TITIK.

Aku melihat diriku berada di puncak bukit, duduk menatap lautan dan belahan perbukitan di seberangku, saat itu senja tampak keemasan, paparan sinar mentari yang membuat pupilku membesar dan irisku terlihat keemasan karena bias cahaya

Aku sendiri di hamparan rumput hijau di perbukitan itu, memakai outer tribal dan celana jeans, dengan atasan hitam. Sebelahku ada tas selempang kecil yang di dalamnya ada hal hal yang sangat penting untukku.

Sejuknya udara dan hembusan angin seolah menyambutku, ia menari nari, mengibaskan rambutku yang terikat, cardiganku ikut menari bersamanya. Mataku tetap tertuju pada birunya langit dengan gradasi oranye yang terlukis dengan cantic di langit.

Hidungku menarik nafas dengan panjang dan khidmat. Paru-paruku berkontraksi penuh, sudah lama ia tidak merasakan udara sejernih ini. Udara yang hanya bias kau dapatkan hanya ketika kau pulang ke rumah. Pulang ke alam.

Mataku berkaca-kaca, pipiku berseri dan senyuman tersungging di bibirku.

Air mata pertama turun di kelopak mata kananku.

Dadaku sesak, nafasku tidak beraturan, tangisan seorang manusia pecah di tengah kesunyian senja saat itu, beradu dengan hembusan angin, gemerisik rumput dan kicauan burung di langit.

Aku pulang.

Tanganku gemetar, bahuku terguncang, lututku lemas, pipiku basah dan kulitku terasa dingin dengan air mata yang mengucuri wajahku.

Maafkan aku, aku baru bisa pulang, ucapku dengan sesenggukan.

angin menyambutku, Ia merangkulku, pohon-pohon berdesir, cahaya dilangit senja berwarna oranye ke unguan. Tanda tak lama lagi mentari akan beristirahat. Dan bintang pertama muncul diatas langit. Menandakan pergantian waktu dan portal akan segera terbuka.

“Setelah sekian lama tangisan pertamanya hadir di ibu pertiwi, ia menangis kedua kalinya dan kali ini, ia terlihat menyesal,“ucap burung kepada kawanannya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.