitas seseorang sebagai identitas tunggal. Ilusi atas identitas tunggal dengan mengerdilkan keberagaman identitas lain yang dimiliki seseorang berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat dan pemanfaatan oleh orang-orang yang sengaja dilakukan untuk menebarkan kebencian, propaganda politik, kampanye hitam menjatuhkan lawan dengan berfokus pada identitas SARA, untuk mendapatkan kekuasaan. Ini yang kita sebut sebagai Politik identitas. Hal ini terjadi karena fanatisme tersebut mematikan nalar dan daya kritisi masyarakat. G30s PKI, Kerusuhan 1998, Pilpres 2014, Pilgub DKI 2017, semua itu memiliki pola yang sama yaitu menggunakan agama sebagai komoditas Politik identitas.

Manusia masih melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Kekerasan atas nama identitas yang terjadi sekarang tidak jauh lebih parah dibanding apa yang terjadi 60 tahun silam, dari konflik Rwanda di afrika hingga G30SPKI di Indonesia yang menyebabkan jutaan jiwa warga sipil meninggal sia-sia..

Kita harus mencari cara untuk bertransformasi sebagai manusia, jangan jadikan perbedaan keagamaan/ kepercayaan menjadi penghambat sebagai manusia untuk tetap saling mengasihi dan mencintai satu sama lain. Saya disini tidak berusaha merendahkan agama. Agama tidaklah salah, agama mengajarkan nilai-nilai luhur dan cinta kasih. Agama yang digunakan sebagai senjata politik lah yang saya sesalkan. Nilai agama yang luhur terdistorsi dengan kepentingan segelintir orang dan agenda politik di dalamnya.

Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya, keberagaman identitaslah dan kekayaan akan perbedaan menimbulkan keinginan manusia untuk belajar mengenal, mencari tahu dan memperluas perspektif pikiran bahwa sebenarnya, perbedaan bukan lah ancaman. Perbedaan lah yang membuat kita saling melengkapi satu dengan lainnya.

Negara ini dibangun atas dasar perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan di dalam perbedaan. Lucu rasanya ketika kita mengalami degradasi karena ego dan arogansi kita untuk menutup diri atas perbedaan. Kita menjadi bangsa yang rapuh, segelintir orang memakai kesempatan ini untuk menyisipkan agenda politik yang memecah-belah persatuan kita dengan propaganda politik identitas.

Jika perbedaan terasa sulit untuk diterima, mengapa tidak kita mencari satu kesamaan identitas di antara kita semua, yaitu kemanusiaan. Dalam nama kemanusiaan kita semua setara, dalam nama kemanusiaan kita adalah saudara, dalam nama kemanusiaan kita adalah satu.

2017

Ayudiah Natalia

Written by

Life is more than just the economy or society. It is about individually and collectively moving towards bliss.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade