SEMBUHKAN DIRI DENGAN MASUK KE DALAM DIRI

tulisan ini saya dedikasikan untuk memperingati hari kesehatan mental sedunia. Walaupun kesadaran akan penyakit mental masih kurang di negara kita, tapi sudah banyak orang-orang yang menyuarakan tentang hal ini. tentunya yang paling vokal tentang isu ini adalah #Millenials.

tentunya, hal ini cukup positiv, melihat banyaknya orang yang sudah sadar bahwa kesehatan mental tidak kalah penting dengan kesehatan fisik. Pada dasarnya kesehatan mental dan kesehatan badan tidak dapat dipisahkan. Manusia adalah mahluk berakal budi. pikiran adalah komponen utama manusia, fisik bukan utamanya, berbeda dengan hewan. Penalaran yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya di bumi ini.

Pikiran itu adalah benih dari aksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan manusia. ketika akan berbicara misalnya, pertama kita akan memikirkan konsep dan kata-kata kemudian baru kita utarakan. jadi manusia memang seyogyanya menaruh perhatian lebih kepada kesehatan mental dan “state of mind” nya. Seperti tubuh sehat yang perlu makanan sehat dan bernutrisi, mental kita perlu asupan makanan yang bergizi juga, selai dan itu adalah hening sejenak, masuk ke dalam diri. meditasi.

SEBUAH PENGAKUAN

Kilas balik sedikit, saya mengalami crash/ eror pada akhir tahun 2016 hingga pertengahan 2017. (saya tidak bisa bilang itu depresi/apapun namanya karena saya ga ke dokter jiwa, jadi gamau diagnosa sendiri) tapi saya ke seorang healer, (karena keluarga saya orang bali dan kami familiar dengan hal-hal seperti ini) dan healer saya bilang bahwa, memang “crash” yang saya alami itu adalah luka batin yang sangat dalam (trauma) , menyebabkan psikis saya terganggu dan akhirnya menghasilkan reaksi demikian. saya selama 6 bulan lebih tiba-tiba nangis teriak-teriak, lalu 2 menit kemudian berhenti, tapi saya tidak merasa sedih ataupun senang, perasaan saya mati rasa, seolah-olah kesedihan bertahun-tahun yang dipendam akhirnya meledak. intelegensi saya menurun, saya takut bertemu orang, cemas berlebih. selama sebulan saya tidak keluar rumah. dan tidak ada teman-teman ataupun orang lain yang tahu awalnya selain keluarga, dan orang terdekat.

Bahkan saya tidak terlihat sedih atau murung oleh orang lain, saya bersikap biasa saja di lingkungan kampus dan seolah-olah kehidupan berjalan baik-baik saja. tapi sebenarnya tidak.

Kita semua punya trauma/ bekas luka yang mendalam, entah itu di masa kecil, saat remaja atau sudah dewasa. tapi umumnya, pola yang saya lihat di teman-teman saya yang memilii riwayat penyakit mental, semua mengalami kekerasan psikis/ fisik di masa kecil. (tentu ini penilaian saya pribadi) yang akhirnya mengakar dan berkembang mempengaruhi sifat-sifat dan personalitasnya.

“singkat cerita, healer saya sangat membantu proses “crash” yang saya alami lebih ringan, walau saat itulah perjalanan sesungguhnya dimulai.

SPIRITUAL

satu-satu nya cara untuk menyembuhkan ini adalah mengenali akarnya dan mencabutnya, dan itu dengan spiritual.

healer saya bertanya pada akhir sesi kami, saya tahu itu adalah terakhir kali saya akan bertemu dengannya, karma kami sudah selesai, dan beliau sudah menyelesaikan tugasnya pada bagian hidup saya.

ia bertanya, “menurutmu, apa tujuan hidup kamu?”

saya: “untuk mendapatkan kedamaian, saya capek roller coaster gini”

ia: “maka dari itu, kamu harus jalani tugas kamu, dan jalan kamu adalah untuk mendalami spiritualitas, maka jalani lah.”

