Kenapa Punya Keturunan?

Di antara lini masa sosial media yang tak henti-hentinya dipenuhi foto bayi atau kabar gembira dari teman-teman yang hamil dan melahirkan, ada saya yang tangan kirinya menggerakan jempol naik turun menjelajahi sosial media, sambil tangan kanannya menghisap rokok.

Kalau saya cerita tentang betapa menyebalkannya pertanyaan-pertanyaan orang mengenai aktivitas rahim saya atau sperma suami, ini akan jadi tulisan yang pendek. Tapi yang akan saya ceritakan sekarang adalah kenapa saya bersyukur belum diberkahi keturunan meskipun sudah satu tahun menikah.

Karena saya dan suami masih bebas ewita kapan saja dan di mana saja, ewita yang rasanya masih seperti pengantin baru. Karena saya dan suami masih bebas bangun dan tidur jam berapapun. Karena saya dan suami masih bebas jalan-jalan dan blusukan kemana saja. Karena saya masih bisa terobsesi menguruskan badan. Karena suami masih bisa terobsesi dengan burung dan anjing, dua binatang favoritnya. Karena saya dan suami masih bisa kerja cari uang, cari karir tanpa harus memikirkan hal-hal lainnya.

Dan yang paling penting, karena saya jadi punya kesempatan untuk betul-betul memikirkan alasan kenapa saya dan suami harus punya keturunan. Suami saya menjawab, “Karena gen aku terlalu sempurna untuk tidak diteruskan di dunia ini.” jawaban narsis ala si Suami. Lalu saya? Apa jawaban saya?

Sempat lho terbersit bahwa punya keturunan tidak penting-penting amat, tapi satu menit kemudian saya tahu dan sadar, bahwa hanya ada satu alasan untuk saya kenapa kami harus punya keturunan. Saya dan suami harus punya keturunan, agar saya selalu memiliki bagian dari suami saya, agar saya tidak akan pernah kehilangan suami saya.

Saya bersyukur tidak langsung diberikan keturunan seperti teman-teman saya, karena itu artinya saya punya waktu untuk lebih kenal suami, untuk lebih kenal diri saya dan merencanakan saya ingin jadi ibu seperti apa, dan yang paling penting, saya bersyukur belum diberikan keturunan, sehingga saya sekarang benar-benar ingin punya keturunan, bukan hanya karena punya keturunan adalah bagian dari pernikahan.

Jadi, kapan hamil, Yu?

Sebentar, biar saya matikan dulu batang rokok ini.