Keramahan, Kunci Sukses Menggaet Pelanggan Bisnis Pakaian

26 Jul 2016 15:05:00

Tetap eksis dalam bisnis yang sudah menjamur hingga puluhan tahun tidaklah mudah. Mulai dari kepercayaan kepada karyawan hingga keramahan kepada konsumen menjadi strategi yang diemban.

Melanjutkan usaha sang suami, perempuan bernama Saidah mampu mengembangkannya dan terus eksis di tengah serangan usaha sejenis. Mulai dibangun sang suami sekitar tahun 1988 usaha berjualan pakaian tersebut sampai sekarang terus ia berkibarkan kokoh.

Ditemui di kios pakaiannya yang terletak di Blok KC Nomor 17 lantai dasar Plaza Rapak, perempuan ramah ini tidak segan menceritakan bagaimana dia berusaha menata manajemen dagangannya dan terus mengumpulkan rupiah demi rupiah. “Dulu usaha ini, dirintis oleh almarhum suami saya. Namun, setelah suami saya wafat, saya pun harus melanjutkan sendiri,” ucap perempuan yang tinggal di kawasan Jalan Borobudur, Balikpapan Utara ini.

Pertama kali, almarhum suaminya merintis usaha ini dengan menyewa kios di Pasar Rapak pada kala itu. “Waktu itu usaha seperti ini masih sangat sedikit. Jadi, untuk berkembang bisnis ini sangat cepat,” tuturnya.

Sampai di tahun 90-an ketika suami Saidah wafat dia harus melanjutkan usaha suaminya yang terbilang cukup sukses di bangun waktu itu.

Tidak mudah baginya bekerja dan mengembangkan bisnis ini sendiri hingga saat ini. Suka dan duka ia alami dalam menjalankan bisnis ini. Dia juga menyebutkan cukup banyak karyawannya dulu yang menyia-nyiakan kepercayaan yang ia berikan.

Kejadian kebakaran di Pasar Rapak hampir saja menghanguskan barang dagangannya. Beruntung kios yang ia tempati tidak terkena. Sementara saat itu, dia berjualan di tenda yang telah disediakan di lokasi kebakaran.

Sampai Plaza Rapak jadi dibangun sekitar awal 2000-an, ia pun kembali berjualan di dalam Plaza Rapak tersebut. Namun, bisnis serupa dengan yang ia jalankan saat itu sudah mulai banyak bermunculan. Mau tidak mau dia harus bersaing bahkan terkadang harus membanting harga.

“Bisnis ini termasuk bisnis yang masih tradisional hanya menunggu masyarakat datang di toko bukan seperti bisnis-bisnis yang ada saat ini promosi menggunakan media sosial. Strategi penting dalam bisnis tradisional ini adalah bagaimana keramahan kita terhadap para konsumen yang datang,” terangnya.

Ya dia menilai bisnis yang ia lakukan hingga puluhan tahun ini semakin ke sini tantangan yang dihadapi memang cukup sulit. Mulai dari pesaing yang sudah menjamur hingga modernisasi zaman. “Dulu, jualan seperti saya ini sangat menjanjikan namun sekarang cukup sulit,” sebutnya.

Namun, untungnya masih ada masyarakat Balikpapan yang datang menawar dan membeli langsung pakaian yang ia jual. Kebiasaan masyarakat yang masih membeli harus melihat meraba dan mencobanya membantunya untuk terus eksis hingga sekarang.

Pakaian yang ia jual adalah busana muslim, harian, dan seragam sekolah. Untuk barang-barang ia biasa mengambilnya dari Jakarta, Banjarmasin, dan Samarinda.

Dia juga menyebutkan sebelumnya ia telah membuka cabang di daerah Plaza Kebun Sayur namun dia tidak melanjutkannya karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang ia miliki. “Saya mencari karyawan sangat teliti karena sekarang ini sulit karyawan yang benar-benar jujur. Saya ini saya memiliki dua orang karyawan dan terkadang saya juga ikut turun di lapangan,” ungkapnya.

(***)


Originally published at www.smartbisnis.co.id.