Dimulai dari Facebook Tentang Perempuan Indonesia

Tadi malam saya menjelajahi Facebook seorang sepupu dari pihak Papa yang tinggal di Watampone, Sulawesi Selatan. Perempuan manis dengan alis tebal, yang saya tahu pasti juga punya watak manis. Namanya Uni, ayahnya meninggal bertahun-tahun lalu saat ia masih SMP dan adik-adiknya masih SD. Beberapa tahun lalu saat saya masih tinggal di Jakarta, sempat ada pembicaraan antara Mama dan Papa (yang waktu itu masih akur) mengenai pendidikan Uni.

Mama Papa sepakat ingin membantu Uni agar bisa sekolah di perguruan tinggi di Jakarta, yang pastinya akan bagus sekali untuk masa depan Uni sekaligus membantu keuangan keluarganya. Tapi entah kenapa pembicaraan itu terhenti dan Uni tidak pernah datang ke Jakarta untuk sekolah di perguruan tinggi.

Keluarga dari pihak Papa terbagi dua, mereka yang tinggal di Makassar alias Ibu Kota Sulawesi Selatan, dan mereka yang tinggal di Watampone, sebuah kota kecil tujuh jam perjalanan meliuk-liuk dari Makassar. Mereka yang tinggal di Makassar rata-rata lulus dari perguruan tinggi untuk kerja di pemerintahan, tinggal di rumah mentereng, jalan-jalan ke luar negeri, dan menikah dengan seseorang yang sama-sama berpendidikan tinggi dari keluarga terpandang.

Yang di Watampone, jarang sekali menempuh pendidikan lebih dari SMA dan setaranya. Tinggal di rumah panggung terbuat dari kayu yang sudah ditempati dari jaman leluhur mereka, menikah karena dijodohkan dengan seseorang yang masih ada hubungan keluarga. Pekerjaan mereka rata-rata bertani, buka warung, atau jual tanah.

Saat membuka Facebook Uni tadi malam, saya melihat bahwa ia akhirnya menikah dengan salah satu paman (yang tentunya paman saya juga), sekitar 20 tahun lebih tua dari Uni dan mereka kini sudah punya satu orang anak. Saya tidak update mengenai apa yang terjadi di keluarga, apalagi dengan status saya yang ‘dibuang’ saat ini karena memaksa menikahi laki-laki beda agama. Jadi tadi malam saya lumayan kaget ketika tahu Uni menikah dengan si Paman ini.

Lumayan kaget? Karena bukan cerita baru di Watampone kalau menikah dengan paman, bibi, atau sepupu yang berbeda umur jauh. Itu cara mereka untuk memastikan bahwa garis keturunan mereka tetap murni dan harta kekayaan tidak lari ke orang luar. Tapi saya tetap kaget karena Uni sebenarnya salah satu sepupu yang diharapkan bisa mengubah nasib keluarga karena dia pintar dan punya kemauan sehingga bisa sekolah tinggi. Uni yang manis juga diyakini bisa mendapatkan pria dari keluarga yang terpandang. Tapi kenapa dia berakhir menjadi istri si Paman yang saya tahu jelas bekerja sebagai petani dan kadang-kadang menjual tanah keluarga?

Saya sebenarnya tidak suka mempertanyakan pilihan hidup seseorang, karena saya juga tidak suka ditanyai hal yang sama. Tapi karena saya tahu jelas latar belakang Uni dan si Paman, mau tidak mau saya berpikir keras. Dan mungkin ada sejuta alasan kenapa mereka menikah, tapi ini membuat pikiran saya melayang-layang.

Hingga saya mendapat jawabannya. Bahwa ini mungkin bukan hal aneh ataupun mengagetkan. Melihat Uni yang muda, manis, dan pintar, menikah dengan si Paman yang sudah tua dan tanpa karir. Bukannya hal seperti ini terjadi hampir di setiap pelosok Indonesia?

