Sayembara Cerpen Fiksi Ilmiah Vol. 1
Bonni Rambatan
1821

TERJEBAK

Sudah sepuluh tahun kami tidak melihat matahari. Sudah selama itu kami hidup dalam keaadan kotor. Hidup di pipa pembuangan bawah tanah yang sudah tak terpakai di kota Jakarta. Memakan makanan seadanya yang tersisa ada di bawah tanah. Memakai pakaian bekas yang hanya diganti beberapa bulan sekali dan tentu saja kata membersihkan diri sangat asing terdengar.

Satu dekade yang lalu, terjadi ledakan nuklir terbesar di Asia Tenggara. Tentu saja, Indonesia juga menanggung akibatnya. Perintah terakhir dari pemerintah adalah untuk tetap berada dalam bawah tanah menunggu datangnya tim penyelamat. Tapi hingga saat ini, tidak ada seorangpun yang datang menyelamatkan kami.

Selama itu aku hidup dengan keadaan naas seperti ini. Dengan tiga orang lainnya aku berhasil bertahan hidup, menggenggam secercah harapan untuk diselamatkan. Aku sudah terbiasa hidup dalam kegelapan, kelaparan, dan sulitnya bernafas. Aku sudah lupa seperti apa rupaku sendiri. Mungkin karena radiasi, aku juga merasakan sesuatu yang ganjal dengan tubuhku. Tak lagi kupedulikan bagaimana nasib keluargaku dulu meskipun aku masih sering merindukan mereka.


Aku sering menghabiskan waktu di stasiun MRT. Dan baru kali ini, aku berpapasan dengan makhluk aneh. Aku segera berlindung di pos penjaga. Mereka mengerikan. Rupa tak berbentuk, mata menyala terang, dan tubuh yang kurus tinggi berlebih. Ketika mereka menyorotkan pandangan ke arahku, aku berlindung di balik dinding dan secara perlahan aku berlari ke tempat teman-temanku.

“Kalian tidak akan percaya ini.” Kataku. Akupun menceritakan semuanya kepada mereka. “Sebelumnya, tidak ada makhluk jelek itu di stasiun ini. Bagaimana jika mereka menemukan kita?”

“Tidak mungkin. Selama bertahun-tahun tidak ada yang datang menemukan kita.” Kata salah satu lelaki yang ada disitu.

Dari keempat orang yang ada di dalam pipa ini, hanya akulah anggota perempuan. Dhimas, dulunya dia adalah anggota mililer. Lalu ada Ezra, dengan berbasis pendidikan teknologi dia mencoba untuk merakit alat komunikasi agar dapat mencari pertolongan selama sepuluh tahun. Dan yang terakhir Garret, turis berkebangsaan Australia yang telah menghabiskan lima belas tahun dalam hidupnya tinggal di kota metropolitan.

Ezra menjelaskan bahwa dia telah berhasil untuk menggapai salah satu radio internasional, mereka telah melaporkan kejadian ini pada pihak militer. Akhirnya, kami akan diselamatkan.

“Tapi kita harus berada di area tertinggi untuk diselamatkan, itu kata mereka.” Kata Ezra

Makhluk buruk rupa itu kembali melintas dalam pikiranku. Kami sepakat akan keluar ke permukaan dan secepatnya mencapai titik tertinggi di Jakarta, yaitu Gedung Sahid Sudirman.

Kami menyiapkan beberapa alat yang ada, berbagai bekal telah kami masukkan ke dalam tas. Dan dalam hitungan menitpun kami sudah berdiri tegak siap untuk meninggalkan tempat kumuh ini.


Bersama-sama kami berjalan ke arah stasiun yang ada di bawah tanah itu. Garret mengecek toko-toko sekitar dan mengambil beberapa barang tambahan. Sementara Dhimas memastikan bahwa tidak ada makhluk selain kami yang berjalan di dalam stasiun.

Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di atas permukaan setelah sepuluh tahun. Terangnya sang Raja Siang di balik awan membuat seluruh tubuhku memanja. Rintik-rintik gerimis menyegarkan tubuh yang jarang tersentuh air bersih. Kulihat sosok diriku di jendela pertokoan. Kulitku sepucat mayat, rambutku yang tadinya hitam kini menjadi pirang, lalu mataku berubah menjadi ungu. Begitu pula dengan tiga temanku lainnya

Kami berjalan mengitari tugu Monumen Nasional untuk mencari tahu ke arah manakah gedung tertinggi itu. Sepertinya kami salah memperkirakan waktu, matahari mulai terbenam berganti dengan purnama yang melingkar sempurna. Hal itu mengharuskan kami untuk beristirahat di pelataran Monas. Sesaat sebelum kami mengistirahatkan mata, tiba-tiba saja sekelebat cahaya melesat dari area parkir. Aku tersentak saat salah satu dari mereka melihat ke arah kami. Dhimas menyuruh kami untuk masuk ke dalam dan mengunci kami di dalam ruangan sementara dia berniat untuk mengusir mereka seorang diri.

“Bodoh.” Kataku “Kau takkan selamat jika mereka mendapatkanmu.” Ku tarik dia ke dalam ruangan dan mengunci pintu berharap mereka tidak menemukan kami.

Terdengar geraman dari arah luar. Mereka mengendus-endus celah pintu juga mencakar-cakarnya. Lalu, mereka mulai saling mendengur satu sama lain. Mungkin itu cara mereka berkomunikasi dengan yang lainnya. Setelah itulah, tidak ada lagi suara yang terdengar dari luar. Saat kami yakib bahwa kami telah aman meskipun tidak sepenuhnya, kami pun terlelap.

Pagi tiba dan Garret menemukan bekas cakaran di lengan kanan dan gigitan di kaki kirinya. Kami semua panik, terutama Garret. Dan yang paling mengagetkan adalah Dhimas tidak ada disitu. Lelaki berumur awal tiga puluh itu tidak biasanya pergi tanpa memberitahu yang lain.

“Dasar bodoh. Kemana dia.” Kataku kesal

“Sudahlah. Mungkin dia pergi duluan, ayo susul dia.” Sahut Ezra menenangkan.

Kamipun berjalan ke arah Sahid Sudirman dan tidak mengulangi kesalahan, kami berjalan lebih cepat dari kemarin dan berharap sampai di gedung sebelum matahari terbenam dimana para makhluk aneh itu muncul.

Tepat ketika kami berjalan, di sebuah lingkaran taman ada sebuah benda menggantung. Oh tidak, jangan-jangan itu Dhimas. Kami menghampiri dengan rasa penasaran. Syukurlah, itu bukanlah Dhimas melainkan hanya sebuah parasut yang entah bagaimana caranya tersangkut disitu. Namun, ketika kami mengelilingi taman itu, kami menemukan Dhimas dengan tubuh terkoyak.

Ezra menggandeng tanganku dan menuntunku yang berjalan menyeret kaki. Garret terus menerus berkeringat dingin mengingat apa yang terjadi pada Dhimas. Kami akhirnya sampai di gedung Sahid Sudirman, gedung teringgi di ibukota Indonesia. Kami beristirahat sejenak di lobby gedung ketika matahari mulai membenamkan diri.

Garret jadi orang yang menutup mata pertama malam itu. Aku dan Ezra tetap terjaga untuk beberapa saat. Tiba-tiba saja Garret mengejang dan menggeram. Aku mundur beberapa langkah sementara Ezra mencoba membangunkan Garret. Saat Garret berdiri. Tingginya menjulang hingga melebihi dua meter. Matanya yang dibuka secara perlahan mengeluarkan sinar yang menyilaukan. Tulang dalam tubuhnya kini bergejolak. Membentuk gundukan-gundukan di bawah kulit yang membuat bentuk tubuhnya menjadi tak karuan.

Aku dan Ezra berlari terbirit-birit berusaha mencapai lantai teratas gedung. Kini tak hanya Garret yang sudah berubah menjadi makhluk aneh saja yang ada di situ. Banyak makhluk aneh lainnya yang mengejar kami. Aku mencoba melemparkan sesuatu yang bisa kugapai dengan harapan dapat menghambat mereka. Lalu, Ezra menarikku masuk ke dalam sebuah ruangan dan menahan pintunya. Aku meraih gagang sapu untuk mengunci pintu.

“Bagaimana ini?” Tanyaku dengan nada setengah panik.

“Kita harus tetap tenang.” Dia berkata sambil memalingkan muka mencari jalan keluar dari ruangan sempit ini. “Kita bisa coba keluar lewat sini.”