SPIRITUALITAS

kata spiritual terkesan berjarak, avant garde, di awang-awang buat saya yang saat itu bacaan saya tan malaka, soe hok gie, pram,etc. tapi sebenarnya saya tertarik untuk mendalami tentang kesadaran, hal-hal besar di luar manusia dan kebenaran sejati.

mungkin, masih banyak yang menganggap spiritual itu berjarak. padahal tidak, kita semua adalah mahluk spiritual, semua manusia memiliki potensi dan benih itu, karena dharma (karakteristik) manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan abadi, keinginan terus berekspansi hingga menjadi tidak terbatas. dan sama seperti api yang memiliki dharma yaitu membakar dan mengikuti dharma itu mau tidak mau. manusia pun demikian, kita secara sadar dan tidak sadar kita tidak pernah puas dan selalu menginginkan hal yang lebih dan lebih, tapi kesalahannya adalah, kita melekat dengan dunia luar yang sebenarnya terbatas. bagaimana kita memuaskan keinginan kita yang tidak terbatas di dunia yang terbatas ini? yang ada akhirnya penderitaan dan kemunduran peradaban manusia. lucunya, tuhan menciptakan dunia luar sebagai distraksi, yang kita anggap segalanya , tapi sebenarnya semua hal yang kita butuhkan ada di dalam diri kita, untuk menemukan hal-hal yang tidak terbatas itu.

MENYEMBUHKAN DIRI DENGAN MEDITASI

mungkin frasa ini benar, ketika murid siap, guru akan datang. dan itu terjadi pada saya tak lama kemudian saya mempelajari teknik meditasi tantra oleh seorang acarya (guru spiritual). sebenarnya dari dulu saya familiar dengan meditasi, saya mulai meditasi rutin semenjak tahun 2015, tapi saat itu saya tidak merasa teknik meditasi yang saya pelajari kurang cocok dengan saya.

meditasi yang langsung berefek pada diri saya keseluruhan. Dulu saya cenderung memiliki pikiran yang gampang terdistraksi dan penuh dengan kecemasan, semenjak meditasi kurang dari setahun, kesadaran saya berkembang dan banyak realisasi yang saya dapatkan. saya sudah tidak secemas dulu dan menariknya, saya tidak pernah mengalami kesepian lagi. meditasi membuat pikiran saya lebih halus dan intelek saya lebih tajam, membuat saya lebih mudah berempati terhadap semua mahluk, dan mencintai dengan lebih mudah tanpa pamrih, saya tidak takut lagi dengan kesunyian ataupun kegelapan malam. meditasi membuat saya seolah bangun atas realitas. meditasi mengurangi kekacauan pikiran, kekecewaan dalam hidup, dan kemarahan atas orang lain.

tentunya tidak hanya meditasi, tapi mempraktikan conduct dan juga mengelilingi diri saya dengan orang-orang yang juga satu frekuensi, menjaga pola makan juga penting.

meditasi adalah proses hidup. kita semua mengalami penderitaan, tapi generasi saya memang sangat menderita. karena kami hidup di jaman hiperrealitas dan penuh dengan distraksi informasi, kami hidup dalam kesemuan, kami hidup saat kapitalisme sedang jaya-jayanya, kami hidup dengan pesimistik, kebingungan, dan kemarahan. kami secara intelektual cukup baik tapi kurang punya kemampuan diskriminasi yang baik. dan yang paling parah, kami asing dengan proses. semua hal dengan cepat berputar di hidup kami. semua hal disajikan dengan waktu yang singkat. dan dengan itu, kami tidak tahu bagaimana cara hidup dalam proses.

Padahal, kehidupan adalah sebuah proses.

meditasi bukan panadol atau xanax yang bisa menghilangkan sementara, tapi meditasi adalah proses gradual yang pelan-pelan menelaah akar segala penderitaan dan menyembuhkannya pelan-pelan, dan seiring tenggelam dalam prosesnya, kita akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan eksistensial kita.

come within yourself and discover the infinity