Dan ini membawa saya ke satu pemikiran lagi, sebegitu pentingnya bagi perempuan Indonesia untuk menikah? Terutama menikah dengan seorang pria berpendidikan, dari keluarga terhormat, dan dompet tebal?

Mungkin kalau Bayu bukan dokter hewan, tidak dapat penghargaan dari Amerika untuk pekerjaannya di bidang konservasi, datang bukan dari keluarga berdarah biru, dan tidak punya karir, mungkin juga keputusan saya akan dipertanyakan banyak orang (meskipun sekarang saja banyak orang yang bertanya-tanya kenapa saya mau menikah beda agama dengan pria yang 21 tahun lebih tua).

Di keluarga saya, baik dari pihak Papa maupun Mama, perempuan-perempuan yang dianggap paling berhasil adalah yang mereka yang menikah dengan pria ‘sempurna’. Catat ya, keluarga Papa seperti yang saya jelaskan di atas dan keluarga Mama 1000x lebih modern dan berpendidikan dari keluarga Papa. Namun ketika bicara tentang pernikahan mereka masih punya konsep yang sama.

Seberapa hebatnya seorang perempuan, mereka tidak akan lengkap tanpa pernikahan. Mama dulu dipandang sebagai salah satu yang ‘berhasil’, menikah dengan Papa yang seorang arsitek, religius, ‘tajir’, baik hati, serta penyayang. Yang tidak orang tahu adalah betapa bobroknya rumah tangga mereka. Bahkan yang membuat Mama mengulur-ulur perpisahannya dengan Papa, dan yang membuat Papa sampai sekarang tidak rela melepaskan Mama adalah karena “Apa kata orang nanti?”.

Di salah satu grup Facebook yang saya ikuti, selalu muncul diskusi mengenai wanita dan pernikahan. Saya dan mereka yang berdiskusi hidup di zaman modern di mana, di dunia internasional, pernikahan bukan lagi hal yang paling penting di hidup. Perempuan-perempuan Indonesia yang pintar-pintar ini tentunya hidup berkiblat ke barat, ke dunia internasional, dan setengah mati ingin ikut-ikutan tren ‘tidak menikah’. Tapi yang tidak kita sadari adalah, pada akhirnya kita semua hanya perempuan Indonesia/Asia, dan harus hidup berbekal idealisme kebarat-baratan tersebut di lautan masyarakat kolot, hanya akan menjadikan kita para perempuan aneh, bitter, dan gemar marah-marah di sosial media.

Jadi maksudnya saya tidak mendukung ‘movement’ tidak menikah tersebut? Karena saya sudah menikah? Bukan. Saya masih mendukung ‘movement’ tersebut, saya masih selalu berkata pada teman-teman saya bahwa menikah dan berumah tangga itu overrated.

Yang mau saya katakan adalah, saya tidak mendukung para perempuan yang tidak menikah tapi lalu marah-marah, sama seperti saya tidak mendukung perempuan yang menikah karena status. Kembali ke Uni, saya tidak berada di posisi yang bisa berkata bahwa Uni menikah dengan pamannya karena status atau keamanan.

Yang mau saya katakan adalah, perempuan Indonesia akan selalu menjadi perempuan Indonesia. Menikah atau tidak menikah, ada kewajiban dan tanggung jawab sebagai perempuan Indonesia yang harus dipikul dan dipenuhi. Dan saya tahu pasti saya berada di posisi untuk bisa berkata, jadi perempuan tidak gampang, jadi perempuan Indonesia apalagi. Jadi cari cara termudah untuk hidup sebagai perempuan Indonesia.

Jadi mungkin kisah Uni yang menikah dengan pamannya hanya kisah biasa di Indonesia. Mungkin sama saja dengan kisah saya. Demi Allah saya berharap Uni bahagia dalam pernikahannya dan saya juga berharap perempuan-perempuan lainnya bahagia dalam hidup mereka. Menikah atau tidak menikah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.