Dia menunjuk ke arah saluran udara yang berada di pojok atas ruangan. Tingginya melebihi tinggiku yang sudah ditambah oleh tubuh tinggi Ezra sehingga mustahil untuk dicapai. Tanpa basa-basi Ezra menggendongku dan menaikkanku di atas pundaknya. Aku dengan hati-hati membuka tutup dan masuk ke ventilasi tersebut.

“Bagainana caramu naik?” Tanyaku.

Dia menaikkan sebuah kursi di atas meja yang kemudia dia dorong sehingga tepat berada di bawah ventilasi. Dengan pelan-pelan dia menaiki meja dan kursi sampai pada akhirnya dia berhasil berada di dalam satu tempat bersamaku. Tak lama setelah itu, makhluk-makhluk aneh berhasil mendobrak pintu ruangan dan berhamburan masuk. Untung saja tutup ventilasi sudah ditutup oleh Ezra.

Aku memimpin jalan menggunakan insting. Lututku mulai lelah akibat merangkak terus menerus. Tiba-tiba saja, tepat ketika kami berjalan melewati pintu ventilasi yang ada di bawah kami, satu makhluk aneh itu membuka pintu dan berhasil melukai kami. Aku dan Ezra sama-sama mendapatkan luka cakar yang luar biasa sakitnya. Kami mempercepat rangkak kami. Karena ketidakwaspadaanku, kami terjatuh di sebuah pintu ventilasi. Kami lalu berjalan menuju tangga darurat untuk mencapai area rooftop gedung. Dengan langkah perlahan dan waspada, kami menyusuri tangga satu persatu. Sambil sesekali melihat ke bawah jika saja ada yang mengikuti.

Sepuluh lantai lagi. Rasa senang kami berubah menjadi takut sesaat salah satu pintu di lantai bawah kami terhantam membuka. Makhluk-makhluk aneh itu mengejar kami. Kamipun berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri. Namun, semakin lama semakin cepat mereka berlari. Mereka menggapai Ezra yang membuatnya terjatuh. Aku berusaha menolongnya. Kutarik dia semampuku hingga akhirnya dia mendorongku menjauh.

“PERGI! SELAMATKAN DIRIMU!”

Aku menangis dan meninggalkannya. Menaiki anak tangga satu persatu. Satu lantai lagi. Oh tidak. Lututku melemas dan salah satu kakiku terkilir. Makhluk-makhluk itu mendekat. Di saat aku berpikir tidak ada lagi harapan. Segerombol pasukan bermasker mendobrak pintu dan menembaki makhluk-makhluk aneh itu. Dua orang dari mereka lalu membopongku menaikki helikopter yang telah disiapkan.

Akhirnya. Selamat. Aku menceritakan semua tentang apa yang aku alami selama ini. Sambil terisak dan kelelahan, akupun akhirnya tidak sadarkan diri.


Aku terbangun di kembali ke tempat tanpa jendela. Seperti tempat tinggal kumuhku selama sepuluh tahun. Bedanya, ruangan ini alih-alih gelap dan pengap, sangat terang dan dingin. Banyak perabotan sehari-hari yang bisa digunakan. Aku melihat bayangan diriku di cermin almari. Tidak banyak yang berbeda dari terakhir kali aku berkaca.

“Halo?” Kataku

“Halo Thatya, kau ada di Pusat Medis Dunia. Perkenalkan aku adalah Yvonne, kepada medis di bagian radiasi.”

Dia terus saja mengucapkan kata-kata yang hanya melintas dalam pikiranku. Dia menceritakan aku telah tertidur semenjak aku tiba di sini. Dan mereka memeriksaku secara berkala. Mereka bilang aku baik baik saja untuk saat ini.

“Lalu, jika aku baik-baik saja, mengapa aku merasa terkurung seperti ini?” Tanyaku

“Untuk saat ini.” Sahutnya “Sudahkah kau melihat pergelanganan kakimu?”

Kata-kata itu langsung membuatku menengok ke arah pergelangan kaki. Kaki kanan. Tidak ada apa-apa. Dan saat aku melihat ke arah kaki kiriku, dunia serasa berhenti berputar. Sebuah gigitan dari makhluk aneh itu. Dan karena itulah aku akan berada terus disini. Kembali terjebak untuk bertahun-tahun selanjutnya.