Kenapa Saya Mau Menikah?

Terus terang saya agak merasa lelah dengan banyaknya jumlah orang yang bertanya kenapa saya memutuskan untuk menikah dengan suami. Saya sudah menjawab pertanyaan dari mereka yang sudah kenal lama dengan saya dan melalui tulisan ini, saya akan menjawab pertanyaan yang belum terucap atau tidak berani diucapkan.

Sepertinya sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan mengherankan melihat kami berdua menikah. Oke, memang kami memiliki perbedaan usia yang sangat jauh dan beberapa perbedaan lainnya — termasuk perbedaan tinggi badan, yang bisa membuat orang bertanya-tanya, tapi, apakah perbedaan-perbedaan itu yang membuat orang merasa punya hak untuk bertanya?

Mungkin yang paling merasa heran dengan pernikahan kami adalah teman-teman terdekat saya, mereka yang tahu jelas bahwa saya tidak pernah memimpikan pernikahan. Mimpi-mimpi saya biasanya mengenai kota New York atau Madrid, seniman atau musisi gondrong, brewok, dengan lengan penuh tato, dan majalah atau harian dengan nama terbesar di dunia.

Saya selalu tahu bahwa suatu hari saya akan menikah, tapi bukan prioritas utama, jadi menikah atau tidak bukan masalah. Ibu saya juga tidak pernah menuntut saya untuk menikah. Lalu lagi-lagi, pertanyaan mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah kembali beredar. Terus terang, saya dikelilingi oleh cerita-cerita horor mengenai pernikahan, dan itu juga yang membuat saya tidak terlalu memikirkan pernikahan. “Nyet, udah tau nikah tuh horor, ngapain lagi lo pake nikah?” iya, saya tahu banyak teman saya berpikir seperti itu, bahkan ibu saya juga mungkin berpikir seperti itu.

Lalu, kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah dengan suami? Tunggu dulu, mungkin ada satu pertanyaan lain yang harus dilontarkan sebelum akhirnya saya menjelaskan panjang lebar. Kemana mimpi-mimpi saya dulu itu? Masih di sini, beberapa sudah tercapai, dan beberapa sudah saya buang jauh-jauh.

Sore ini, di perjalanan pulang dari kantor, sebuah teks dari salah satu teman dekat saya masuk ke ponsel. “Eh kenapa sih lo dulu memutuskan nikah sama suami lo?” pertanyaan to the point dari teman saya yang baru merasakan nikmatnya seks, dan mungkin belum bisa membedakan yang mana berahi dan yang mana cinta.

Saya jawab pertanyaan dia seperti jawaban-jawaban saya sebelumnya, yaitu, karena saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa suami saya dan semua yang saya inginkan dari seorang pria ada di suami saya.

Hmmm.. Oke, itu jawaban pendeknya. Ini jawaban panjangnya.

Karena saya sudah pernah menjalani hampir segala jenis hubungan dan bertemu dengan hampir segala jenis pria, berada di hampir segala jenis kencan, dan menghancurkan hati saya melalui hampir segala jenis cara. Dan kini ada seorang pria yang, mungkin tidak sempurna, tapi semua yang saya inginkan di diri seorang pria ada di dia. Dan pria ini, selain mencintai saya, dia juga bisa membuat saya tertawa, bisa membuat saya menangis karena saking mengesalkannya dia, bisa membuat saya ternganga-nganga karena mengagumi kepintarannya, bisa membuat saya bertanya-tanya mengapa dia begitu mencintai tuhan, bisa terjaga semalaman hanya untuk melayani seribu pertanyaan dari saya mengenai semesta alam, dan tentunya bisa membuat saya mencapai satu level seks yang sebelumnya saya kira hanya mitos.

Ditambah, dia selalu mendukung karir saya, mau melayani argumen-argumen yang saya teriakkan, mengagumi pantat besar saya, mampu tidur sambil memeluk saya semalaman, bersedia saya ajak kencan di restauran mahal, dan yang paling penting, dia mampu membuat keluarga saya jatuh cinta padanya. Klise ya?

Usia kami berbeda 21 tahun dan salah satu teman saya pernah bertanya seperti ini, “Lo yakin mau nikah sama orang yang lebih tua 21 tahun? Berapa lama lo bisa sama dia?”, saya pun menjawab pertanyaan ini tanpa ragu, “I’d rather have only few years with him, than a lifetime without him.

Saya dan dia beda agama, dan semua orang bertanya-tanya mengapa saya tetap memutuskan menikah dengan dia meskipun beda agama. Jawaban saya untuk yang ini ya mudah saja, “Karena tidak ada satu hal pun yang bisa menghalangi saya untuk bisa bersama dia.”

Yah begitulah mengapa saya memutuskan untuk menyerah, menikah, dan membagi hidup dengan seorang suami. Setelah lebih dari enam bulan menikah, saya masih tidak menyesali keputusan tersebut dan untuk pertama kalinya dalam hidup 28 tahun saya ini, saya merasa akhirnya berada tepat di mana seharusnya.

Di rumah kayu di pedesaan Bali, dengan halaman rimbun yang sering menyimpan kejutan ular dan biawak. Bersama anjing-anjing hitam yang manja dan suami manja, narsis, juga menyebalkan yang hobinya protes, namun tidak bosan-bosannya saya bisikkan, “I’m so lucky to have you.