Catatan Jarak Jauh
Aku perempuan, kukatakan bahwa kau bisa selesai membaca tulisanku kau akan membaca namaku, dan kukatakan sekali lagi aku perempuan. Aku suka menulis lebih jelas mengarang cerita, dalam menulis-putar aku lebih suka kita - begitu kurasa. Maksudku, kita - aku dan kau (laki-lakiku). Dari semua yang kutulis juga sebagian dari apa yang tercipta di kepalaku, tentang ingatan-ingatan yang mengalir setiap hari dengan perjalanan tubuhmu dan aku di antara kota kita yang jauh. Orang-orang yang sering menyebutkannya Hubungan Jarak Jauh (LDR). Entah kenapa, aku suka tertawa setiap kali kita bercerita - lewat telepon. Berbagi rindu saja sudah membuatku tertawa - gila.
Pernyataannya adalah: pertama, aku belum pernah menulis cerpen asli. Kedua, aku belum pernah punya jalan cerita lain selain denganmu yang kutulis sebagai tema dan jalan cerita. Mungkin ada, beberapa masa laluku yang ditinggal atau masa lalumu yang ditinggal karena ia (perempuanmu dulu) lelah - ingin menikah denganmu - yang entah. Aku akan bermimpi akan menikah, dan mimpi itu dekat sekali denganku sekarang. Setelah aku tahu mimpi itu semakin dekat, karena di dalam mimpiku kau yang menjadi pendampingku - di sana. Setelah selesai kamu membuat membuat mimpiku menjadi nyata, aku tidak akan bermimpi lebih panjang lagi untuk menikah, karena kau sudah menikahiku - masa.
Besok pagi aku sudah mulai bekerja dan kau harus tahu itu, bekerja adalah waktu yang paling menyebalkan dirasa tapi tingkat ibadah. Aku suka bekerja meskipun itu hal yang paling menyebalkan, karena setelahnya aku pasti akan lelah. Kau tahu kenapa aku suka sekali bekerja? Karena sering membuatku tahu bahwa aku bisa membuat hidup dalam hidupku dan itu sudah kubuktikan. Dengan aku yang masih (perempuan) ini, aku bisa membuat angka diwa aku sendiri dan aku bahagia. Selarut apa pun aku pulang sampai malam, tapi aku tidak akan memberitahuku kalau aku pulang dengan enklanya sayang - dari keluargaku. Jangan paksa aku akan mengucapkan terima kasih, karena aku tulang punggung keluarga - ingat itu.
Aku hampir lupa tujuan utamaku untuk mencatat, aku ingin membaca beberapa dari alasanku tentang aku ingin hidup denganmu. Aku sudah sering membicarakan hal ini dengan pencipta-Mu dan aku, sering kali itu aku lagi. Aku sudah sangat ingin tapi kukatakan harapan itu kosong karena aku ingin mengganti kata harap menjadi doa. Bisa kausastian seperti mantra, yang bisa dilakukan hari jawan sebagai petuah. Jika saja waktu-waktu itu bisa kusingkat dengan sendirinya, mungkin barang kali aku belum jatuh cinta denganmu - tentu. Iya - aku tahu, Tuhan sering mempersiapkan banyak waktu untuk orang-orang yang Dia anggap mampu karena, sengaja ingin tahu bahwa semua itu adalah anugrah.
Banyak hal yang kusyukuri dalam semua ini, termasuk aku sudah dengan - tempo, dan itu kukatakan sudah beribu kali dalam hatiku. Tunggu, pelan-pelan jangan terburu-buru untuk tahu apa maksudku ini. Aku ingin mengajakmu lebih dulu berkeliling mengingat apa yang kita sudah melangkah. Yang jelas belum mengukur yang kita kira, kita masih di tempat yang sama dengan perasaan yang biasa luar biasa. Tapi, tetap saja kuakui kita masih di titik yang belum ada. Kau mencintaiku - aku mencintaimu, dan kita sama-sama cinta, tapi kenapa dan harus ada kata mengapa kami belum juga bertemu dengan sesuatu yang nyata. Semisal; kau usap rambutku lembut dengan tanganmu, atau mengecup ubun-uubunku, mencium bibirku, dan membalas ciumanmu.
Aku benci pernyataan ini, karena aku akan mengulang artikel yang sama. Semeran aku sudah tahu jawaban, tapi kau harus tahu mengapa? Aku sering kali memaki-maki hal ini membuatku dan kau menemukan waktu-waktu pertengkaran kita. Aku selalu memarahi diriku sendiri, aku juga sedang melunjak marah karenamu, atau karena waktu –waktu kau kebebasanku. Selalu menggunakan pertanyaan dalam kepalaku “ mengapa kita jauh? ” tahu aku juga salah - setiap kali aku menemukan aku marah - aku juga sama sedang memarahi diriku - dan menyakiti diriku sendiri setelah pukulanimu dengan perkataan marahku.
Perihal nir waktu biarkanlah berlalu, yang kutahu aku sudah gugur dalam harapan bersamamu. Tuhan cinta yang membuatku lebih mampu, untuk menjalani waktu hari-hari tanpamu. Perjuangan, kami masih bersama tapi kami berada di antara ruang dan waktu yang jauh. Sebelum aku tenggelam yang terdiri dari kurang lebih tujuh ratus kata ini, aku ingin bilang Aku cinta kamu - laki-lakiku. Aku cinta kamu dan tidak melebih-lebihkan semua itu. Kepercayaanku negatif aku serahkan dengan - Tuhanku. Selamat malam - untukmu.
